Dari Kopi Semar Hingga Prodeo

Baginya, lelaki itu adalah perpustakaan yang dapat ia baca tanpa harus bersusah payah membolak-balik buku, ruang diskusi yang tidak membutuhkan moderator, audiens, apalagi patungan buat beli konsumsi.

Masih ingat betul sepuluh tahun yang lalu, begitu erat ibu menggandeng tanganku untuk memasuki gerbang pondok pesantren. Bersama ayah dan beberapa sanak saudara, ibu melepasku untuk menuntut ilmu dan belajar menjadi manusia. Dan masih terasa kehangatan genggaman tangan ibu, ketika melepas anaknya pergi lebih jauh, lima tahun lalu. Entah bagaimana perasaan ibu, aku hanya bisa melihat dari kedua bola matanya yang sembab, sembari menyembunyikan raut muka yang kusut, dan begitu kacaunya batinku.

Dua momen sentimental di atas sebagai pijakan awal dalam menghadapi berbagai keresahan-keresahan yang datang setelahnya. Alasannya sederhana, karena keduanya adalah proses awal pergolakan batin yang benar-benar terasa hingga sekarang. Hingga aku dapat memutuskan jawaban dari pertanyaan besar yang datang belakangan, apa yang kauperjuangkan dalam hidup? Dan adakah rumah tempat berpulang dari perjalanan jauh yang telah kautempuh?

Semakin ke sini, aku pun semakin sadar bahwa tidak semua hal bisa dikendalikan dan diatur sebegitu rupa sebagaimana yang kita inginkan. Kita begitu naif untuk mengubah sekitar, tanpa pernah berpikir untuk mengubah diri sendiri. Senada dengan hal ini, Leo Tolstoy dan Rumi juga mengatakan hal yang sama. Mereka berdua pasti telah mengalami berbagai goncangan batin, dan berhasil menyimpulkan bahwa kebijaksanaan hanya milik mereka yang mengenal diri sendiri terlebih dahulu, mereka yang menyingkap tabir diri untuk mencari hakikat yang tersembunyi di baliknya.

Kopi Semar

Salah satu hal yang menjadi keresahan terbesarku, sebagai pelajar yang hidup di Maroko, adalah matinya kesadaran untuk berdiskusi, dan minimnya ruang-ruang untuk mewadahinya. Mungkin kawan-kawan di Maroko banyak yang tidak setuju membaca tulisan ini, tapi jika berani jujur, inilah kenyataannya. Memang benar organisasi PPI Maroko, sebagai rumah seluruh mahasiswa, mengadakan berbagai kegiatan yang merangsang minat dan bakat. Namun untuk masalah ruang diskusi ini, sungguh sangat miris.

Tentu aku sendiri bukan tipe manusia yang ndakik-ndakik dalam hal keilmuan, tapi aku merasa ada semacam kekosongan dalam ruang pengap, yang seharusnya diisi dengan hal-hal baru, teori-teori tentang semesta, buku-buku teranyar, film-film yang mendapat penghargaan sekaligus berbagai kontroversinya, referensi-referensi yang mengusik hati, tentang keindonesiaan, dan berbagai hal-hal remeh lain yang dapat dibagi, didengar, dirasakan, dibantah, dikritik, yang berujung pada munculnya gairah untuk hidup lebih lama. Bukankah kau juga merasakannya?

Ternyata keresahan seperti ini tak hanya dirasakan olehku, banyak teman-teman lain yang juga ingin berteriak, memuntahkan seluruh kekesalannya. Tapi itu tadi, tidak ada ruang yang dapat menampung sumpah serapah mereka, yang akhirnya ditanggung seorang diri.

Ada kisah menarik, tentang salah seorang teman perempuanku yang juga mahasiswi di sini, tapi berbeda kota. Kepadaku ia bercerita panjang lebar akan beberapa keresahan yang ia alami. Hingga ia memutuskan untuk menjatuhkan hatinya kepada seorang kawan yang berhasil menampung keresahan terbesarnya, apa itu? Keresahan intelektual. Lewat lelaki ini ia temukan tempat untuk mencari tahu, bertanya banyak hal tentang sastra, filsafat, keislaman, dan lain-lain. Baginya, lelaki itu adalah perpustakaan yang dapat ia baca tanpa harus bersusah payah membolak-balik buku, ruang diskusi yang tidak membutuhkan moderator, audiens, apalagi patungan buat beli konsumsi.

Arkian, tumpukan keresahan ini menemui perapiannya. Beberapa kawan mulai menginiasi agar ritual ngopi yang tadinya berisi nggibah dan maido, berubah haluan menjadi wadah bertukar pikir. Dipilihlah tema-tema yang nantinya dibahas bareng. Dimulai dari hal-hal kecil saja, misal, apa yang akan dilakukan ketika pulang ke kampung halaman, benarkah kita salah jurusan, hingga membahas Lucinta Luna dan Mimi Peri dengan segala kenisbiannya.

Atas usulan para sesepuh, seperti Bang Hamzar, Kang Mamah, untuk menginisiasi semacam komunitas, dengan tujuan agar semua elemen mahasiswa bisa masuk, tanpa harus ada embel-embel identitas, ormas, dan tetek bengek lainnya, yang tadinya seakan eksklusif antar lingkaran yang itu-itu saja bocahnya, berdirilah Kopi Semar, akronim dari Komunitas Pecinta Indonesia Sedulur Maroko.

Diskusi demi diskusi mulai sering terlaksana di sekretariat PPI Maroko. Kawan-kawan mulai menikmati dan menerima kehadiran Kopi Semar, bahkan sampai jadi program pengurus Departemen Pendidikan hingga kini.

Bisa dibilang, Kopi Semar berdiri karena kebosanan terhadap diskusi kebanyakan yang bertumpu pada satu pembicara. Kawan-kawan dibatasi dengan tiga termin pertanyaan, dengan tema yang njelimet, dan tidak ada asar setelahnya. Bagaimana kita dapat terbiasa bicara di depan forum terbuka, apabila untuk bertanya saja kita dibatasi dan masih malu-malu. Melatih mental untuk bicara dan membiasakan diri terhadap iklim diskusi adalah tujuan kecil kami.

Dalam forum ini sungguh tidak ada aturan baku. Karena sifatnya yang cenderung bebas, kawan-kawan yang nimbrung tidak harus risau berpakaian rapi, tidur, selonjoran, salto, kentut, bahkan kayang sekalipun sungguh tiada masalah. Kalaupun ada sebuah aturan, aturan mainnya adalah setiap anak adam yang hadir dalam arena harus pegang mic dan ngomong, entah apa pun itu, dan moderator akan memberi waktu selama lima menit.

Seiring berjalannya waktu, Kopi Semar sudah menemukan arah dan momentumnya. Bagiku pribadi, tidak ada forum selain Kopi Semar lagi, yang dapat mengumpulkan seluruh mahasiswa di Maroko untuk berdiskusi dengan bebas. Ngomong ngalor-ngidul, baik dengan refesensi yang kuat, bacaan dari berbagai macam buku, atau hanya datang, duduk manis, lalu bilang, “Aku senang ikut Kopi Semar, dan aku setuju dengan apa yang diutarakan Mas Elvin. Untuk itu aku tak perlu menambahkan yang tidak-tidak.”

Di akhir diskusi, notulen yang telah ditunjuk membacakan hasil notulansi secara ringkas. Begitu guyub dan membahagiakan. Hingga kami semua bersepakat untuk bikin jargon kebanggaan:

KATAKAN, DENGARKAN, LUPAKAN.

Kala itu, Kopi Semar sempat mendapat kritikan dari berbagai pihak, yang paling menohok adalah bahwa ini hanya forum yang sia-sia belaka, tidak ilmiah, tidak ada jeluntrungnya, tidak berdata, dan hanya buang-buang waktu. Kami hanya menanggapi dengan senyum kecut, seraya berharap mereka dapat bergabung, duduk bareng, mengeluarkan pikiran dan data-data yang mereka ungkit-ungkit terus, lalu kami dengarkan dengan khidmat. Tapi ingat, setelah diskusi usai, kita bebas melupakan segala yang mereka omongkan, bukan begitu?

Harapanku untuk Kopi Semar sederhana, agar tetap ada dan berlipat ganda, walaupun nantinya berganti arah dan aturan di dalamnya, berganti orang-orangnya, yang terpenting semangat untuk menghidupkan diskusi dan gairah serawung tetap membara. Entah mengapa, ketika menulis tentang Kopi Semar, ada semacam suara berkata padaku, “Ini salah satu rumahmu, Din. Kamu tumbuh dan besar di dalamnya.”

Prodeo

Dalam salah satu diskusi Kopi Semar, ada yang nyeletuk, manusia tidak akan pernah usai, terutama dengan dirinya sendiri. Setelah kurenungi dalam-dalam, memang ada benarnya. Muncul keresahan lain terkait nasib ketika balik ke tanah air nanti, ditambah lagi keinginan untuk membuat satu komunitas yang bergerak dalam dunia literasi.

Akhirnya, bersama Agus dan Sajid, kami berniat untuk membuat sebuah toko buku daring. Niat awalnya, sebagai ajang untuk menyambung tali perkawanan. Kami bertiga menyepakati nama untuk bakal toko buku kami, Ibu Buku. Agus sudah membuat logo, pamflet, dan konsep. Sementara aku dan Sajid sudah mulai menghubungi berbagai lapak buku daring guna menyortir buku-buku yang akan dijual.

Nasib memang terlalu keparat, apabila kami bertiga berkumpul untuk sebuah konspirasi cupu, selalu saja berantakan. Dan benar, kami bubar di tengah jalan. Menurutku, penyebabnya adalah ketidakterbukaan di antara kami bertiga. WAG Ibu Buku pun perlahan bubar barisan tanpa penghormatan.

Siasat-siasat keji tidak berhenti sampai di situ, gejolak awal kami tetap membara. Sajid mulai mengontak Ijul guna mengurusi akun IG Santri Senior, akun yang ia asuh dengan telaten hingga mempunyai banyak umat. Setelah itu aku dimasukkan dalam Santri Senior. Di tengah perjalanan, agar tidak terlihat terlalu nyantri dan nyar’ie, Santri Senior berniat mengubah nama. Setelah beberapa kali ngopi bertiga, muncullah nama Prodeo.

Tanpa pikir panjang, kami langsung mengontak Agus dan Kemal si anak indie, dan mulai merembukkan Prodeo secara serius. Tercetuslah ide yang tidak begitu cemerlang, membuat website, dan lagi-lagi, membuka toko buku daring. Lalu kami menghubungi Ning Layyinah, guna jadi bendahara, dan ibu dari anak-anak nakal Prodeo.

Waktu terus bergulir, peluit juga belum ditiup wasit, sementara kita semakin menemukan kejenuhan-kejenuhan. Mulai dari website yang tidak rampung-rampung, WAG Prodeo yang makin sepi, dan masalah inti yang menyangkut Prodeo itu sendiri. Kami sadar, di sinilah masalahnya, belum berdiri tapi sudah banyak masalah, haha, keparat.

Tentu semua yang kutulis di sini adalah rekam jejak ingatan yang berusaha kupungut agar tidak lenyap. Mungkin Prodeo adalah rumah ketigaku, setelah hati ibu dan Kopi Semar.

Untuk itu, dengan kerendahan hati, ijinkan aku untuk memperkenalkan Prodeo sebagai tempat berbagi keluh kesah, berbagi cerita, ruang sambat-menyambat ria, rumah bagi tulisan-tulisan Anda yang ditolak di media lain, atau apalah yang nanti menjadi rubrik-rubrik di Prodeo.id. Nanti kalian bisa mengirim tulisan, tinggal dibaca tata cara dan ketentuannya di sini. Dan tenang saja, akan kami baca, dan apabila tertarik, akan segera kami kabari dan tayangkan. Begitu membahagiakan bukan?

Demikian khotbah Jumat dariku, semoga menjadi awal yang baik untuk Prodeo, sambil berharap hal-hal baik senantiasa menaungi tanpa jeda, sekaligus menjadi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang tertera di awal.

Hajib, 6 Januari 2020

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *