Conception: Merenungi Kembali Apa yang Hilang Dari Hidup

Kumpulan serial Conception ini menawarkan berbagai macam isu dan paradigma baru. Mulai dari memanusiakan LGBTQ, persinggungan dengan para penderita Post Partum Depression, kisah perempuan dalam berbagai perspektif, hingga bagaimana kehidupan urban yang penuh dengan labirin ketidakpastian.

Akhir-akhir ini saya banyak menghabiskan waktu untuk berselancar di Youtube. Beralih dari satu vlog ke vlog, podcast ke podcast, film ke film, video klip ke video klip, dan terakhir dari film pendek ke film pendek. Tujuannya sederhana: untuk membunuh waktu kosong.

Dari berbagai film pendek yang saya tonton, saya akhirnya menemukan satu serial unik yang dirilis oleh New York Times berjudul Conception. Langsung saja saya klik karena tertarik dengan ilustrasi untuk cover video tersebut. Ternyata cukup banyak video yang telah diunggah. 

Konsepsi

Manusia hidup dengan nilai-nilai dan konsepsi yang dipegangnya. Kadang dalam satu waktu nilai-nilai itu saling bentrok dalam diri, saling hantam dengan realitas yang dihadapi. Dari pergolakan yang terjadi dalam pikiran dan hati manusia inilah muncul perenungan, teori, dan analisis terkait dengannya. Semua ini dilakukan untuk menjawab berbagai pertanyaan yang sering kali lewat dalam hidup dengan kondisi yang tentunya berbeda-beda.

Lewat serial Conception, NYT berusaha mendedah berbagai permasalahan hidup yang jarang disentuh dan dibicarakan ke ranah publik dengan medium film pendek yang berisi kepingan kisah yang seringkali diredam dan dibungkam secara paksa oleh keadaan.

Konsepsi dalam KBBI memiliki tiga makna. Pertama, pengertian atau pemahaman. Kedua, rancangan (cita-cita) yang telah ada dalam pikiran. Ketiga, bio pembuahan benih. Apabila kita menengok ke kamus berbahasa Inggris macam Collins English Dictionary kita akan menemukan makna lain, seperti asal-asul atau permulaan dan suatu kekuatan untuk mencipta dan menyusun benda. Ternyata kata conception diadopsi dari bahasa Latin yaitu conceptio dan berasal dari akar kata conceptus.

Saya akan mulai mengulas film dalam serial Conception yang berjudul A Mother Promise: You Can Be Yourself. Film ini menceritakan perempuan yang bersuamikan Wilfredo. Suaminya seorang aktivis di El Savador. Pertemuan terakhir mereka di kota Meksiko. Setelah itu suaminya menghilang dan tak ada kabar. Beberapa bulan kemudian, dalam keadaan mengandung anak pertamanya, ia mendapat kabar bahwa Wilfredo telah dibunuh. Hatinya begitu hancur.

Permasalahan tentu tidak berhenti sampai di sini. Laurien harus berjuang melahirkan buah hatinya seorang diri. Anak itu pun lahir, ia beri nama Daniel. Demi rasa syukurnya, ia menulis surat untuk Daniel sebagai janji yang harus ia laksakanan. Janjinya adalah membiarkan Daniel menjadi dirinya sendiri dan mengizinkannya menapaki jalan yang ia pilih kelak.

Seiring waktu berjalan, Daniel tumbuh dengan kecenderungan menyukai hal-hal yang identik dengan perempuan. Ia lebih suka mengoleksi boneka, membawa Barbie ke mana-mana, menyukai warna pink dan ungu. Laurine cukup khawatir awalnya, tapi ia sebagai orang tua tidak bisa mencegah apalagi melarang kemauan anaknya.

Sampai suatu saat Daniel meminta ibunya membuatkan gaun untuk menghadiri pesta Hallowen di sekolahnya. Ia ingin menjadi princess. Kemauannya sudah bulat. Melihat keteguhan sang anak, setelah beberapa kali dibujuk untuk menjadi Peter Pan, Laurine pun tak ingin mematahkan keinginan anaknya. Ia buat dua buah gaun, satu berwarna pink untuk Daniel dan satu berwarna ungu untuk dirinya.

Di sela-sela itu ia berpikir, “Bagaimana jika Wilfredo melihat buah hatinya menjadi seperti sekarang ini? Akankah ia menerimanya dengan lapang?” Pikiran-pikiran itu membuatnya terjerembab ke jurang yang dalam. Di sela-sela pencariannya ia menemukan jawaban bahwa Daniel adalah anak yang berani dalam hidupnya yang harus ia dukung dan bahagiakan.

2

Di sesi kedua serial ini ada film berjudul Why I’ll Rise My Daugthers to Be Strong, Not Obidient, yang menceritakan pencarian jati diri seorang perempuan bernama Asya, gadis imigran dari Rusia yang tumbuh di tengah-tengah budaya modern kota New York. Ia memegang nilai-nilai yang diajarkan orang tuanya yang membuat ia menjadi gadis pendiam, patuh, dan kesepian. Berkali-kali ia mencoba berteman, tapi selalu gagal. 

Hingga pada suatu momen di usia remajanya, pemberontakan dari dalam diri pun muncul, di langkah awal ia putuskan untuk memotong rambut, mengganti namanya, dan berusaha untuk tampil beda. Ia hanya ingin diperhatikan dan dinginkan orang lain. Lambat laun ia mulai dilihat sebagai umumnya gadis New York. Pengakuan pun berhasil ia dapatkan. Hingga ia didekati oleh lelaki Amerika yang ia inginkan. Jalinan cinta ini menghantarkan mereka ke atas ranjang kumuh pacarnya. Di malam itu, ia benar-benar hancur. Ia terlihat seperti pelacur yang telanjang menangisi dirinya.

Kehidupan harus berlanjut. Ada manusia tumbuh dalam perutnya. Ia harus terus bertahan untuk anaknya. Tiada lain hanya itu cara terbaik untuk menemukan dirinya dan menggenapi pencariannya. Anak perempuannya lahir. Disusul dengan anak perempuan kedua. Untuk membesarkan perempuan yang kuat, ia berpikir harus menjadi perempuan yang kuat juga.

Dalam setiap perenungannya, ia selalu berharap anak-anaknya tidak mengalami penolakan seperti yang ia alami dan akan menyakiti mereka. Ia mengajarkan bagaimana kekuatan paling besar adalah keyakinan akan kemampuan mereka. Belajar untuk mendengarkan suara dari dalam diri, mengikuti hati nurani sebagai penuntun, dan menghargai setiap keputusan yang telah mereka ambil. Asya sebagai pelindung anak-anak hanya bisa menanamkan kebaikan-kebaikan itu dan terus berproses bersama mereka.

3

Bagi seorang anak, kita jarang sekali mendengar keluh kesah ibu, apa yang sebenar-benarnya ia rasakan. Menuju keterbukaan adalah niscaya yang begitu sulit. Sering kali seorang ibu menanggung segala kemelut batinnya seorang diri. Gambaran ini bisa kita lihat dalam film yang berjudul I Lost My Daughter to Heroin, Can I Start Over With Her Child? Bercerita tentang seorang ibu dan anak semata wayangnya, Lindsey.

Lindsey hidup sebagaimana wajarnya seorang anak, ia tampil percaya diri, suka membaca, sekaligus tumbuh dalam tekanan yang tak ia pahami. Ibunya berharap ia menjadi kuat. Hingga puncaknya, kekasih Lindsey bermain api dengan sahabatnya. Ia hanya bisa diam. Waktu berjalan sebagaimana mestinya.

Pada saatnya, Lindsey memiliki anak dari Cody, kekasihnya. Mereka begitu muda kala itu. Buah hatinya mereka beri nama Lilah. Setelah melahirkan, ia mulai merasakan beban yang begitu berat di punggungnya. Ia mulai bekerja terlalu keras, mengonsumsi obat-obatan, hingga ia jatuh pada kecanduan heroin yang merenggut nyawanya.

Lindsey meninggal, tapi ia hidup di hati ibunya. Kini kita melihat betapa ibunya merasa bersalah atas kematian Lindsey. Ia balas itu semua dengan membesarkan Lilah, cucu terkasihnya, dengan penuh cinta. Ia mulai berpikir adakah kesalahan selama ia mendidik dan membesarkan anaknya, hingga ia mendapat cobaan begitu berat. Ia mulai menyalahkan diri. Inilah yang terjadi pada kebanyakan orang ketika berada di titik paling rendah.

Setelah melalui pergumulan batin ini, ia sadar tak ingin terjebak dalam lubang masa lalu. Lilah adalah penebus dosanya. Ia melihat Lilah seperti melihat Lindsey. Keduanya begitu nyata baginya. Harapannya hanya satu, agar Lilah tidak mengikuti jejak yang ditempuh oleh ibunya dan hidup dengan penuh rasa syukur. Ia hanya ingin menjadi orang tua yang baik, untuk Lindsey, untuk Lilah. Hanya itu.

Kumpulan serial Conception ini menawarkan berbagai macam isu dan paradigma baru. Mulai dari memanusiakan LGBTQ, persinggungan dengan para penderita Post Partum Depression, kisah perempuan dalam berbagai perspektif, hingga bagaimana kehidupan urban yang penuh dengan labirin ketidakpastian. Belum lagi soal krisis identitas, rasial, bahkan subordinasi perempuan dibawakan secara gamblang dengan narasi sederhana dan tersaji dalam durasi waktu 4-8 menit saja. Ditambah ilustrasi yang sangat artistik, filosofis, dan mendalam, mewakili cerita dengan paripurna. Tentunya bisa anda lihat dan buktikan sendiri. Tidak ada unsur pemaksaan sama sekali.

Ada banyak seri yang sebenarnya sudah saya tonton. Tapi tiga film inilah yang berhasil menggerakkan saya untuk mengulas dan menuliskannya. Sambil membayangkan betapa masih panjang kehidupan yang menanti, sekaligus memandang pesimis dunia yang membelenggu kita dalam keabsurdan. Saya jadi ingat buku Nawal El Sadawy yang pertama kali saya baca berjudul Perempuan di Titik Nol. Kira-kira begini yang saya dapati, “Hidup ini sangat sulit. Satu-satunya orang yang benar-benar hidup adalah mereka yang lebih keras dari kehidupan itu sendiri.”

Segini dulu kawan. Saya mau nonton film Marriage Story yang katanya bagus itu. Barangkali hidup memang begitu, habis satu tontonan berlanjut ke tontonan lain. Satu manusia ke manusia lain. Dari kehidupan yang gini-gini aja, menuju kehidupan lain yang mungkin gitu-gitu aja.

Casablanca, 11 Juni 2020

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *