Angela Merkel: Pemimpin ideal pada masa krisis

Banyak pemimpin negara lain meremehkan kepemimpinan Merkel karena sangat pasif dalam mengambil keputusan, tapi semua tuduhan itu ia hempaskan kembali dengan aksinya melewati krisis beberapa tahun belakangan.

Putri sulung dari bapak seorang pendeta protestan bernama Horst Kasner, dan istrinya Herlind Jentzsch, yang merupakan guru bahasa Inggris dan Rusia, ini lahir pada 17 Juli 1954 di Hamburg, Jerman Barat, dengan nama Angela Dorothea Kasner. Beberapa minggu setelah lahir, Angela dan keluarga berpindah ke Templin, Jerman Timur, karena bapaknya mendapat panggilan untuk melayani gereja di Quitzow.

Angela kecil tumbuh dan belajar di sekolah dengan sikap pendiam dan tidak mau menarik perhatian banyak orang. Namun, bakat akan ilmu eksakta sudah terlihat jelas padanya saat itu. Guru matematikanya di sekolah dasar, Hans-Ulrich Besskow, secara khusus memberikan Angela uang sekolah untuk masuk olimpiade matematika. Tidak hanya ilmu eksak, ia juga cakap dalam bahasa, khususnya Inggris dan Rusia, mengingat ibunya adalah guru dari dua bahasa itu.

Ia kemudian melanjutkan studi di Universitas Leipzig, pada bidang fisika, dan mendapatkan gelar doktoralnya di bidang kimia kuantum, hal ini menjadi latar belakang yang sangat mempengaruhinya kemudian hari dalam mengambil keputusan saat menjadi kanselir Jerman.

Nama belakang “Merkel”nya didapat dari pernikahan pertama dengan seorang mahasiswa fisika Ulrich Merkel, yang hanya bertahan selama lima tahun. Dan Angela masih memepertahankan nama belakangnya itu, meskipun dia menikah lagi dengan seorang profesor kimia fisik dan teori yang bekerja di universitas Humboldt, Berlin, bernama Joachim Sauer. Sepertinya, Bu Angela ini masih memegang teguh prinsip “cinta pertama adalah cinta yang tak terlupakan”, saya pun sangat setuju akan hal itu Hah, gimana, cinta tanpa tahu rasa patah hati itu pasti beda rasanya kalau udah pernah mengalami patah hati. Memang bukan yang terbaik, tapi tidak terlupakan.

Terjunnya Merkel ke dunia politik

Merkel memulai karirnya di dunia politik saat pasca revolusi pada tahun 1989. Ia bergabung dengan aktivis kanan-tengah dari Partai Kebangkitan Demokratik. Setahun setelahnya, Merkel terpilih secara demokratis untuk pertama kalinya sebagai juru bicara untuk kabinet Jerman Timur. Di tahun yang sama, tepatnya setelah penyatuan kembali Jerman pada tahun 1990, ia memenangkan kursi Bundestag di negara bagian Mecklenburg-Vorpommern.

Setelah itu, pada tahun 1991, dia dengan cepat naik pangkat di partai. Merkel diangkat menjadi Menteri Perempuan dan Pemuda, lalu menjadi Menteri lingkungan pada tahun 1994 di bawah kanselir Helmut Kohl. Setelah Kohl dikalahkan pada tahun 1998, ia menjabat sebagai Sekretaris jenderal Partai Persatuan Demokrat Kristen (CDU), dan menjadi ketua partai perempuan, pertama kalinya setelah Wolfgang Schauble (Kanselir setelah Kohl) dipaksa turun karena terlibat skandal sumbangan. Dan setelah pemilu federal 2005, Merkel terpilih sebagai Kanselir Jerman perempuan pertama sekaligus pemimpin koalisi besar yang mencakup CDU, Persatuan Sosial Bayern (CSU), Partai Demokrat Sosial Jerman (SPD).

Jika kita lihat dari awal karirnya di dunia politik, Bu Merkel ini belum pernah mengalami konflik dalam hidupnya, rasanya seperti membeli nasi goreng tanpa ekstra pedas dan dibungkus dengan karet dua, alias biasa aja. Karirnya melejit begitu saja seakan tidak ada hal yang menghalanginya. Cerita Bu Merkel kalau diangkat dalam penulisan cerpen atau novel, pasti sudah ditolak mentah-mentah karena nihil dari konflik, klimaks, dan anti-klimaks. Saya ya pengen karirnya begitu, tapi apa ya nggak bosan sukses terus?

Saya berharap bisa membaca tulisan yang membahas Bu Merkel secara intim, lebih dekat ke kehidupan pribadinya, atau, jika memungkinkan, bisa membaca jurnal hariannya Bu Merkel sendiri. Saya penasaran, atas momen apa Bu Merkel akhirnya memutuskan terjun ke dunia politik, atau hobi apa yang ia lakukan di saat senggang atau akhir pekan. Namun, terlepas dari semua hal yang tidak saya tahu, saya bisa mengatakan, dengan arti yang paling meyakinkan, bahwa Bu Merkel adalah pemimpin perempuan yang paling ideal dan tak tergantikan untuk negara Jerman selama 15 tahun lamanya, dalam menangani berbagai krisis di Eropa, khususnya Jerman.

Jatuh bangun Merkel dalam menghadapi krisis

Angela Merkel bertahan di posisinya sebagai kanselir karena terpilih ulang sebanyak empat kali, dan selama masa jabatannya sebagai kanselir, ia berhasil melewati semua masa krisis terburuk di abad 21, sehingga ia dijuluki dengan “Das Mädchen” dan “die Mutti“, sosok ibu dan simbol stabilitas. Beberapa krisis itu seperti:

  1. Krisis nilai mata uang Euro di Yunani.

Ketika semua negara Uni Eropa mengalami resesi ekonomi pada tahun 2008, dan nilai mata uang Euro sangat jatuh, negara-negara Eropa yang miskin dan banyak hutang akan terkena dampaknya, seperti Yunani.

Saat itu Yunani memiliki beban utang yang sangat besar, mencapai 177 persen dari produk domestik bruto, dan membuat negara ini sulit mengumpulkan uang yang dibutuhkan untuk melakukan pembayaran utang.
Keputusan Yunani saat itu ialah melakukan negosiasi dengan Komisi Eropa, Bank Sentral Eropa, dan Dana Moneter Internasional terkait bantuan keuangan untuk mengatasi beban utang mereka. Ketiga lembaga ini dikenal dengan sebutan “troika”. Sejak 2010, Troika memberikan pinjaman kepada Yunani dengan syarat penaikan pajak dan pemotongan belanja.
Namun, Yunani tak juga mampu menyelamatkan kondisi finansialnya. Keadaan ini berujung pada kegagalan Yunani untuk membayar utang sebesar US$1,7 miliar kepada Dana Moneter Internasional, atau IMF, dengan tenggat waktu yang ditentukan, yaitu Selasa (30/6), menjadikan Yunani sebagai negara maju pertama yang gagal membayar utang dan hanya hidup dari uang pinjaman untuk sementara waktu.

Wacana Grexit, singkatan dari Greek Exit (Yunani Keluar), mulai tergaungkan pada 2012 dari berbagai negara Uni Eropa setelah itu. Negara-negara ini mengusulkan agar Yunani keluar dari persatuan Uni Eropa agar nilai Euro bisa kembali stabil. Namun, langkah yang diambil Merkel malah kebalikannya, ia justru mengambil langkah konsolidasi dan berhasil mengumpulkan dana talangan sebesar 25 milliar Euro sebagai pinjaman pada Yunani untuk melunasi hutang-hutangnya, dengan syarat Yunani harus mengurangi dana pensiun pejabat dan menaikkan pajak. Dan, benar saja, pada tahun 2015 nilai mata uang Euro kembali kuat dan stabil.

  • Krisis Pengungsi Afrika dan Timur Tengah.

Dijelaskan dalam European Stability Initiative (2017), data statistik menunjukkan bahwa hingga akhir tahun 2015 jumlah populasi penduduk yang melakukan perpindahan tempat, secara global, mencapai 65,3 juta jiwa. Mereka adalah pengungsi dari negara di Afrika dan Timur Tengah yang menjadi korban konflik dan perang di negara asalnya. Fenomena krisis pengungsi tahun 2015 menjadi yang terbesar dalam sejarah dunia setelah banyaknya korban akibat Perang Dunia II.

Negara Jerman menjadi negara yang paling banyak dijadikan tujuan bagi para pengungsi dan para pencari suaka, tercatat sebanyak 890.000 para pencari suaka mengajukan permintaan pada Jerman. Namun, dikutip dari Komisioner Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengungsi (UNHCR) dalam European Stability Initiative, saat itu Jerman hanya mampu menerima sebanyak 441.900 pengungsi saja, dan menjadi yang terbanyak menerima para pengungsi, bahkan melebihi setengah dari jumlah yang diterima negara-negara lain di Eropa seperti Amerika Serikat sebanyak 172.700 pengungsi, atau Swedia sebanyak 156.400 pengungsi.

Merkel mengatakan saat puncak krisis pengungsi 2015 dalam konferensi pers di Berlin “wir schaffen das” yang artinya, kita bisa melakukannya. Dia juga mengatakan “ada satu garis merah yang tidak dapat kita lewati, yaitu komitmen kepada hak asasi manusia, penghormatan martabat manusia. Tidak ada kompromi dalam hal itu”.

  • Krisis Wabah Covid-19.

Tahun 2020, wabah Covid-19 membuat dunia berantakan. Banyak pemimpin dan kepala negara yang meremehkan keganasan virus SARS-CoV-2 dan menyia-nyiakan waktu yang berharga untuk mencari solusi.

Sementara Trump sering berbohong menyebut Covid-19 sebagai tipuan baru dari demokrat, Bolsonaro mengganpnya “flu kecil”, Magufuli menyebut virus Corona sebagai “setan”, Boris Johnson ragu-ragu, Merkel pada sisi yang lain tetap tegap berdiri sebagai pemimpin krisis.

Merkel maju memerangi Covid-19, sambil menjalankan tugasnya sebagai seorang pemimpin krisis, mengatakan fakta yang sebenarnya. “Bahaya yang ditimbulan oleh Virus Corona sangat serius. Tanggapi dengan serius, karena situasinya serius,” kata Merkel.

Kunci Sukses Kepemimpian Merkel

Banyak pemimpin negara lain meremehkan kepemimpinan Merkel karena sangat pasif dalam mengambil keputusan, tapi semua tuduhan itu ia hempaskan kembali dengan aksinya melewati krisis beberapa tahun belakangan. “She was underestimated” kata Jacquiline Boysen, seorang penulis biografi Merkel, “Only one person really knew she would develop this aptitude, it was herself” tambah Boysen.

Angela Merkel adalah sosok pragmatis berkepala dingin dengan pemikiran ilmuwan analisis, dan telah mengembangkan gaya kepemimpinan yang pantas mendapatkan kata kerjanya sendiri dalam kamus bahasa slang dengan kata “Merkeln“, diartikan sebagai kata kerja yang memberikan definisi ‘tidak melakukan apapun’, ‘ragu-ragu’, ‘tidak membuat keputusan apapun’, dikarenakan waktu lama yang ia butuhkan dalam mengambil kebijakan, dan ini dibenarkan Merkel sendiri.

“Orang-orang menuduh saya tidak bertindak cukup cepat,” katanya dalam film dokumenter BBC, “bahwa aku terlalu membiarkan semuanya terlalu lama. Bagi saya, sangat penting sekali untuk mempertimbangkan semua opsi, menjalankan skenario, dan bukan hanya eksperimen kritis di kepala saya”. Hal ini ia lakukan demi mengumpulkan semua fakta dan data sebelum mengambil keputusan, seperti yang dilakukan oleh layaknya seorang saintis.

Penghujung Karir Merkel sebagai Kanselir

“Saya selalu ingin menjalankan peran pemerintah dan partai saya dengan bermartabat, dan suatu hari meninggalkan mereka dengan bermartabat. Sekarang saatnya membuka babak baru. Hari ini, di jam ini, di saat ini, saya diliputi oleh satu perasaan: Syukur. Ini merupakan kesenangan besar bagi saya, suatu kehormatan besar. Terima kasih banyak.”

Ini adalah kata-kata yang diucapkan oleh Merkel saat ia mengundurkan diri sebagai pemimpin CDU. Pidatonya pada Desember 2020 lalu itu disambut dengan tepuk tangan meriah yang berlangsung selama enam menit, mencuatnya plakat yang bertuliskan “Danke Chefin” (Terima kasih, bos) ke udara, serta haru tangis yang melengkapi suasana perpisahan.

Tentu ini menjadi momen pedih bagi partai, sebab kini tak hanya Jerman yang kebingungan mencari penggantinya, tapi juga Eropa, bahkan dunia juga khawatir tak menemukan lagi pemimpin berkarakter seperti Merkel. Ia tak hanya berhasil membawa “Negara Bir” tampil sebagai pemimpin di benua biru, tapi juga muncul sebagai salah satu pemimin paling sukses di dunia, khususnya dalam menangani beberapa masa krisis yang paling mencekam di abad ini. Dank je wel, Angela Merkel!

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *