Casse-croûte dan Jamuan Makan Malam Orang Pinggiran

Orang-orang terus diperbudak oleh otoritas, sambil dijanjikan stabilitas ekonomi dan keamanan oleh penjahat yang disangka pahlawan.

Seharusnya saya berada di Sahara minggu lalu, naik unta, selonjoran di padang pasir, mengikat kepala dengan kain beraksen warna hitam di ujung-ujungnya, menghitung gemintang yang tumpah ruah di langit malam, ditemani api unggun dan suaranya yang melahap kayu bakar jadi abu, dan mengabadikan segala perjalanan itu dengan kamera hp saya yang mungil.

Mungkin sambil membayangkan suara Anggun melantunkan Snow on The Sahara dan tubuhnya meliuk-liuk seperti ular cobra, atau Sting mendaraskan tembang Desert Rose bersama Cheb Mami.

Namun tidak, saya tidak ke Sahara minggu lalu. Alih-alih berlibur ke Sahara, saya mengiakan ajakan teman Maroko untuk bertamu ke rumahnya, di pelosok desa Hajeb. Sebab biaya ke Sahara tiga hari dua malam akan mencelakai dompet saya.

Tak sulit pergi ke Hajeb, tinggal mengambil bus jurusan Casablanca-Rachidia, dan turun di tengah-tengah perjalanan, tepat sebelum bus terlanjur masuk ke kota Ifrane. Ifrane dan Hajeb boleh berdekatan, seperti Jakarta-Bekasi atau Malang-Batu, tapi Ifrane adalah kota elite dan Hajeb adalah sesuatu yang lain.

Ifrane sengaja dibangun pemerintah kolonial Prancis pada 1929 sebagai hill station, tempat singgah keluarga mereka saat musim panas datang dan angin mulai menghangat. Kawasan itu dibangun sedemikian rupa supaya mereka betah tinggal di sana, dengan bangunan-bangunan bergaya Alpen, dan taman kota yang indah.

Sedangkan penduduk Maroko membangun perkampungan kumuh di dekatnya, dengan rumah-rumah beratap seng, dan dingin yang menjalar di dinding-dinding papan atau batu, sebelum merasuk ke tulang pada musim bersalju. Di sanalah penduduk Maroko tinggal untuk melayani pendatang dari Prancis di rumah-rumah yang megah.

Hajeb mungkin pernah jadi bagian dari proyek hill station itu, sebab bangunan-bangunan di pinggiran jalan utamanya serupa dengan yang ada di Ifrane, dengan atap-atap segitiga runcing yang menjulang dan mencuram dari pucuknya. Kalau benar demikian, mungkin perkampungan yang agak masuk ke dalam Hajeb adalah sisa-sisa dari ketimpangan sosial di masa silam, dan di sanalah teman saya, Mohammed, tinggal.

Saya dijemput Mohammed di bundaran dekat terminal taksi, dari sana kami berjalan sekitar setengah mil untuk sampai ke rumahnya, hingga Mohammed berhenti di sebuah bangunan tiga lantai yang berdempetan dengan bangunan lain di kanan-kirinya.

Pintu depannya terbuka, dan tangga terjal langsung menyambut kami. Saya mengekor Mohammed naik, hingga lewat lantai dua dan tiga, ia terus menjelajah ke atas, dan sampailah kami di jemuran. Ternyata ada rumah di atas sini, saya membatin. Mohammed masuk ke sebuah bilik yang bertutupkan kelambu, dan keluar menggandeng perempuan tua yang ia perkenalkan sebagai ibunya, Mohammed memanggilnya, Ima.

Saya lalu masuk ke kamar Mohammed, kira-kira sebuah ruangan sebesar 3×3 meter. Dua teman saya yang lain sudah lebih dulu bertamu ke sana, Udin dan Reja. Ketambahan saya, jadilah kamar itu diisi empat lelaki. Sebuah lampu pijar menggantung di pojok pintu masuk. Saya diberitahu Udin kalau lampu itu baru dipasang saat mereka berdua datang, dan sebelumnya Mohammed hanya pakai lilin.

Kontrak kerja Mohammed di kebun zaitun habis dua hari sebelum saya datang. Adik pertamanya yang laki-laki sedang bekerja di luar kota, yang kedua perempuan bernama Sarah, sedang persiapan ujian nasional SMA, dan si bungsu, siswa SMP kelas dua bernama Houzaifa.

Rumah itu masih mengontrak, dengan biaya sewa bulanan 950 dirham, belum termasuk tagihan listrik dan air. Tagihan air otomatis murah di musim dingin, dan tagihan listrik dihemat sesedikit mungkin dengan hanya memakai lampu saat malam (atau menggantinya dengan lilin).

Saat Ima bercerita tentang tuan rumah yang galak pas jatuh tempo, dan bulan ini belum juga mereka membayar, atau menu makan yang lebih banyak sayuran dan kacang-kacangan ketimbang ayam, Mohammed—serta adik-adiknya—serentak mengomel kecil. Mereka bilang, “Diam Ima, dibahas nanti saja.” Atau meyakinkan Ima kalau tamu-tamunya ini tak paham yang ia bicarakan, sebab Ima selalu berbicara dengan bahasa Darija (bahasa Arab dengan dialek Maroko). Kalau sudah begitu, Ima akan balik bertanya kepada kami,

Fahimtini ya wladi? (Kalian paham kan anakku?)” Dan kami mengangguk-angguk mengiakan meski kadang tak paham. Suasana makan malam yang seperti itu selalu terasa menyenangkan, dan sesekali canggung.

Saya, Udin, dan Reja selalu berusaha menyingkat makan malam agar tak terlampau larut, sebab ruang makan itu sekaligus kamar Ima, Sarah, dan Houzaifa tidur. Semakin lama kami makan, semakin lama mereka istirahat. Namun Ima selalu senang mengobrol panjang-panjang, dan Sarah selalu memanaskan teh kembali saat gelas kami sudah kosong.

“Saya umi,” kata Ima suatu malam, “Kalian tahu kan anakku, tak bisa baca-tulis.” Kami menyimak sambil sesekali menyeruput teh. “Jadi Mohammed yang akan membaca surat-surat dan tagihan yang masuk.”

Saya kira memang banyak orang tua di Maroko yang masih buta aksara, nenek penjaga warung di bawah kontrakan saya juga umi, dan tiap ada yang ngebon di warungnya, si pengutang tadi yang bakal menulis jumlahnya di catatan si nenek, kadang masih juga ada yang nakal dengan mengurangi angkanya.

Berita terakhir yang saya baca, persentase buta aksara di Maroko mencapai 30-40%. Yang menarik adalah, minat perempuan mengikuti kelas baca-tulis di masjid-masjid, jauh lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Jaraknya tak main-main, 96% dibanding dengan 4%.

Karena keterbatasan itu juga, Ima hanya berbicara dengan Arab Darija, alih-alih Arab fushah (baku), seperti halnya orang tua lain di Maroko yang tinggal di pedesaan. Kalau kami sudah kepayahan menyimak, Ima akan memelankan laju bicaranya, dan kadang sambil mengajarkan kata-kata baru yang asing buat kami.

Suatu ketika di perjamuan makan malam yang lain, Ima bilang, “Dihabiskan casse-croûtenya anakku.” Kami bertiga tolah-toleh, sambil sama-sama berpikir keras, casse-croûte ini apalagi? Di meja makan masih tersisa sedikit roti, kacang lubia berkuah, dan telur rebus. Pastilah casse-croûte salah satu istilah dari tiga ini. Ima menyadari kebingungan kami setelah tak kunjung ada jawaban.

“Kalian tahu casse-croûte?” ditanya begitu Udin sontak menjawab, “Makanan, Ima.” Dan perempuan tua itu menahan tawa sambil menutupi mulutnya. “Roti?” lanjut Udin lagi menebak-nebak.

“Seluruh hidangan ini namanya casse-croûte,” ujar Ima sambil menunjuk meja makan. “Casse-croûte ini camilan, sebelum makan,” ia menegaskan.

Kami bertiga kembali tolah-toleh, kali ini sambil berdebar menelan ludah, karena perut kami sudah keburu penuh dengan casse-croûte yang kami kira sebagai menu makan malam. “Berarti setelah ini masih ada makan lagi?”

“Masih, lagi dipanasin.” Mohammed bilang begitu sambil tersenyum. Malam itu saya bolak-balik ke toilet empat kali.

Ima adalah tuan rumah yang baik, kami disuguhi makan tiga kali sehari, dan saat Reja hendak belanja ayam dan sayuran untuk dimasak, Ima melarangnya. “Kalian tamu, saya tuan rumah yang harusnya menjamu.” Walau tinggal di atap, dan tidur berdesakan, justru keramahan dan kebaikannya seluas istana raja, atau malah lebih.

Sedangkan istana raja selalu dijaga banyak polisi dan tentara, halamannya bisa sepanjang tiga kali lapangan sepakbola, dan ditutupi dengan gerbang tinggi-tinggi seperti benteng romawi. Dan raja beserta keluarga kerajaan tentu bisa makan malam dengan berbagai menu yang ada di dunia, atau makan casse-croûte yang senilai dengan tagihan bulanan Ima.

Sambil membayangkan semua itu, mungkin benar juga kata Berkman, kalau pemerintah adalah ibu dari kekacauan dan ketidakteraturan itu sendiri, sementara orang-orang terus diperbudak oleh otoritas, sambil dijanjikan stabilitas ekonomi dan keamanan oleh penjahat yang disangka pahlawan.

Malam terakhir kami bertamu, Ima memasak sarden yang banyak, dan ful (kacang koro) dengan kuah yang terbuat dari campuran kulit kacang dan minyak zaitun. Sambil merobek-robek roti dan membagikannya, Ima berdoa supaya kelak kami dikumpulkan di surgaNya.

“Nanti Ima sudah bukan nenek-nenek, kembali muda seperti Sarah,” kata saya, “Dan di surga kita akan makan malam bersama lagi.”

“Makan daging dan ayam Ima, Tajine, juga Couscous,” ujar Udin menyebut segala jenis makanan enak.

Ima tertawa panjang. “Yang kamu pikirkan hanya perut ya anakku. Kita akan makan sepuasnya. Semua ada.”

Pada sepertiga malam terakhir, dikatakan Tuhan turun ke langit dunia, mengabulkan segala doa yang diminta hambaNya. Pada perjamuan makan malam terakhir itu, di tengah kehangatan keluarga yang belum pernah merasakan naik kereta api, rasanya saya ingin bertanya, tak bisakah kami sedikit merasakan surga sejak dari dunia saja, Tuhan?

Casablanca, 18 Januari 2019

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *