Covid-19 Masih Dekat

Setelah kita melewati masa yang agak suram ini, tak lagi kita akan menyaksikan wajah-wajah terbalut masker, pemakaman-pemakaman dengan peti mati yang sepi, dan kita akan kembali berbagi suapan tanpa was-was, kembali bercinta, dan sebagainya.

Namanya Sobachul Choir, dia adik dari ayah saya yang dua belas bersaudara. Hanya ada seorang lagi yang lebih muda dari Om Sobah, Lek Lut. Jadi saya melihat Om Sobah ini tidak seberapa tuanya—jika dibandingkan ayah yang merupakan anak kesembilan. Sobachul Choir diambil dari bahasa Arab, sedangkan orang Arab biasa menuturkan kalimat itu untuk mengucapkan ‘selamat pagi’.

Pagi punya konotasi positif, orang bangun dari tidur, membersihkan rumah, bersiap-siap bekerja, dan sebagainya. Mungkin berkah dari nama, Om Sobah adalah pria yang murah senyum. Saya mau bilang hampir saja ia seperti matahari yang ada di acara Teletubbies, andai saja Om Sobah tak punya kumis setebal Pak Raden.

Om Sobah mungkin satu-satunya polisi di keluarga ayah, dan tak bisa dipungkiri, beberapa stereotipe polisi memang ada di Om Sobah. Badannya agak tambun, dan andai saja ia bukan om saya, pastilah saya agak merasa ciut saat ia mengenakan seragam lengkap.

Pangkat terakhirnya AKP (Ajun Komisaris Polisi), setara dengan Kapten. Pangkatnya tak akan bisa naik lagi, apalagi sampai Jenderal, sebab 17 Januari 2021 lalu Pak Polisi itu meninggal dunia karena Covid-19.

Malam-malam ayah pulang terburu-buru ke rumah, mukanya kusut, tapi saya tak pernah melihat ia menangis. Saya dengar ayah menelepon seseorang di ruang tamu, “Sin, yok opo iki Sin, Pak Polisimu wes gak ono.” (Sin, gimana ini Sin, Pak Polisimu sudah tidak ada.)

Maret tahun lalu, saat pemerintah masih kekeh belum ada penemuan kasus positif di Indonesia, dan mantan menkes Terawan masih bilang, “Enjoy aja.” Ayah saya persis bersikap seperti pemerintah. “Lagian banyak yang sembuh kok,” begitu yang selalu diulang-ulang. Kami anak-anaknya bolak-balik mengingatkan di grup whatsapp agar tetap waspada.

Hingga kini angka kasus positif di Indonesia sudah tembus satu juta, banyak orang yang denial Covid-19 (atau buzzer pemerintah) masih juga menggunakan narasi rasio kesembuhan sangat jauh lebih tinggi dari angka kematian. Seolah-olah puluhan ribu nyawa yang sudah hilang, dan ratusan nakes yang mati saat bertugas, hanya buih-buih di tengah lautan.

Saya tertegun membaca seorang teman yang sempat positif Covid-19, justru semakin yakin ini semua konspirasi hanya karena gejala yang menjangkitnya seperti flu biasa. “Receh banget, gak sengeri berita-berita di TV,” ungkapnya.

Dengan pola pikir yang sama, ia bakal bilang alkohol tidak memabukkan karena beberapa orang tidak oleng setelah minum-minum. Atau kehilangan uang lima puluh ribu rupiah bukanlah masalah besar, tanpa mempertimbangkan yang kehilangan itu pemilik pabrik rokok atau seorang juru parkir mini market.

Menyimpulkan bahwa Covid-19 tidak berbahaya hanya dari pengalaman sendiri atau testimoni segelintir orang adalah sesat pikir, atau keegoisan pribadi. Sedangkan denial kepada pandemi yang belum juga berakhir ini, lalu sekonyong-konyong bilang semua hanya konspirasi, sama dengan menyangsikan sejarah peradaban manusia itu sendiri.

Bukan sekali ini penduduk bumi dihantam wabah penyakit sedemikian rupa. Dahulu cacar dan pes pernah jadi momok manusia yang meluluhlantakkan kehidupan. Kini semua terkendali dengan vaksin dan antibiotik. Kengerian hanya tinggal sejarah di masa lalu. Dan bukankah kita dalam diam agaknya mengimani bahwa sejarah selalu berulang?

Maka krisis kemanusiaan akibat penyakit seharusnya bukan hal yang asing dan tak mungkin terjadi lagi. Bisa saja hari ini memang waktunya sejarah berulang. Meski dampak yang diberikan tidak semematikan dulu, tidak memberikan gambaran yang mengerikan seperti halnya blackdeath dengan bayangan topeng-topeng berparuh gagak. Tentu saja itu berkat pencapaian yang dihasilkan manusia selama berabad-abad.

Setelah kita melewati masa yang agak suram ini, tak lagi kita akan menyaksikan wajah-wajah terbalut masker, pemakaman-pemakaman dengan peti mati yang sepi, dan kita akan kembali berbagi suapan tanpa was-was, kembali bercinta, dan sebagainya. Dan seperti sudah-sudah, Covid-19 menjadi flu biasa yang tak mengkhawatirkan lagi.

Hari-hari biasa itu meski rasanya kian dekat, tetap masih berkabut. Kita hanya bisa meraba-raba ada apa di ujung lampu sorot kendaraan kita. Sampai nanti kita tiba di hari yang sama-sama dinantikan itu, di tanah yang dijanjikan itu, kita masih harus berdamai memakai masker untuk beberapa waktu.

Sudah nyaris setahun sejak ramai berita tentang Covid-19, dan setiap harinya saya merasa ia makin dekat dan mengembuskan napasnya tepat di belakang tengkuk. Ayah baru benar-benar merasakannya setelah Om Sobah mati. “Covid-19 memang ada, ya.” Memang benar petuah lama, pengingat terbaik adalah kematian, dan hari-hari ini Covid-19 membawanya lebih dekat lagi.

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *