Bibliosida: Penghapusan Ingatan dan Penyucian Moral

Dengan demikian bila perpustakaan dihancurkan, maka secara tidak langsung menjadi upaya untuk menghapus identitas atau ingatan penduduk suatu bangsa.

“Buku adalah pistol siap tembak di rumah sebelah. Bakarlah. Cabut peluru dari senapannya. Terabas pikiran orang,” tulis sastrawan asal Amerika Serikat, Ray Bradbury dalam bukunya Fahrenheit 451 (1953). Kutipan di atas bisa jadi petunjuk adanya tindakan bibliosida – istilah yang dipakai untuk aksi penghancuran buku – yang terjadi di masa lalu.

Dengan berbagai alasan, mulai dari siasat untuk mengekspansi suatu wilayah hingga moralitas, buku-buku dibakar dan dihancurkan. Perpustakaan Bagdad hancur lebur karena serangan pasukan Mongol yang dipimpin Hulagu Khan tahun 1258 menjadi contoh nyata adanya tindakan bibliosida dengan tujuan untuk menguasai suatu wilayah.

Buku-buku yang tersimpan di Perpustakaan Bagdad, dilempar ke Sungai Tigris hingga sungai tersebut menghitam karena lunturnya tinta buku yang kemudian bercampur darah hasil dari peperangan yang terjadi. Pakar perbukuan dan perpustakaan asal Venezuela, Fernando Baez dalam bukunya, Penghancuran Buku Dari Masa ke Masa, menilai, “Inilah aksi penghancuran yang direncanakan matang dengan maksud menghancurkan kebanggaan intelektual rakyat Bagdad.”

Lanjutnya, penghancuran buku dengan dalih ekspansi wilayah oleh suatu bangsa ke bangsa lain merupakan bentuk pemusnahan terhadap ingatan. Baez mengatakan, “Bahwa buku dihancurkan bukan sebagai objek fisik, melainkan sebagai tautan ingatan, artinya sebagai salah satu poros identitas seorang manusia atau suatu masyarakat.”

Dengan demikian bila perpustakaan dihancurkan, maka secara tidak langsung menjadi upaya untuk menghapus identitas atau ingatan penduduk suatu bangsa. Terlebih lagi perpustakaan dipandang sebagai “kuil ingatan”. Dampaknya jelas, mereka tidak tahu asal-usul bangsanya sendiri sehingga bangsa asing yang menjajahnya leluasa membentuk ulang identitasnya. Akhirnya mereka kehilangan jati diri.

Alasan moralitas juga memicu adanya tindakan bibliosida. Tampaknya Anthony Comstock yang lahir pada 7 Maret 1844 di New Canaan, Connecticut, Amerika Serikat menjadi contoh yang tepat. Selama 40 tahun dia ditakuti sebagai inkuisitor modern – sebuah jabatan organisasi yang tugasnya menumpas bidah dan hal lainnya yang bertentangan dengan doktrin atau ajaran iman Katolik. Menurut Baez, namanya hingga kini dikenang sebagai orang yang paling banyak menghancurkan buku dalam sejarah Amerika Serikat.

Semua berawal dari Comstock yang ikut bertempur dalam Perang Saudara AS. Ia memihak ke sisi pemerintah. Baez menduga bahwa keikutsertaan Comstock dalam perang turut memengaruhi pola pikirnya di masa mendatang. Pada tahun 1872, Comstock bekerja di Asosiasi Pemuda Kristen. Kemudian membaca Alkitab dengan semangat mencekam teman-temannya. Persis seperti kisah Petualangan Don Quixote karya penulis asal Spanyol, Miguel de Cervantes yang karena terlalu banyak baca buku tentang perang membuat Don Quixote menjadi hidup dalam khayalan sebagai seorang kesatria tua “pembela kebenaran, pembasmi kejahatan”,  Comstock menilai bahwa iblis telah mengendalikan banyak penulis, dan misinya di muka bumi adalah untuk mengakhiri kekufuran tersebut. Tak ada yang bisa menghentikannya dalam kampanye moralnya itu.

Pada 1873 Comstock mendirikan New York Society for the Supression of Vice dan berhasil mendesak Kongres untuk mengesahkan seperangkat aturan yang disebut Undang-Undang (UU) Comstock. Undang-undang itu dapat memidanakan pengiriman teks apa pun yang dianggap tak berakhlak. Geliat Comstock berlanjut dengan melakukan penyensoran ribuan buku dan majalah.

Anehnya, ia sendiri yang menentukan apakah buku atau majalah itu melenceng dari moralitas atau tidak — caranya hanya dengan sekali lihat. Karena ulah Comstock lah, sekitar 120 ton buku, pamflet, dan majalah dibakar di muka umum. Secara khusus dia membenci tulisan novelis Irlandia, George Bernard Shaw. Sebagai balasannya, Shaw menciptakan istilah “comstockery” yang merujuk pada “sensor moral yang kelewatan.” Comstock pun meninggal pada 21 September 1915 di usia 71 tahun. Menurut Baez, Comstock dikabarkan bangga melihat jumlah penulis – lebih dari selusin – yang ia dorong hingga bunuh diri sepanjang kariernya.

Mengenai bibliosida dengan dalih moralitas, dalam draf materi  “Librisida: Pemurnian Masyarakat dan Demokrasi yang Cacat” (2010) karya sosiolog sekaligus aktivis Hak Asasi Manusia asal Indonesia, Robertus Robet, menjelaskan bahwa bibliosida yang didasarkan atas moralitas tergolong pada biblioklasisme modern.  Istilah biblioklasisme merujuk pada apa yang disebut oleh Rebecca Knuth, penulis buku Libricide (2003) dengan praktik penghancuran atau pelarangan buku yang didasarkan atas sebuah argumen penilaian moral dari otoritas moral tertentu.

Istilah ini pertama kali muncul tahun 1864 dalam sebuah buku tentang teori agama. Ia digunakan oleh imam Katolik untuk menyebut dan melawan praktik pembakaran manuskrip suku Aztec dan Maya oleh seorang uskup pada masa penjajahan Spanyol. Praktik semacam ini menjadi peletak dasar diberlakukannya pelarangan buku oleh pemerintah di negara-negara Barat dan negara lainnya.

Momen semacam ini pada akhirnya dimanfaatkan oleh pemerintah sebagai bagian dari agenda politik mereka. Buku-buku yang dinilai menyimpang dari standar moral yang ada akan dihancurkan atau dibakar. Setidaknya dalam praktik masa kini, dibatasi peredarannya atau pun disita oleh aparat negara.

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *