Ada Hal yang Tidak Bisa Diceritakan Jakarta Kepada Penghuninya Sebelum Tidur

Saya membayangkan Jakarta sedang berusaha membisikkan kepada kita hal-hal yang berulang kali dilakukan orang lain sebelum tertidur dan ketika terbangun esok paginya, lalu kembali menjalankan hari seperti sedia kala. Namun sampai kapan? Jakarta tidak pernah memberi tahu kita akan hal itu.

Di Jakarta, ada pengemis yang cemas akan makan apa esok pagi. Tidak jauh dari sana, dalam mobil Avanza silver, ada lelaki separuh baya yang gundah, apakah sepulang dari kantor dapat bertemu anaknya sebelum ia tertidur, karena macet mengukungnya di sepanjang Jalan Raya Kebayoran. Di rumah yang lain, di komplek yang sama, pada depan laptop yang dibiarkan menyala sedari pagi hingga malam, ada yang berkucur keringat karena harap-harap cemas menanti pengumuman hasil ujian masuk kuliah. Beberapa menjalani kesehariannya tanpa beban dan risau. Lalu mereka semua, pada akhirnya, terlelap di kamar tidurnya yang hangat.

Dari parade kehidupan tadi, senang serta cemas yang sama kita rayakan, saya membayangkan Jakarta sedang berusaha membisikkan kepada kita hal-hal yang berulang kali dilakukan orang lain sebelum tertidur dan ketika terbangun esok paginya, lalu kembali menjalankan hari seperti sedia kala. Namun sampai kapan? Jakarta tidak pernah memberi tahu kita akan hal itu. Satu hal yang saya tahu pasti: bahwa kita, termasuk saya, bagaimana pun memilah cara untuk hidup dan cemas, tak akan pernah bisa mengatur bagaimana nanti mati. Oke, kita sepakat bahwa kematian itu pasti, tetapi bagaimana dengan makam yang akan kita diami?

Ternyata, dan sialnya, kekhawatiran warga Jakarta tidak berhenti di embusan napas terakhir. Ada hal lain yang masih berlanjut: pemakaman. Mari kita bayangkan, kecemasan tersebut lahir dari harga pemakaman yang mahal, ditambah minimnya lahan yang tersedia. Dua masalah dalam satu paket yang cukup membuat perut orang terbelit.

Saya meminjam ungkapan dari George Orwell dari salah satu judul esainya, “Bagaimana Si Miskin Mati?”. Sebelum berangkat ke sana, kita lihat dulu berapa harga pemakaman di Jakarta. Menurut Perda DKI Nomor 1 Tahun 2015 tentang Retribusi Daerah, pengurusan pemakaman di Jakarta maksimal dipatok harga Rp275 ribu, bahkan gratis. Angka itu meliputi biaya sewa lahan selama 3 tahun dari Rp0-100 ribu, sewa ambulans Rp100 ribu, dan biaya pemakaian peralatan perawatan jenazah Rp75 ribu. Atau lebih lengkapnya bisa dilihat di sini.

Oiya tapi begini, terkadang dalam hidup, apa yang tertulis tidak sebanding dengan kenyataan. Sama halnya di sini. Dalam sebuah liputan oleh Kumparan, beberapa pengurusan pemakaman dipatok hingga biaya 4 juta, ada lagi yang sampai 5 juta, lumayan jauh bukan? Sepertinya saya tak heran lagi dengan ungkapan—atau mungkin peringatan—yang berbunyi, “Jangan mati di kota besar.” Walaupun ungkapan tadi menurut saya kurang enak didengar.

Lantas, apakah makam yang pantas hanya bisa dimiliki orang kaya? Sebenarnya tidak juga. Di kota besar, Jakarta khususnya, terdapat bantuan dana yang disediakan pemerintah bagi warga yang tidak mampu. Walaupun tidak seratus persen gratis, setidaknya dapat meringankan beban orang-orang mati. Namun tentu saja lahan yang disediakan tak sebagus yang dimiliki oleh kalangan kelas atas. Dari lokasi hingga perawatan makam jelas berbeda. Rasa-rasanya meme yang menunjukkan bahwa orang kaya dan miskin bakal dikubur di tanah yang sama tidak berlaku di kota besar.

Saya teringat dalam satu adegan dari film Shoplifters karya sutradara kondang Kore-eda, ketika Si Nenek mati tepat di dalam rumah. Tidak seperti pada umumnya kita menghadapi kematian orang-orang terdekat, alih-alih berkabung, Osamu bertanya kepada istrinya dengan nada cemas,

“Bagaimana dengan pemakaman? Atau kremasi?”

“Kita tidak punya uang untuk itu,” jawab sang istri.

Ketika malam hari tiba, dengan payah mereka berdua menggali kuburan untuk si nenek di dalam rumah, tepat pada halaman belakang yang sempit dan muram. Ini merupakan gambaran yang sangat menyesakkan mengenai kondisi keluarga yang terpinggirkan. Di sini, mungkin Kore-eda sedang menjawab pertanyaan George Orwell tadi. Keluarga miskin dalam cengkeraman kota besar punya begitu banyak problem, dan pemakaman salah satunya.

Lalu, selain warga menengah ke bawah, apakah kekhawatiran seperti ini juga dirasakan oleh mereka yang memiliki cukup uang? Menurut saya jawabannya antara iya dan tidak. Tidak karena saya rasa uang bukan yang jadi masalah utama buat mereka, dan iya karena di kota-kota besar, lahan yang tersedia untuk menampung liang lahat sangat terbatas. Belum lagi fakta bahwa dalam sehari, setidaknya di Jakarta ada kurang lebih 100 jenazah dimakamkan. Sedangkan lahan yang siap pakai sekarang ada sekitar 38,3 Hektar dari 208,16 hektar yang belum siap pakai.

Sewaktu kecil, paklik saya yang datang jauh dari Jawa Timur pernah bilang di sela obrolan bersama Abah, “Jakarta sekarang sudah kesempitan, masa rumah sama rumah nempel.” Kata-kata itu dulu hanya terlewat remeh saja, tapi kalau dipikir-pikir sekarang, Jakarta memang demikian menyesakkan. Saya jadi teringat bagaimana dulu saat bocah, kuburan dekat rumah sudah menjadi tempat main layangan bagi anak-anak sekitar, karena memang hanya itu saja lahan kosong yang tersedia.

Tanah sekarang bukan hanya jadi rebutan bagi mereka yang hidup, tapi juga mereka yang mati. Lalu bagaimana solusi yang diambil orang-orang berduit? Di TPU, ada yang namanya makam fiktif. Dengan uang yang lebih, kita bisa dengan tenang memesan duluan “hunian” yang akan kita tempati. Kurang enak apa coba. Bagi “Si Miskin” ini merupakan hal yang mewah, dan tak tergapai. Di Jakarta, salah satu solusi yang diwacanakan adalah pengecekan ketersediaan lahan yang bisa diakses secara online di bawah kelola Dinas Kehutanan DKI Jakarta. Walaupun kenyataannya, ini tidak terlalu membantu.

Yang begini sudah cukup membuatmu risau? Tunggu, masih ada satu lagi. Terkadang di kota-kota besar, bukan hanya rumah warga pinggiran yang tergusur. Demi memenuhi “kebutuhan” infrastruktur, lahan pemakaman juga jadi korban. Diawali dengan dalih pembangunan jalan tol atau proyek-proyek pembangunan. Sementara itu, pemindahan lahan yang telah tergusur masih abu-abu.

Bertahun-tahun lalu—saya lupa kapan tepatnya—Abah membeli rumah sederhana dengan kebun belakang yang luas di Sentul, Bogor. Kami menjadikannya singgahan, tempat beristirahat bulanan, untuk sekadar berkumpul dan sejenak melepaskan penat dari keriuhan sesak kota. Kalau saya ingat lagi, rumah di Sentul tak bertahan lama, sebelum Abah menjualnya kembali. Walau sebentar, saya merasa betah dan nyaman di sana. Sedikit kenangan yang paling saya sukai, ketika Umi menyiapkan Energen vanilla kesukaan saya dulu di tengah kabut pagi, ditemani udara dingin Bogor yang begitu menenangkan, beserta satu set lengkap keluarga yang membicarakan hal-hal remeh bersama. Hingga muncul dalam benak saya dulu, kalau boleh, saya ingin kelak dikuburkan di tempat yang jauh dari suara knalpot motor dan derum mobil-mobil.

Sekarang saya bermimpi, ketika tutup umur nanti, tak masalah di lokasi mana pun saya dikubur, selama tempatnya mudah dijangkau oleh anak cucu saya. Dan juga, jika boleh saya berharap, agar kelak dikuburkan di samping orang-orang yang saya cintai, kurang lebih sampai jadi debu. Terdengar cukup membahagiakan bukan?

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *