Akhirnya Aku Mengerti Mengapa Hidup Diciptakan: Sehimpun Puisi Hanif Hidayatullah

Cuma ada masa lalu yang sekali waktu / datang, dan memintaku memilih. Meletakkan / jiwaku di antara keinginan dan keengganan kembali,

Akhirnya Aku Mengerti Mengapa Hidup Diciptakan

Hari-hari melebur habis diriku
setiap kali aku ingin mengumpulkan
gemburan tanahku sendiri, jari-jariku
mengubahnya menjadi lumpur,
rata dengan tanah, seperti tanah-tanah lain
yang bernasib sama sepertiku.

Akhirnya aku mengerti mengapa hidup diciptakan.

Tidak pernah ada tempat bernaung. Tidak ada.
Cuma ada masa lalu yang sekali waktu
datang, dan memintaku memilih. Meletakkan
jiwaku di antara keinginan dan keengganan kembali,
di antara perihal yang mungkin dan
tidak akan terjadi.

Kulihat diriku merengkuh ringkih tubuhku,
kulihat papa menanjak ke bawah kaki gunung,
mama tidak ada di ruang praktik, dia yang
mengangkat gunung itu, abang dan aku ada di
atasnya, semakin hari, tubuhku semakin retak,
kuterima semua seolah ada hari di mana
matahari terlihat, dan tumbuh tumbuhan di
tubuhku.

Tetouan, 2021

Bapak di Sudut Jalan

kemarin aku menemuinya lagi
aku berbicara dengan bapak
berbungkus jubah kuning kusang tepat
di sudut jalan, di bawah pohon maple,
sedang bersemadi tanpa membawa kitab suci
melipat bumi bagai karpet Turki
dia berada di jalannya
akan ditemaninya abad-abad orang
yang tuna adab, akan dihentikannya tahun-tahun
orang gumun menahun, demi menanti
kedatanganmu.

temui ia! ajaklah berbicara
tak perlu tahu siapa dia, entah wali
atau sufi yang bertengger di sana
jika kau temui orang lain
agaknya, kau telat atau memang waktumu tidak
berjalan beriringan denganku
kau mungkin tidak percaya, aku tidak mengaku-aku
bahwa dia sebenarnya
adalah orang yang kerap menyelinap ke dalam
bingkai foto yang sering kaupandang, kau
pajang di dinding kamarmu

Tetouan 2020

Aku Tenggelam

kau adalah angin yang memantul-mantul
aku adalah daun kering yang meliuk-liuk di atasnya
dan hewan yang melata yang terbawa
lenganmu meraup air yang tenang
menerangkan jariku yang menggapai-gapai
permukaan, kau berkata aku dungu, bukan,
silogisme berpikirmu yang salah, justru frasa
kalimatmu yang menyesatkan, aku diam.
kau mencuat dari kedalaman merayakan
kesakralan, disebarkannya kebahagiaan,
ditimbulkannya rayuan,
aku datang dari sudut jendela di lubang
kedua, di arah selatan pertigaan yang
memisahkan kumbang dan manusia, kau
memandang lalu berpaling, aku tenggelam
lalu bergeming

Tetouan, 2020

Sepertiga Malam

kau tersadar di sepertiga malam
saat manusia berbuat kelam
dan armada langit datang bertandang
kau lebih percaya untuk
tidak sembahyang malam, daripada
merusak skincare malam
kauambil secarik kertas, lalu
kautulis puisi-puisi malam
“aku pikir puisi dan skincare-ku cukup untuk
membuatnya menetap,” ujarmu
sementara di sisi malam liyan
ada yang doanya dijawab Tuhan
doa itu menikungmu di sepertiga malam
Tuhan memupukmu dengan kesepian,
amarah, dan melankolia,
kau takut akan kepergiannya
sementara pagi hari mengubah cuaca di luar
jendela, menjauhkanmu darinya,
hanya aku yang tersisa

Tetouan, 2020

Asap Cinta

dengan apa asap berharap pada anak
yang duduk di pinggir kiri paguyuban di
belakang rumah?
untuk apa angin menghantarkan asap terus
bengang-bengut pada hidung tak bersalah?
bagaimana cara setiap mulut yang menyesap
kenikmatan lalu mengembuskan penderitaan
pada nafas yang tertahan?

jika cinta adalah alasan, maka cintamu
membawa toksik pada hubungan
dan aku telah bergumul dengannya
sekian lama

Tetouan, 2020

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *