Berandal Tengil dan Bara Liar Eddy D. Iskandar

Selain alur cerita yang kompleks, membaca Berandal Tengil seperti halnya menyaksikan sisi gelap kehidupan yang bertabrakan dengan ketulusan cinta.

Baru kali ini saya membaca buku hingga rampung dalam sekali dudukan hanya dengan waktu dua jam. Dari jam sembilan hingga jam sebelas lebih sepuluh, sebuah rekor yang patut dirayakan bagi pembaca malas seperti saya. Setelah selesai langsung ke kamar mandi, cuci kaki, basuh muka, lalu tidur, sambil berpikir kok bisa membaca buku semenyenangkan ini?

Sekitar empat bulan yang lalu, saya kecantol dengan unggahan salah satu toko buku daring yang menjual buku kumpulan sajak Saut Situmorang dalam rentang waktu 1948-1988 yang berjudul Bunga di Atas Batu (Si Anak Hilang), langsung saja saya kirim pesan dan untungnya mendapat respon cepat dari pemilik lapak. Kami melakukan transaksi dengan bahagia, di akhir percakapan, saya kode masnya, “Jangan lupa bonusnya ya mas,” Dia menjawab ringan, “Oke beres, dijamin menyenangkan.”

Setelah paket datang ke rumah, ibu mengirim pesan mengabarkan buku-buku sudah tiba. Tapi apa daya, saya berada di tempat yang jauh. Rasa penasaran saya terbalas saat ibu mengirim foto dari paket tersebut dan ternyata buku bonus yang diberikan oleh mas admin adalah novelet lawas karangan Eddy D. Iskandar yang berjudul Berandal Tengik. Inilah perkenalan pertama saya dengan karya novelis pop remaja dan sutradara ternama tanah air ini. Sebuah perkenalan yang telat, tapi tetap harus disyukuri.

Eddy D Iskandar dan Geliat Sastra Populer

Pada kisaran tahun 60-70an terdapat banyak sekali penulis dan sastrawan muda yang sedang naik daun. Salah satunya penulis asal Bandung kelahiran tahun 1951 ini. Nama Eddy D Iskandar menjadi terkenal karena konsistensinya menulis novel dan prosa dengan genre sastra populer yang digemari para remaja kala itu. Dengan plot ringan dan porsi dialog yang lebih banyak dari pada narasi alur cerita, ditambah gaya bahasa kekinian membawa para pembaca kepada kehidupan sehari-hari yang bersinggungan dengan modernitas dan gempuran budaya barat.

Dalam buku Pengantar Sejarah Satra Indonesia, Yudiono KS menyebut bahwa sekitaran tahun 80-90an terjadi perkembangan pesat pada geliat sastra populer yang diwakili oleh semakin maraknya penulis dan sastrawan yang menulis dalam tema ini. Ditandai dengan dua gejala: berlimpahnya karya sastra populer yang terbit dan munculnya gelombang penulis perempuan dalam jumlah besar.

Redyanto Noor dalam Perempuan Idaman Novel Indonesia (1999:185) mencatat bahwa ada lebih dari 500 judul novel poluler yang terbit pada masa itu. Para penulis produktif tersebut di antaranya, Fredie S, dengan jumlah fantastik 116 buah karya, disusul Maria Franciska dengan 65 karya, dan Maria A. Sardjono dengan 50 karya. Sementara Eddy D. Iskandar menghasilkan 12 buah karya, dan masih banyak penulis lain. Inilah data yang tercatat dalam perjalanan sastra poluler bangsa Indonesia.

Selain bergulat dalam dunia tulis menulis, nama Eddy D Iskandar juga masuk dalam jajaran sutradara dan sineas ternama Indonesia. Ini terbukti dengan berbagai naskah karangannya yang telah diangkat menjadi film layar lebar, seperti novel Semau Gue (1977), Gita Cinta di SMA (1979), dan Roman Picisan (1980). Tentunya sekuel film Si Kabayan tidak bisa terlepas dari nama besar dan tangan dinginnya.

Sosok Eddy D. merupakan pribadi yang mencintai tanah kelahirannya. Gairah yang besar untuk menggali kesusastraan Sunda memotivasi dirinya menulis cerpen, prosa, dan novel berbahasa Sunda. Hal ini diabadikan oleh kritikus sastra kebanggaan Indonesia Ajip Rosyidi dalam bukunya Mengenang Hidup Orang Lain: Sejumlah Obituari (2010: 148) ketika ia menuliskan kisah hidup kawan baiknya, Rustandi Kartakusumah,

“Dia pernah duduk sebagai redaktur majalah Gondewa dan memuat karangan-karangannya di sana di samping membimbing bakat-bakat muda seperti Eddy D. Iskandar, Holisoh ME, Jati Marjati Wihardja, Rukmana HS dll yang kemudian banyak sumbangannya terhadap kesusasteraan Sunda melainkan juga terhadap kesusasteraan Indonesia karena ada di antaranya yang menulis dalam bahasa Indonesia seperti Eddy D. Iskandar dan Jati Marjati Wihardja.”

Setelah menunggu selama empat bulan lebih, buku itu benar-benar sampai di tangan saya. Hal pertama yang saya lakukan adalah mencium aroma kertas sembari membolak-balikkan halaman demi halaman. Tak lama setelah itu kututup dan kubiarkan tergeletak di atas meja kecil sembari menunggu waktu yang tepat untuk dinikmati. Begitulah ritual aneh yang saya lakukan terhadap buku-buku lawas.

Sebelum masuk keisi buku, saya ingin mengomentari sampulnya. Muncul pertanyaan, kenapa kebanyakan sampul dari novel-novel lawas bergenre populer mempunyai sampul dengan warna ngejreng dan gambar lukisan perempuan yang aduhai disertai kekuatan erotisme yang kuat? Apakah cuma saya yang merasakan hal ini. Atau anda juga merasakannya. Tapi apa pun itu, saya selalu suka dengan sampul buku-buku lama. Entahlah, suka saja, simpel dan memantulkan apa isi buku. Seperti halnya stensilan-stensilan Enny Arrow sampai Freddy S yang berserak di tumpukan koran-koran bekas, dan di selempitan rak TTS di Pasar Blauran atau Jalan Semarang.

Dari segi judul, Eddy D. memang telah menjawab akan bagaimana isi bukunya. Berandal Tengil yang dimaksud adalah Samsir Lukadi Dada yang akrab dipanggil Sam. Seorang murid berandal pindahan dari SMA 20005 yang kena dropout dari sekolahnya. Dengan hobinya nguber cewek dan tampang urakan membuatnya langsung jadi pusat perhatian dan kebencian di kalangan teman sekelasnya.

Sam merupakan representatif dari anak orang kaya yang tidak mau diatur, urakan, dan belagu. Namun uniknya, hanya di hadapan Ika ia mampu bertekuk lutut. Kisah perjuangan Sam mendapatkan Ika ternyata tak semudah membalikkkan telapak tangan, ia punya saingan berat bernama Pitra, kelas 2 Sosial. Hingga akhirnya Sam melakukan hal-hal bodoh untuk menandingi Pitra dan merebut Ika dalam genggamannya.

Ika adalah gadis berprestasi kebanggaan kelasnya. Berparas ayu dan kalem. Siapa saja yang melihatnya pasti tertarik. Sosok yang teguh dan memiliki karakter yang kuat, sebagaimana perempuan harus bersikap di hadapan lelaki. Ia menolak segala bujuk rayu dan hadiah mahal dari Sam hanya karena ia tidak mau balas budi pada akhirnya.

Selain alur cerita yang kompleks, membaca Berandal Tengil seperti halnya menyaksikan sisi gelap kehidupan yang bertabrakan dengan ketulusan cinta. Kenakalan remaja yang terjadi di lingkungan sekolah berakar dari permasalahan yang terjadi di rumah. Kondisi keluarga Sam yang bapaknya selingkuh, ibunya jarang pulang sebab bisnis di Singapura membuatnya seperti tidak menemukan tempat pulang yang sesungguhnya untuk sekadar berkeluh kesah.

Sejenak membaca Berandal Tengil saya teringat dengan novel Tak Sempurna milik Fahd Djibran tentang kenakalan anak SMA yang mulai nyabu hingga tawuran antar sekolah. Banyak korban berjatuhan. Pertanyaannya, seberapa besar pengaruh sekolah dalam mendidik muridnya? Apakah sudah lupa bahwa tugas guru selain mengajar adalah mendidik dan memberi tauladan dengan menyentuh hati mereka, bukan malah bersikap tak acuh dan hanya menunggu kapan gajian turun?

Berbeda dengan Fahd Djibran, Eddy D. lebih dahulu menelusuri kehidupan remaja di sekolah dari segi kegiatan seksualitas yang terjadi di antara mereka. Dengan bahasa yang cukup liar, Eddy berani menggunakan kata-kata yang vulgar agar pembaca mengambil pesan bahwa begitulah realita sebenarnya. Seperti hendak mengatakan, “Jangan ditutup-tutupi, kalian semua harus tahu!” Budaya premanisme di kalangan pelajar juga tersorot dengan tajam, bagaimana dan mengapa seorang remaja bisa melakukan tindak kriminal, semuanya terkumpul dalam narasi panjang Berandal Tengik dan keliaran Sam dalam memadu asmara.

HB Jassin pernah memuji sekaligus mengkritik kelugasan dan kevulgaran bahasa yang digunakan oleh Eddy D. di Harian Kompas pada 6 Febuari 1977, “Bahasanya lucu, humoris tapi sekaligus kelewat jalur.”

Novel ini diterbitkan oleh penerbit Gultom Agency Jakarta pada Januri 1987 dan berupa cetakan kedua. Pada penutup cerita, terdapat titimangsa, Bandung, Juni-Juli 1978. Jadi novel ini ditulis 41 tahun yang lalu dan buku yang saat ini kupegang berusia 32 tahun.

Semoga suatu saat bisa bersua dengan Pak Eddy D. Iskandar dan menghabiskan malam yang semakin keparat dengan bercangkir-cangkir kopi. Sehat-sehat Pak, tunggu saya membawa semangat Sam yang liar ini. Jangan pernah redupkan bara liar dalam dada dan pikiranmu!

Jamarat, 15 Agustus 2019

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *