Cinta di Tengah Wabah Corona

Kira-kira 500 meter berjalan, di trotoar seberang jalan, saya melewati seorang ibu dan anaknya tertidur di balik gerobak yang berisikan rongsokan kardus dan plastik bekas air mineral.

Tenggelam ke dasar palung samudra
Kita panik bingung lupa cara berdoa
Kita panik bingung lupa cara berdoa
Kita panik bingung lupa cara berdoa

Dari atas Seven Sky saya mendengarkan Sombanusa sedang melantunkan salah satu lagunya yang berjudul “Di Pusara” di laptop saya, sambil mengamati sekitar dan jalanan protokol kota yang tidak tampak seperti biasanya. Tidak terlihat mahasiswa-mahasiswi yang nongkrong, atau berbondong -bondong pulang-pergi ke kampus, tidak terlalu banyak ibu-ibu yang keluar-masuk mall, tidak terlihat anak-anak sekolah yang lalu-lalang di trotoar jalan, juga kepadatan kendaraan tampak berkurang.

Sekilas dari atas, saya amati kota ini tampak tenang di luar sana. Satu meter dari tempat saya duduk, seorang gadis sedang bicara di gawainya dengan seseorang yang lain sambil menangis, ia mengabarkan kepanikannya di kota ini, bahwa kampus-kampus di kota ini mulai ditutup sampai akhir bulan, seluruh mahasiswa diliburkan dari kegiatan perkuliahan di kelas, kegiatan perkuliahan hanya diadakan secara online sampai waktu yang belum bisa ditentukan.

Ia bercerita jika ia sulit mendapatkan masker pelindung di apotek-apotek terdekat, semua habis. Kemudian saya mengamati seorang lelaki paruh baya meletakkan koran yang usai ia baca, sekilas saya melihat salah satu judul berita di koran tersebut, “Himbauan Presiden kepada Seluruh Masyarakat untuk Menghambat Penyebaran Virus Covid19”.

Presiden menghimbau masyarakat agar tidak keluar rumah, ia mengatakan, “Ini saatnya kita bekerja dari rumah, belajar dari rumah, beribadah dari rumah.” Ia menghimbau kepada seluruh masyarakat agar menjaga jarak satu sama lain sejauh satu meter demi kebaikan bersama. Di sisi yang lain, seorang ayah memarahi dan membetulkan masker anak perempuannya kerena enggan dipakai.

Saya keluar dari sana, berjalan menuju tempat tinggal saya. Kira-kira 500 meter berjalan, di trotoar seberang jalan, saya melewati seorang ibu dan anaknya tertidur di balik gerobak yang berisikan rongsokan kardus dan plastik bekas air mineral. Ada juga seorang tukang becak yang mangkal dan lelap di atas becaknya. Di tembok-tembok dan pot-pot bunga hiasan pinggir jalan ini, saya melihat sebuah poster bertuliskan “Gagalkan Omnibusuk Law”. Ada lagi yang berbunyi, “Diam tertindas atau bergerak untuk melawan!” dari Aliansi Mahasiswa Pro Pembebasan.

Ketika saya membeli es teh manis di sebuah angkringan pinggir jalan, radio di angkringan itu mengabarkan sebuah bentrokan terjadi antara warga tergusur dan pemerintah yang sedang bersengketa. Namun pemerintah menganjurkan kita tetap berada di dalam rumah, presiden menganjurkan kita bekerja, belajar, dan beribadah di rumah, dan dalam waktu bersamaan juga, mereka merampas tempat tinggal yang berpuluh-puluh tahun telah dihuni warga, karena dianggap tidak legal.

Di tengah musim yang terasa panjang ini, saya membayangkan, bersama-sama kita harus tetap saling mencintai, bersama-sama melawan ini semua, walau pemerintah melarang kita untuk bertemu, walau mereka melarang kita untuk berkumpul, walau mereka melarang kita untuk berkerumun, kecuali untuk hal-hal yang amat sangat penting.

Namun bagi kami—sudah sejak lama—yang penting adalah hidup layak, saling memahami, dan bila memang mungkin, saling mencintai. Walaupun lagi-lagi, kami selalu bingung dengan kepentingan pemerintah. Semoga suatu saat kami dapat memahaminya, atau mungkin begini saja, semoga suatu saat mereka dapat memahami kami.

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *