Aku Pikir Aku Tersesat, Rupanya Hanya Kau Saja yang Pergi

“Mungkin malam ini adalah waktu yang tepat untuk kita berpisah.” Kekasihmu mengatakannya dengan gemetar di depan pintu semalam.

Tepat jam 11 siang nanti, gempa waktu terjadi di kamarmu. Melipat semesta yang sudah terlanjur berantakan, membawamu kembali pada percakapan di balik pintu semalam. Mungkin ini adalah hal yang mustahil. Tapi percayalah padaku, terkadang waktu bergerak secara misterius. Tapi begini saja, coba bayangkan waktu adalah sebuah hamparan lempengan tanah yang terdiri atas beberapa lapisan, seperti yang kaupelajari ketika di bangku Sekolah Dasar. Lalu ketika sore nanti, lapisan waktu mengalami pergeseran pada lempengnya, dan membuat antar lapisan membentur satu sama lain dengan berkelanjutan. Tekanan yang dahsyat dari benturan tersebut menjadikan tertimbunnya semua kenangan yang kalian berdua simpan sejak lama. Hingga terjadilah gempa waktu. Tepat di kamarmu.

Harimu semakin semrawut sedari kejadian itu. Semua kenangan yang kalian berdua coba susun bersama menyisakan luka yang menganga. Pagi ini kauterbangun dengan sangat berantakkan oleh jam alarm yang tidak pernah kauatur ulang kembali. Mungkin kata bangun kurang tepat, karena sedari malam kau hanya meratap dengan pikiran melayang entah ke mana. Sembari menata kembali tempat tidurmu, kau terus-menerus tersedu-sedan. “Hampir lupa dengan kerjaan, jangan sampai terlambat,” pikirmu. Yah, walaupun dengan ada atau pun tidaknya dirimu, semua akan tetap berjalan seperti biasa, karena kau bukanlah siapa-siapa di kantor. Mungkin ada sedikit pertanyaan dari bos nantinya atas ketelatanmu. Tapi tidak perlu khawatir, karena dirimu adalah pegawai teladan, selalu tersenyum di hadapan rekan kerja, menuruti apa yang dikatakan atasan, tidak pernah membantah. Berlalu kaumenuju dapur. Selintas kaumelihat pintu depan yang masih terbuka seperti semalam. Persis seperti yang telah ditinggalkan kekasihmu. Lalu berpikir, mungkin untuk sarapan kali ini, dengan mie rebus dan telor yang kaubeli sejak seminggu lalu. Agar setidaknya kau tetap bertahan hidup hingga malam tiba. Tapi jam 11 siang nanti, gempa waktu akan terjadi di kamarmu.

“Mungkin sekarang adalah waktu yang tepat bagi kita untuk berhenti berpura-pura,” ucap kekasihmu terbata-bata setelah perdebatan hebat denganmu semalam.

“Tapi sejak kapan kita mulai sepakat untuk berpura-pura?” timpalmu dengan gegabah meminta penjelasan lebih lanjut.

Sebelum kautambahi, kekasihmu sudah pergi tanpa kata. Membiarkanmu membatu dan membawa segalanya pergi kecuali sebuah pertanyaan yang tak terjawab. “Tunggu, jangan pergi dulu!” katamu di hadapan pintu. Sungguh malam itu adalah malam yang paling jahanam sepanjang hidupmu. Semakin lama udara mulai mencekik dan keheningan kamar seakan memaksamu merintih. Namun kaumemilih untuk terdiam di balik pintu kamar dan tenggelam di dalam kegelapaan asing yang tak kaupahami. Dan malam, saat itu bagimu sudah mati. Meskipun kau sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya hilang. Tapi yang terpenting adalah, besok ada jadwal masuk kantor. Sebaiknya kautidur sekarang dan bersiap untuk hari esok.

Suara air mendidih dari panci membuatmu tersadar akan lamunan mengenai tadi malam. Kaumencoba menyusun kembali sadarmu. Namun, bagaimanapun juga, kau tidak bisa mengatur kapan ingatan sialan itu akan muncul. Sebelum memori itu kembali memenuhi alam sadarmu, kaumemecahkan telur terlebih dahulu, mulai merebusnya, dan dilanjutkan dengan memasukan mie hingga terlihat cukup matang. Tanpa memindahkannya ke dalam mangkuk, kau langsung saja menambah bumbu, dan segera siap disantap di kamarmu yang kecil. Di hadapan laptop yang kaubiarkan menyala entah dari kapan, kaumemilih untuk menonton serial drama favoritmu. “Masih ada sisa 2 episode,” pikirmu. Dan mungkin akan sekalian saja kautandaskan semuanya dalam sekali duduk. Sekalian menunggu waktu kerjamu mulai. Namun, ketika matahari pas berada di atas kepalamu, pada saat itulah gempa waktu terjadi di kamarmu.

Aku ingin membicarakan sesuatu malam ini. Ini penting. Itulah pesan yang tertulis dari kekasihmu di pagi buta Senin lalu, sesaat sebelum kauberanjak pergi menuju kantor. Lalu kaubuka dan lihat pesan dari kekasihmu itu. “Sial sudah terlambat,” kutukmu dengan kesal sambil melihat jam tangan, dan memilih untuk menunda membalas pesan itu. Hingga saat jam istirahat makan siang, kau baru saja teringat oleh pesan dari kekasihmu.

“Malam ini kemungkinan akan lembur, ada beberapa pekerjaan tambahan dari atasan yang mulai menumpuk. Aku tidak yakin ada waktu luang untuk kita bertemu. Kalaupun sempat, aku tidak tahu itu akan jam berapa, akan sangat larut pastinya,” jawabmu dengan hati-hati. Kautahu bahwa alasan lembur adalah omong kosong. Mana ada pekerjaan tambahan dari atasan. Namun mau bagaimana lagi, itulah alasan yang kerap kaulontarkan ketika kekasihmu ingin membahas hal serius seperti ini.

Jujurlah, kau saja yang malas untuk bertemu. Sudah hampir empat bulan kalian absen bertatap muka, meskipun jarak kosan kalian berdua tidak terlalu jauh, hanya berbeda daerah. Kantor adalah satu-satunya tempat yang menjadi tujuanmu. Kapan terakhir kali kalian bertemu untuk sekadar berbicara, saling bersenda gurau, saling mengolok betapa konyolnya pakaian masing-masing, bercerita hal-hal sederhana yang tidak penting, dan mempertanyakan segalanya seperti: jika kau akan dihukum mati dan ditawarkan untuk memilih seluruh makanan di bumi ini sebelum ajal menjemput, kau akan memilih apa? Atau bagaimana jika sebenarnya kita adalah makhluk luar angkasa yang menginvasi penduduk asli bumi? Atau apakah tanaman merasakan sakit ketika kita mencabut dedaunannya? Begitulah hal-hal sederhana yang sudah lama tidak kalian lakukan. Dan sekarang semua seakan-akan baik-baik saja. Yang tersisa dari kalian berdua hanyalah pesan basi yang tidak berujung.

“Tolong mengertilah, aku sangat membutuhkan ini. Kauboleh saja tak acuh, tapi tolong. 1 atau 2 jam saja kita bertemu. Ada yang ingin aku bicarakan,” pinta kekasihmu seketika saat pesanmu sudah terkirim. Sepertinya ini akan menjadi pembicaraan yang serius, dan kau pun baru mulai menaruh perhatian pada pesan tersebut.

“Oke. Nanti aku akan coba membicarakan pekerjaanku dengan bos. Selepas itu akan aku kabarkan lagi. Oke?” jawabmu mencoba menenangkan. Walaupun kautahu juga, pada akhirnya nanti, kau akan mengabarkan bahwa atasan tidak memberikan dispensasi seperti itu, dan kau akan terjebak semalaman di kantor, lalu kau akan memberi opsi besok malam untuk bertemu. Dan kekasihmu, seperti biasa, mengikuti saja. Mungkin memang sesekali kau sangat perlu untuk menunjukan kepedulianmu. Namun, bukankah selama ini hubungan kalian berdua baik-baik saja?

“Oke, aku akan menunggu kabarmu,” balas kekasihmu. Dan saat itu juga bel istirahat makan siang berdering.

Kau sama sekali tidak memperhatikan tontonanmu, sementara pikiranmu masih belum berlabuh. Dan sekarang, miemu sudah terlanjur dingin sebelum sempat kauhabiskan. Ah, apa hal yang lebih buruk selain mie rebus yang sudah tidak hangat? Ditinggalkan kekasih mungkin buruk, tapi itu lain hal. Kaukembali memperhatikan laptopmu. Karena merasa kurang mengikuti alur cerita, kauputar ulang kembali episode tadi. Lalu kaumulai menonton kembali dan memakan mie rebus dingin yang ada di hadapanmu.

“Mungkin malam ini adalah waktu yang tepat untuk kita berpisah.” Kekasihmu mengatakannya dengan gemetar di depan pintu semalam. Jika kaubayangkan secara sinematis, akan jadi seperti ini: kauberada dalam kamar, sedangkan kekasihmu di luarnya. Kalian berdua terpisahkan bagai monokrom dalam palet warna.

“Tunggu. Apa? Sebentar. Sini masuk dulu, kita bicarakan bersama, oke?”

“Oh oke. Baru sekarang kauingin berbicara. Tiga tahun. Tiga tahun kita menjalani hubungan ini bersama, dan baru sekarang kauingin kita serius membicarakannya.”

“Hey, itu bukan salahku juga. Aku rasa tidak ada yang salah dengan hubungan kita selama ini. Kamunya saja. Aku punya pekerjaan tetap. Segalanya tidak bisa seperti dulu. Ada rekan untuk diurusi dan atasan untuk dipatuhi.”

“Ya, dan ada kekasih untuk diperhatikan! Jujur, aku tidak terlalu ingin untuk diperhatikan, tapi ayolah, untuk meluangkan waktu bercerita kepadaku, saling bercanda dalam satu meja, itu saja kau tidak punya. Dan yang kaulakukan hanyalah mengirimkan pesan singkat, ‘Hey, bagaimana harimu? Sudah makan belum?’ Persetan! Kaupikir aku anak SD, hah? Kita sudah sama-sama dewasa. Kau sama sekali tak tahu, berapa banyak upayaku untuk mengembalikan hubungan kita kembali, sementara kauterus-menerus menjilat bokong atasanmu!”

“Hey! Pertama-” tunggu, jangan terburu-buru. Emosi hanya akan menyesatkan kata-katamu. Ambil napas dahulu, dan baru kaulanjutkan. Nah bagus, begitu, silakan teruskan. “Pesan singkat itu adalah bentuk perhatianku kepadamu. Masih mending kukirimi pesan. Dan yang kedua, mendekati atasan merupakan tuntutan pekerjaanku di sana. Jika bukan karena pekerjaan, tentu aku tidak akan seperti ini. Ada tagihan yang perlu aku bayar. Membali makanan, baju yang layak. Kita semua sudah dewasa!”

“Iya. Benar. Kita sudah dewasa. Tapi bukan berarti kauboleh berhenti mencintaiku.”

Lalu keheningan menyelimuti kalian berdua. Angin malam menambah ketegangan yang terjadi di kamarmu. Kekasihmu mulai menatap sekeliling kamar dan seisi kosanmu, memperhatikan dengan muka yang mulai padam. Atau mungkin sedih. Sulit untuk membacanya. Sedangkan kauberusaha menatap kekasihmu dalam-dalam. Memang bagimu sangat sulit untuk mencerna kejadian yang berlalu sangat cepat ini.

“Pekerjaan mematikanmu, sayangku. Aku kira dengan mencintaimu, setidaknya bisa membuatmu hidup. Aku tidak tahu apa ada cara lain. Mencintaimu adalah kesia-siaan. Yang ada aku yang mati. Dan aku terlalu bodoh sudah jatuh padamu. Kautahu, mungkin sekarang adalah waktu yang tepat bagi kita untuk berhenti berpura-pura.” Kekasihmu terisak. Menangis. Menangis sejadi-jadinya. Mungkin ini pertama kalinya kaumelihat ia menangis. Dan yang tadi adalah kalimat sebelum langkah kekasihmu bergegas keluar. “Mengapa kaumenangis?” dalam hatimu bertanya. Walaupun kau sendiri tidak yakin, saat itu, ada di mana sebenarnya hatimu terselip.

Ah, mungkin ini sudah waktunya. Pas sekali mie rebusmu sudah habis. Tontonanmu sudah selesai. Mandi. Gosok gigi. Rapikan rambut. Dan sekarang waktu yang ditunggu-tunggu. Ketika kau sedang bersiap-siap memakai celana bahan bewarna hitam dan kemeja biru muda kesukaanmu. Ruang seisi kamarmu mulai berdistorsi antara sore atau malam. Bahkan kau sendiri tidak yakin sedang berada di mana. Tidak perlu repot memikirkannya, yang terpenting kausiap untuk kerja lagi.

Lalu bayangan kejadian tadi malam kembali terulang, sama seperti saat kaumemencet tombol replay ketika menonton tadi. Tidak dikurangkan, tidak dilebihkan. Bagaimana kauberdiri dan bagaimana kekasihmu berdiri. Bagaimana kauterdiam dan bagaimana kekasihmu menangis. Bagaimana kaubungkam dan bagaimana kekasihmu pergi. Sama persis. Kau melihatnya sejenak. Namun tak perlu kaugubris lagi, toh ada pekerjaan hari ini. Kaulanjut memakai kaos kakimu, karena kau tahu, terakhir kali kau tidak memakai kaos kaki, membuat kakimu lecet, dan itu sangat menganggu pekerjaanmu. Dan sebaiknya, jika ada hal yang mengusik pekerjaanmu, cepat-cepat kaubereskan. Kau tidak ingin pekerjaanmu terganggu bukan? Semua sudah siap, dan sekarang tinggal berangkat ke kantor dengan motor supra butut, pemberian dari ayahmu, yang terparkir di halaman kosan. Oiya, dan jangan lupa pakai helmmu, agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.

Dalam perjalanan riuhnya ibu kota, kautersendat di tengah kemacetan Jalan Raya Palmerah menuju kantor, dipayungi kejamnya suhu jalanan. Asap knalpot, berisiknya suara mesin, dan debu jalanan memenuhi isi helmmu. Sejenak, tiba-tiba air matamu meleleh. Kaucepat-cepat membuka kaca helm untuk mengusap matamu. “Mungkin debu jalanan,” pikirmu. Namun air matamu jatuh lagi. Lalu kaumengusapnya lagi. Lalu jatuh lagi. Lalu kau usap lagi. Lalu jatuh lagi. Lalu kau usap lagi. Dan sekarang kaumenangis. Hatimu terasa sesak. Tanganmu bergetar. Tidak ada yang bisa kauhentikan. Lalu tanpa sadar, jalanan mulai melaju, dan kau harus ikut melaju juga. Isakan tangismu berbaur dengan suara klakson. Tidak ada yang mendengar tangisanmu. Tidak ada yang memahami air matamu. Tapi tidak apa-apa. Yang terpenting sekarang kau terus melaju, menuju kantormu, dengan air mata yang masih mengalir, tanpa kautahu sebabnya.

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *