Aku Sudah Tahu, Berpikir Optimis Bukanlah Gayaku

Mungkin berpikir optimis bukan karakter yang cocok untukku. Berpikir optimis tentang dunia ini adalah sebuah kesia-siaan. Dunia ini sudah salah sedari dulu dan manusia menanggung itu semua.

Kebahagiaan pada waktu muda adalah penyakit. Saat kau beranjak dewasa, menjadi tua, lalu menemukan penderitaan hidup, yang kau ingat adalah kebahagiaanmu waktu muda. Penyakit itu sangat sulit disembuhkan. Kenangan-kenangan indah akan terus muncul hingga pikiranmu dipenuhi bunga-bunga imajinasi, membuatmu tertidur pulas, bermimpi indah, tidak mau menerima kenyataan.

Aku membencinya.

Maka dari itu, aku tidak mencari-cari kebahagiaan di waktu mudaku ini. Aku menjalani kehidupanku seperti biasanya. Mengalir seperti air sungai, tidak punya obsesi, tidak punya keinginan. Orang-orang bilang bahwa aku tak punya kepribadian atau pendirian yang kuat. Mereka hanya tidak mengerti, yang begini juga merupakan prinsip hidup.

Di hari Minggu yang cerah, aku bersepeda mengelilingi kota Chiba. Kota Chiba tak sebesar Tokyo, tapi ia punya kafe yang bernama Tokyo Café, tempatku biasa menyendiri. Namun sekarang kafe itu sedang ramai. Mungkin mereka mengadakan diskon, maka dari itu orang-orang ke sana. Jika besok kafe itu masih ramai, aku tak akan ke sana lagi, mungkin.

Toko-toko berjejeran di samping kafe. Ada toko ramen yang masih berusaha buka padahal hari begitu panas. Ada juga konbini yang ramai oleh anak sekolah menengah atas sedang melihat-lihat majalah Shonen Jump. Ada juga bakeri yang sepi pengunjung dan membuatku memutuskan akan membeli beberapa kue dan roti untuk adikku di rumah.

Aku suka mengamati bagaimana sebuah komunitas besar bernama manusia bekerja. Berbagai wajah berjejalan menyesaki trotoar. Ada yang pura-pura bahagia berjalan bersama sang kekasih, walaupun mereka saling menyembunyikan kebohongan satu sama lain. Ada juga yang berwajah lelah dan tergesa-gesa, mungkin di hari libur ia masih saja dikejar pekerjaan. Kenapa orang-orang Jepang sangat suka sekali bekerja?

Lampu merah menyala lama sekali. Bunyi klakson bersahutan. Ingin kumaki-maki mereka yang berisik itu. Karena capek menunggu dan merasa terganggu oleh jalanan yang berisik, aku memutar balik sepedaku, mencari tempat persinggahan sejenak. Aku orang yang gampang sekali kelelahan. Bersepeda dengan jarak 1 kilometer saja sudah sangat jauh bagiku. Aku mengikuti perkataan Oreki Houtaro di Light Novel “Hyouka” yang kubaca baru-baru ini, “Aku tidak suka melakukan sesuatu. Jika aku terpaksa melakukannya, akan kulakukan dengan cepat.”

Kupikir prinsipnya cocok untukku. Aku tak suka berolahraga, tak suka berkumpul dengan banyak orang, dan tak suka menghabiskan tenagaku untuk hal-hal yang tidak berguna bagi hidupku. Jika disuruh memilih antara melakukan kegiatan fisik atau berpikir, aku lebih memilih berpikir. Walau kata medis kegiatan otak lebih menguras glukosa ketimbang kegiatan fisik.

Aku duduk di kursi panjang yang kosong sambil meminum kopi kalengan yang manis. Kurasa aku tersenyum aneh saat ini. Selagi aku menyesap kopi, seorang perempuan meminta duduk di sampingku. Aku hanya menganggukkan kepala dan kembali meminum kopiku yang hampir habis.

Aku terus memandangnya. Matanya mati, pandangannya kosong, dia bekali-kali menghela napas. Seakan tiap napas yang dikeluarkannya adalah masalah yang besar. Ingin kusapa ia, tapi itu akan menghancurkan prinsipku untuk tidak melakukan hal-hal yang tidak berguna. Dan menyapa orang asing yang tidak dikenal adalah sebuah kebodohan yang tidak ada gunanya sama sekali. Kau punya kemungkinan ditipu, dicopet, dihipnotis, dan tidak dipedulikan. Apalagi ia seorang perempuan. Melihat matanya itu, mungkin saja ia ditinggalkan oleh sang kekasih. Lalu ia keluar rumah, berharap dengan keluar rumah akan ada hal-hal menarik agar perhatiannya teralihkan. Memikirkan hal-hal pesimis seperti ini, suara Mayaka-sensei masuk ke telingaku,

“Haruki-kun, pemikiranmu tentang dunia ini sungguh pesimis sekali. Aku akan memberimu saran agar mati secepatnya.” Bagaimana bisa ia mengatakan hal seperti itu tanpa ada kesedihan di wajahnya?

Jika aku mati, aku akan memilih mati di pelukanmu, Sensei.

Dunia ini salah dan kita terpaksa menerimanya. Sebagai penggerak dunia, manusia menanggung itu semua beserta kesalahannya. Manusia selalu ingin menang sendiri. Mereka rela melakukan apapun demi sebuah kemenangan. Pada tahun 2020, ada yang bilang bahwa wabah penyakit yang menggemparkan dunia itu memang benar buatan Cina. Mereka sengaja membuatnya, menyebarkannya, hingga semua aspek di seluruh negara di dunia ini turun, lalu Cina keluar sebagai satu-satunya negara yang punya obat penangkal dan menjadi pahlawan. Mengerikan, bukan? Memikirkan ada yang membunuh puluhan-ratusan ribu orang demi sebuah kemenangan semu.

Aku mencoba untuk menerima saran dari Mayaka-sensei untuk mati. Dengan kata lain, mematikan karakter pesimis dalam diriku lalu menggantinya dengan karakter yang lebih optimis. Memikirkan hari ini.


Pada suatu Minggu yang cerah aku bersepeda mengelilingi kota. Orang-orang tampak menjalani hidup dengan sepenuh hati. Mereka yang masih bekerja di hari libur memikirkan kesenangan menghidupi keluarga di rumah. Ada sepasang kekasih sedang kencan, mungkin mereka akan pergi ke taman bermain, bermesraan di sebuah pantai hingga diakhiri dengan ciuman saat matahari terbenam, indahnya.

Aku beristirahat sejenak pada sebuah kursi di trotoar. Sambil meminum kopi hangat yang kubeli di mesin penjual minuman, seorang perempuan datang bertanya, “Bolehkah saya duduk di sini?” suaranya lembut sekali.

Aku hanya mengangguk karena sedang meminum kopi. Dia kemudian duduk di sebelahku. Aku memandangnya, ia mengenakan sweater putih yang dipadu dengan rok denim. Bibirnya merah muda. Wajahnya cantik. Dia terlihat lemah. Matanya kosong. Mungkinkah ia kesepian? Bagaimana mungkin perempuan secantik ini kesepian?

Aku menunggu. Membayangkan apa aku bisa mengangkat beban yang ada di matanya itu? Aku memikirkan sapaan yang bagus untuk menyapanya.

Hari minggu yang ramai, ya? Ah, tidak tidak. Bukankah setiap hari libur memang begini adanya.

Apakah kamu menunggu seseorang? Hmm, sebuah sapaan yang bagus sepertinya. Tapi bagaimana jika ia makin sedih karena tidak ada yang ia tunggu?

Mau kopi? Yang ini bodoh sekali Haruki! Itu kopi bekasmu. Bagaimana mungkin orang yang tak mengenalmu mau menyesap kopi bekas mulut busukmu itu?

Hai. Mungkin ini adalah sapaan paling normal. Lalu kita akan berakhir dalam sebuah percakapan antara seorang lelaki yang biasa saja dengan seorang perempuan asing yang begitu cantik. Aku tidak bisa menerka apa yang akan kita bicarakan nanti.

“Hai,” aku mengatakannya! Aku menyapanya!

“Huh? H-hai,” dia membalas sapaanku.

Lalu apa? Apa yang akan kubicarakan? Aku tidak terbiasa membuat topik pembicaraan. Aku berani taruhan, dia akan mencap diriku sebagai orang aneh. Arghh! Aku ingin mati saja, Tuhan!

“Maaf, hari ini agak ramai, ya?” dia tersenyum kepadaku lalu menanyakan hari ini. Kukira tidak ada orang sebodoh menanyakan hari libur yang ramai. Ternyata perempuan di sampingku ini menanyakannya. Aku tak berani memanggilnya bodoh. Aku hanya mengangguk. “Ya, begitulah.”

“Apakah kamu menunggu seseorang?”

Ah pertanyaan itu! Bagaimana mungkin seorang penyendiri sepertiku bisa menunggu seseorang. Jujur, pertanyaan itu menyakitkan bagiku.

“T-tidak. Aku hanya sedang beristirahat sebentar,” aku bisa melewatinya.

Akhirnya kami berbincang di kursi itu, saling menanyakan nama, bertukar nomor telepon, hingga hari semakin petang dan gelap, lalu kami pulang ke rumah masing-masing.

Perempuan itu mengirimiku pesan sesampainya di rumah. Aku senang sekali. Dia mengajakku keluar pekan depan. Kami akan bertemu di Tokyo Café, tempat favoritku.

Di pertemuan kami berikutnya, dia menceritakan tentang keluarga dan kuliahnya. Ternyata dia orang yang asyik diajak bicara. Suaranya yang lembut seperti menyihirmu ke dalam gua yang hanya berisi suaranya. Tak terasa aku sibuk memperhatikannya. Ia menyadarkanku dari lamunan. Aku malu sekali sedangkan dia tertawa keras.

“Sudah lama aku tidak tertawa seperti ini.” Tawanya perlahan menghilang.

Perempuan itu menceritakan tentang kekasihnya yang meninggalkannya. Bahwa dulu mereka berdua adalah pasangan yang serasi. Hingga pada saat hari pernikahan mereka, kekasihnya pergi. Sungguh menyakitkan, pikirku.

“Apakah aku bisa membahagiakanmu lagi seperti itu?”

Ia kaget mendengar aku mengatakan hal ini. Tidak lama kemudian, ada anggukan kecil darinya. Hatiku melonjak. Ingin aku berteriak pada seisi kafe bahwa aku akan membahagiakannya.

Akhirnya kami berkencan seperti pasangan-pasangan di luar sana. Mesra sekali. Kami pergi ke taman bermain, saling bertukar hadiah, saling merayakan ulang tahun masing-masing, dan berciuman di pantai saat matahari terbenam.

Tiga tahun kami menjalani hubungan ini. Aku sudah memiliki pekerjaan tetap. Aku melamarnya, ia setuju menjadi istirku, keluarga kami pun setuju. Pada musim semi nanti, kami akan menikah.


Hmm, memikirkan tentang hal-hal positif dalam hidup ini ternyata menyenangkan juga. Kau tidak akan susah dengan segala hal. Kau akan terus berpikir positif, sampai semua itu terjadi. Jika hal itu tidak terjadi, kau akan berpikiran bahwa akan ada pelajaran di balik semua itu. Mayaka-sensei, kamu mengerikan.

Setelah memikirkannya matang-matang, aku mencoba untuk menyapanya, “H-hai.”

Dia berdiri, memandang mobil merah yang ada di jalan. Kaca depan mobil merah itu terbuka. Ada perempuan berambut cokelat dengan kacamata hitam keluar dan berteriak.

“Rika! Hari Minggu yang ramai, bukan? Bagaimana kalau kita ikut meramaikan hari Minggu ini?”

“Kau lama sekali, Hatsumi-chan. Aku sudah menunggumu.” Dia berlari menuju mobil merah itu.

Perempuan itu tertawa keras bersama temannya seperti dalam imajinasiku. Mereka berbisik sambil memandangku. Perempuan itu menggelengkan kepalanya. Aku sedikit banyak paham apa yang mereka bicarakan. Mungkin terdengar seperti ini:

“Siapa itu? Pacarmu yang baru?”

“Bukan! Tidak tahu, aku tidak mengenalnya.”

Hei! Aku sudah menikahimu. Walau hanya dalam pikiranku, sih.

Deru mobil meninggalkan telingaku. Kopiku sudah habis. Lelahku pun sudah habis. Bagaimana mungkin perempuan yang matanya kosong beberapa menit tadi sudah tertawa bahagia bersama temannya? Mengerikan!

Mungkin berpikir optimis bukan karakter yang cocok untukku. Berpikir optimis tentang dunia ini adalah sebuah kesia-siaan. Dunia ini sudah salah sedari dulu dan manusia menanggung itu semua. Manusia ingin menang sendiri, mereka ingin terlihat bahagia, mereka ingin terlihat kuat, mereka ingin dipandang sebagaimana orang ingin memandangnya. Manusia makhluk yang mengerikan. Dan aku salah satu dari mereka.

Aku akan pulang, menonton drama yang belum sempat kutonton tadi malam. Hal seperti itu tidak melelahkan seperti berpikir positif tentang dunia ini. Aku mengambil sepedaku lalu berpikir tentang kue apa yang akan kubeli sewaktu pulang nanti. Tiba-tiba ponselku berbunyi. Ada panggilan dari Yui, adikku.

“Haruki-oniichan! Belikan aku es krim jika kamu pulang nanti. Yang rasa stroberi! S-T-R-O-B-E-R-I! Jangan belikan aku rasa vanilla seperti minggu lalu. Oke?”

“Iya iya. Lalu apa lagi?” aku menanyakan dengan setengah hati.

“Aku memesan keselamatanmu dan kebahagiaanmu selalu, Oniichan.”

“Iya, nanti aku akan memesannya pada Tuhan.”

Tetouan, Maret 2020

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *