Bagaimana Mengeja Duka

Kabar duka menyebar sangat cepat. Ia begitu ringan menyelip di antara udara yang kita hirup di keseharian kita.

Terkadang, hal-hal yang begitu dekat, sedekat nyaring alarm di samping tidurmu, dapat dengan mudahnya lindap, dan akhirnya menghilang. Tanpa sepengetahuan kita.

Banyak hal yang saya sadari di masa sulit ini. Salah satunya, yang saya temui di pagi ini: hidup sekarang tidak lebih dari perihal lompatan kecil sejarak tangan membentang dari satu berita duka ke berita duka lainnya. Dan jarak yang dekat itu sudah cukup membuat napas tersengal-sengal.

Pagi ini, ada hal yang berbeda ketika telponan rutin mingguan dengan bokap-nyokap. Di sela tentang saya melaporkan kegiatan saya sebagai seorang civitas academica, tentang menanyai bagaimana kabar orang tua, tentang Ibu yang menyamakan rambut saya dengan rambut orang Korea (Saya tidak tahu bagaimana Ibu saya dapat memiliki kesimpulan itu. Kalau Korea Utara, sih, mungkin), lalu, tanpa aba-aba, Ibu mengabarkan kalau Empok Mumu meninggal. Empok Mumu, yang saya kenal, adalah penjual gado-gado dekat rumah. Saya sendiri hanya sesekali membeli gado-gado di sana, namun hampir tiap hari saya biasa melewati rumahnya yang juga sekaligus dijadikan tempat berjualannya sambil melayani orang-orang yang saya kenali. Di tempat saya ekonomi berputar terbatas. Penjual dan pembeli, saya rasa tidak lebih dari transaksi antara tetangga atau kerabat yang memang tinggal berdekatan.

Lalu, seperti tabrakan beruntun yang menyusul dari satu ke yang lain, Bapak menyambung kalau Empok Fatimah, yang saya kenal gemar menyapa saya di ujung gang kecil menuju rumah Kai, juga meninggal dunia. Empok-empok tadi, adalah gambaran ibu-ibu Jakarta yang dapat kau temui di mana saja. Bertubuh gempal, suara nyaring di sore hari ketika memarahi anaknya, dan senyuman lebar yang sulit dilupa ketika kau berpapasan dengan mereka.

Akhirnya, Bapak memilih menjadi penutup atas percakapan tidak menyenangkan ini, “Di sekitar Assova banyak yang kena, Mas. Di sini keadaan udah gawat.” Assova adalah nama jalan, dan kadang dimaksudkan untuk RT sebelah. Jaraknya dekat saja, hanya membutuhkan 5 menit dari rumah orang tua saya. Sekarang, saya berharap agar 5 menit itu dapat diperlama setidaknya sampai 5 jam.

Selama tahun kemarin, saya sudah hilang hitungan tentang berita duka. Terlalu banyak macamnya, kelewat beragam bentuknya. Kali ini, tentang kabar kematian, terasa begitu ganjil. Membayangkan orang saya yang sering bertukar sapa, basa-basi yang tidak perlu antar tetangga, lalu mendengar kabar meninggalnya dari kejauhan, ia datang dalam wujudnya yang paling asing. Mungkin saja, memang begitu persamaannya: semakin kau dekat dengan orang tersebut maka, semakin asing berita duka itu terasa.

Bagi beberapa orang, kabar tentang kematian adalah hal yg menyebalkan untuk diterima. Lebih lagi jika itu datang dari orang yang kau kenal. Sialnya, adalah kita yang mencapai pada titik di mana tidak lagi dikagetkan dengan kabar kematian, lalu ucapan turut berduka dapat enteng terlempar.

Kabar duka menyebar sangat cepat. Ia begitu ringan menyelip di antara udara yang kita hirup di keseharian kita. Milan Kundera, dalam novelnya, menawarkan sebuah spekulasi bahwa persoalan yang dinilai ringan atau remeh, bersifat individual maupun kolektif, sebenarnya ia bisa jadi lebih mencemaskan. Jangan-jangan, yang membuat ia ringan adalah ia yang sudah menjadi tak tertahankan lagi, atau, dengan kata lain, ia telah menjadi upaya dalam menyambut apa yang tidak lagi sanggup diterima. Kabar kematian begitu remeh dikabarkan seakan ia sebatas perihal angka. Kecuali jika terselip di antara angka itu ada satu atau beberapa dari orang yang kau kenal, maka jawaban atas ringan atau berat sebaiknya bisa dimaknai kembali.

Tapi, di antara semua hal suram yang telah dibicarakan tadi, ada harapan-harapan kecil akan muncul dari tempat yang tidak mudah ditebak, walau itu sekadar dalam wujud doa. Dan, saya rasa, doa orang yang akrab dengan kematian adalah doa yang paling panjang.

Beruntungnya, kapan dan di mana maut itu hendak bertandang adalah hal yang masih belum diketahui. Ia masih disimpan rapat-rapat dalam bayang-bayang ketakutan. Selama itu belum diketahui, saya berdoa agar masih bisa mempercayai atas hal-hal kecil di sekitar; tentang keponakan saya yang sudah mulai bisa jalan; tentang buku yang asik betul yang saya baca; tentang kopi yang baru datang dari penjaga cafe; tentang nilai yang lolos dari remedial; tentang ihwal atau kabar menyenangkan, ia akan tetap ada, dan selalu bisa mengingatkan saya bahwa perasaan yang dapat membawamu kepada terang dan tenang di dada akan jauh lebih lapang ketimbang riuh-riuh yang membuat kekacauan di kepala saat ini. Ia akan lebih nyaring dari senyap yang diciptakan duka.

Selagi sempat, saya ingin menyayangi mereka, yang menyayangi saya dan yang tidak, sebagaimana jika rasa kasih adalah hal terakhir dan pertama yang bisa dilakukan kepada seseorang.

Dan dari keinginan-keinginan remeh ini, jika bisa, saya ingin dekap dengan erat-erat—selalu, Walau, saya tahu, kematian akan mencoba menarik-nariknya dari balik bayang—selalu.

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *