Anak Kecil dalam Dirimu: Sehimpun Puisi Muhammad Husni

Setelah kau sober, semua yang khayal menjadi nyata, / berlari dan terus berlari dari skenario yang dibuat pengarang,

ANAK KECIL DALAM DIRIMU

Sebelum semua sejarawan melupa,
ada baiknya memoar ini ditulis,
senyum polos kertas putih,
jatuh ke daun yang sekarat membusuk,
mencari langit, melihat mimpi,
sastra masa kanak,
dunia menyiapkan obat tidur untukmu.

BERDAMAI DENGANMU

Ada langit malam Jakarta di tiap semesta aku;
gelap tanpa bintang, terkadang sesat seperti seorang anak tanpa ibu
─juga dingin yang kadang membuat beku ujung jarimu.

Matahari merah pagi seperti mereka tak’kan mau tahu;
orang-orang butuh lampu untuk sekadar menyeberang di pembuluhku
atau selimut untuk bumbu penyedap kala bercumbu rayu.

Ada langit malam Jakarta di tiap semesta aku;
mencekam dan memburu, memompa jantung jam yang kian menderu
dan tidaklah seorang selamat tanpa kena timpuk batu.

Pernah jingga sore datang melipir dari kerja buat bertamu padaku;
seakan kenal lama, dia mengobrol panjang tanpa benar bicara tentangku ─
lalu tak lama kuusir serta kumaki karena tak izin hisap sebatang cerutu.

**

Ada langit malam Jakarta di tiap semesta aku;
yang gelap, dingin, beku, mencekam dan memburu,
sungguh tak ku relakan sesiapa merenggut itu dariku.

Beginilah aku, alat dari kemajuan dan waktu,
─kini giliranku bertanya: jika pagi sudah jadi hangatmu,
lalu sore barangkali sudah banyak mengenalmu.

─siapa yang akan menyiapkan secangkir susu
tempat ibadah, dan sebuah lullaby untukmu?
kalau-kalau bukan aku yang selalu jujur dan biru.

INKODEPENDEN

Setelah kau sober, semua yang nyata menjadi khayalan,
lalu pemandangan yang kita lihat bersama usai diputar,
kamu menginginkan orang-orang suci memberi tahu akhir dunia,
seolah dirimu ingin memangkas benang merah takdir,
tidak lebih mengharap dosa yang lalu dibinasakan.

Ucapkan selamat jalan pada bisikan di sudut sana,
aku akan merindukanmu, aku akan merindukanmu,
langkah kakimu maju menuju dunia nyata yang pahit,
bayangan dari jiwa pecah akan lepas dari segala sesuatu,
bahkan skenario tak bernama yang masih menyisakan warna.

**

Setelah kau sober, semua yang khayal menjadi nyata,
berlari dan terus berlari dari skenario yang dibuat pengarang,
kamu menginginkan orang-orang suci memberi tahu awal dunia,
seolah dirimu ingin melihat bagaimana meledaknya bintang-bintang,
tidak lebih mengharap doa-doa dikabulkannya.

Ucapkan selamat jalan pada luka di ujung persimpangan,
aku akan merindukanmu, aku akan merindukanmu,
tersusun dan terurai dan aku dan kamu dan cahaya dan gelap,
mengejar dan mengejar, takdir ini adalah pilihanmu,
apakah kamu masih mencintaiku? dosa dan hukuman.

MENGINGAT MATI

Aku akan merindukanmu, dan telah aku rasakan;
pada ruas-ruas jalan yang pernah kita lalui,
yang kita janjikan; mustahil dengan orang kebanyakan,
di sela-sela kolong langit yang menyimpan anestesi.

Kelak kau takkan peduli meski itu bukan delusi,
dengan aku yang membakar umur dari kota ini,
sebab semua lalu, semua biru, semua beku,
meninggalkan sebaris luka dari hukuman dosaku.

Seperti petak umpet, di mana kita sembunyi,
akankah lebih indah untuk berjumpa lagi?
sebab hanya aku satu-satunya yang sendiri.

Itulah aku, satu-satunya yang bersembunyi,
yang tak dicari dan tak ingin kau temui,
di ruas jalan kota ini terdengar memento mori.

YANG TERTINGGAL DIPAKSA SIRNA

-Untuk Nyonya Tarigan

Ini malam terasa sendiri dan panjang,
telah kutelusuri tiap tepi gunung papir itu;
bukan berita kalau kau bukanlah biru di langit sana,
juga bukan bulan atau hujan di ekshibisi sajak pemuda gila,
pula malaikat yang hadir dari doa goresan tinta.

Depok yang dingin dan keji,
untuk siapa kiranya kubangun istana atap langit ini?
jika melukismu saja aku tak kuasa,
mengharap genggammu bukankah dosa bagiku?
ah, nyonya Nia, adakah Ilyas muda berhak mesra?

Sedang mengenalmu saja aku kalah,
telah kunubuat kau pada lembar sajak yang sirna dan menua,
lebih dekat, teriakkanlah ke telingaku, ayo nyonya;
“aku bukan biru, bulan, hujan, dan malaikat!”
ini  kali aku mencari dengan nyata.

**

Aku telah menemukanmu nyonya,
di balik tumpukan kata yang tertinggal,
dan kau adalah Mevrouw yang tak teraksarakan,
bila rasa adalah perdebatan Setan dan Tuhan,
pada doa serta harapan, sesuatu yang luhur kusisipkan,

Aku ingin mencintaimu lebih lama lagi.

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *