Celah: Sehimpun Puisi Ali Suratie


Gerimis

Hari gerimis
aku urung pulang.
Sebatang habis
kubakar ulang.

Di hadapan pemuda lalu lalang
sedang terang teramat mengiris
kegelapan di waktu luang.
“Di mana ponselku?”
Mereka menaikkan alis.
Kubilang,
“Bebaskan leher yang dibelenggu!”

Mereka baris merapat.
“Dari kitab segi empat
kita peras manfaat
di dalamnya bermuara alam semesta,
aliran surga Nil, Exodus Musa,
Kisah Daniel, Koresh satukan Babylon-Media,
Penyaliban Hawary Judas, Nero yang culas,
juga akhir para nabi.
Benda ini menelan dunia
dan kita ada dalam perutnya.”

Dahiku mengerut.
Mereka lanjut,
“Alam mini ini adalah keajaiban,
seluruh semesta terlihat,
bom-bom meledak, pedang yang berserak,
debu panas memedihkan mata.
Kita bisa piknik di Cuba, Amerika, Cina.
Tanpa keluar biaya.”

Langkahku terperdaya.
Semua orang bisa terkenal,
menuangkan kebinatangan.
Mencabut saraf kewarasan
dengan joget samba di tengah jalan.
Semua orang menari, bernyanyi.
Matahari terbit lari terbirit-birit,
sejuta manusia sedang menjerit.
“Gaya hidup, Gaya hidup…
bimbing aku ke istana Charlie Puth,
atau Justin yang orang Kanada
— ia suka menyemir rambut.
Supaya kami bisa merasa hidup!”

Sebagian yang lain menderit,
“Hidup, wahai, Hidup!
Di antara bau debu dan mayat yang terhirup,
tolong kembalikan rumah kami semula.
Mereka datang dengan senjata,
kami dioper-oper seperti bola.
Anak-anak kami tak tumbuh dewasa
karena mereka mati muda.
Setelah Aleppo rata
dan anak-anakku membelulang,
kami hanya tahu Surga.”

Gerimis yang sinis
membasahi tubuh bis.
Aku telah kehilangan.
Dari arah yang empat
yang terlihat hanya barat.
Dan itu suatu keharusan
yang datang tanpa mengetuk pintu.

Gerimis habis
sebatang kubuang.

Warna sore mencair ke lautan
menjadi pelangi di permukaan.

Celah

Di hari yang mendingin mendung
aku mending bingung.
Keadaan tak melahirkan apa-apa
selain siang melubang dalam sepi mimpi.

Masih ada bahasa sarkas di muka bumi.
Kulihat meja masih berserak noda kopi,
melekat di serbet, di cangkir, di ceret
di manapun ia bermuara menjelita.
Deretan maha api akan habis mengangatinya.

Silang melintang kata-kata kotor
dari knalpot motor
di jalan itu, tanpa lagi debu, pasir dan sepi
juga rerumput setengah kering yang tak kita sadari adanya.

Di kota sandiwara
sepuluh warna bendera berkibar
dan dari lagu punk barat aku dengar:
Jangan percaya pada pemain gitar.
Never trust a man with a guitar.

Atau Dandhanggula dan Asmaradhana yang mengambang di lentayang.
Jauh dengan bintang di langit kota Malang
yang terlupakan sampai tiba lampu padam.

Aku ingin mendung ini menyimpan rasa
saat hujan benar-benar menguasai suasana.
Jika gambus Arab pun menilai dirinya sendiri
pada taraf anak tahap remaja di dermaga kita.
Dermaga pertiwi dalam kelam sunyi
tanpa ada bunyi.
Benarlah sunyi, wahai, Anak kota.
Kau tidak akan tahu itu adalah metafora
yang pelan mengembara ke tempat pensilmu,
ke loker meja sekolahmu, dan tombol ponselmu
lalu ke kawat yang merawat rapi gigimu untuk
menggeretak daging panggang perempatan Klojen
dengan mentega dan benua Eropa yang
menyelimuti kembang tidurmu.
Aku menutup mata,
‘pabila kubuka ia menuntut curiga
seperti laku wanita.

Di hari yang mendingin mendung
aku mending bingung.
Berapa butir keringat dan padi yang kita hitung
dari petani di lumbung?
Mereka adalah ada yang ditiadakan.
Seperti gemintang itu
terus memberi tanpa ditanya lebih dulu.
Juga rerumput itu
terus mengawasi gerak-gerikmu
tanpa diseru.

Hujan benar tiba rasanya.
Gerimis membasahi jalan tadi.
Siang itu tak jadi bermimpi.
Gemawan melegam dalam abu-abu.

Gersang kupandang muka yang tertunduk
di sarang kutukan.
Dan dia manusia seperti kita
sama-sama karya maha Kuasa.
Terbungkus mantel pudar warna
Tengah kuyup menerjang orang-orang
yang berteduh dari kedinginan.
Kurasai tubuhku di bawah sandalnya
dalam baik prasangka.
Sekali lagi ia mengakar seperti belukar
tergelar di atas jiwa yang kasar.

Habis waktu asar
malam datang dari cakrawala datar.
Azan di langgar
kuhitung dalam panjang kali lebar
tawa kita di alam sadar.

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *