Dukungan Maroko dalam Menghapus Ganja dari Kategori Narkotika Adalah Langkah Awal Maroko untuk Melegalisasi Ganja di Masa Depan

Bahwa walaupun penduduk mayoritasnya muslim dan hukum negara melarang hal itu, tetap saja maslahat warga yang membutuhan ganja harus diprioritaskan, terlepas agamanya apa.

Pemungutan suara untuk mengeluarkan ganja dari kategori obat terlarang dan narkotika yang diadakan Komisi Obat Narkotika (CND) di Wina pada 2 Desember lalu berjalan dengan sangat sengit, hasilnya yang selisih dua suara ini menunjukan bahwa masih banyak negara-dari total 53 negara yang ikut-yang menganggap ganja sebagai tanaman yang terlarang untuk digunakan.

Meskipun negara Indonesia tidak ikut dalam pemungutan suara, namun, hasil dari rekomendasi Badan Kesehatan Dunia (WHO) ini memicu komunitas advokasi narkotika di Indonesia untuk meminta pemerintah membuka pengkajian ulang pemanfaatan ganja sebagai obat-obatan, mengingat UU Narkotika kita yang masih menggolongkan ganja sebagai obat-obatan terlarang.

Walaupun begitu, ada yang unik dari Jajak Pendapat (japat) ini, negara Maroko yang menjadi satu-satunya negara yang berasal dari Negara Timur Tengah dan Afrika Utara (MENA) yang mendukung melegalkan ganja untuk digunakan sebagai keperluan medis dan mengeluarkannya dari kategori narkotika dan obat terlarang.

Sebagai negara dengan berpenduduk mayoritas muslim dan undang-undang yang diambil berdasarkan hukum Islam, Maroko malah memilih mendukung rekomendasi ini. Berbeda dengan negara MENA lainnya yang memilih untuk menolak seperti Bahrain, Mesir, dan Algeria. Saya meyakini bahwa dukungan Maroko dalam japat ini adalah langkah awal yang nyata untuk melegalisasi ganja di seantero Maroko di masa depan sebagai kebutuhan medis ataupun rekreasi.

Jika dilihat dari sejarah, Maroko punya hubungan masa lalu yang tarik-ulur dengan ganja, dimulai dari abad ke 19, setelah lamanya dilarang, Raja Hassan I, untuk pertama kalinya melegalkan ganja untuk dibudidayakan dan dikonsumsi khusus daerah Rif (daerah Provinsi Husaima hingga provinsi Chefchaouen) karena melihat daerah itu bergantung pada budidaya ganja untuk bertahan hidup dan akhirnya meningkatkan ekonomi Maroko dengan memperdagangkannya. Baru setelah 1800-an akhir hingga 1900-an awal Maroko terbagi ke beberapa wilayah koloni penjajahnya, sehingga berlaku pula pada aturan legalisasi ganjanya, seperti wilayah kekuasaan Spanyol tetap melegalisasi ganja, sedangkan wilayah kekuasaan Perancis melarangnya.

Hingga setelah Maroko merdeka pada 1956, Raja Muhammad V melarang total ganja untuk dikonsumsi atau diperjual belikan hingga saat ini, dan menelantarkan kurang lebih satu juta jiwa penduduk Maroko di wilayah Rif yang ekonominya bergantung pada ganja. Padahal, tidak bisa tidak, di satu sisi Maroko menduduki lima besar sebagai negara penyuplai ganja terbanyak di dunia, di sisi lain, negara ini melarang sumber daya alamnya dimanfaatkan oleh penduduknya sendiri.

Nah, dengan adanya dukungan terhadap japat ini, seakan Raja Muhammad VI sekarang belajar dari pendahulunya, bahwa walaupun penduduk mayoritasnya muslim dan hukum negara melarang hal itu, tetap saja maslahat warga yang membutuhan ganja harus diprioritaskan, terlepas agamanya apa. Lebih lagi, dari sisi ekonomi, Maroko bisa memproduksi ganja besar-besaran, mengambil pajak, dan meningkatkan persentase produk domestik brutonya.

Berkaca dari hal itulah, siapa tahu, di masa depan kelak sejarah akan mencatat, bahwa Maroko akan dikenal selalu tidak hanya dari minyak argannya, tapi juga produksi ganjanya yang berlimpah ruah.

Ngomong-ngomong soal agama, kita semua pasti sepakat bahwa orang beragama belum tentu berbuat seperti yang dianjurkan agamanya, bahwa ganja itu buruk karena mengubah fungsi tubuh dan otak dalam kebutuhan rekreasi menurut Islam, tapi tetap saja banyak muslim yang masih menggunakannya, sehingga lumrah saja jika beberapa teman saya di kampus, mengaku pernah dan sesekali mengkonsumsi ganja untuk kebutuhan rekreasi.

Bayangkan saja, orang yang setiap harinya belajar hukum agama dan menghafal Qur’an saja pernah mengkonsumsi ganja, apalagi saya yang remah-remah Khong Guan ini? Canda sayang. Lebih lanjut, sebagai orang yang sudah tinggal selama dua tahun lebih di kota Tetouan (salah satu daerah Rif), saya kerap kali menemui transaksi ganja di kafe-kafe yang tersebar di kota saat akan membeli sebungkus rokok, para penjual membungkus hashis (bahasa Maroko untuk ganja) dalam bentuk halus berukuran lingkaran yang terbentuk dari ujung jari telunjuk bertemu dengan ujung jempol orang dewasa. Sayangnya, saya belum tahu harganya dan bagaimana cara warga Maroko mengkonsumsinya.

Belakangan saya sadar, saat sedang berbelanja di pasar klasik untuk kebutuhan masak, saya tersesap (untuk tidak mengatakan menyesap dengan sengaja) asap dari sebatang rokok yang tersulut api, saat itulah saya sadar ternyata bau asap itu adalah lintingan tembakau dan ganja dan cara orang Maroko melintingnya masih segendang sepenarian dengan orang Indonesia ketika melinting tembakau. Bedanya, mereka tidak memakai topping ganja sebagai penyedap.

Ini menunjukkan, bahwa masih banyak sekali warga Maroko yang membutuhkan ganja untuk rekreasi dan sepertinya Raja Muhammad VI telah menyadari hal ini melalui langkah awalnya di japat. Beliau tahu jika ganja ini dilegalisasi, pemerintah nanti bisa membuat undang-undang tentang penggunaan ganja, sehingga warganya juga tahu SOP konsumsi ganja yang baik, dan tidak berlebihan. Bukan hanya itu, legalisasi ini nantinya juga memantik para peneliti untuk mengkaji lebih lanjut tentang manfaat ganja bagi obat medis.

Sebagai penguat, dikutip dari jurnal penelitian SIT Study Abroad berjudul Persepsi Lokal tentang Ganja dan Undang-undang Ganja di Maroko yang mengumpulkan 45 responden dengan agama yang berbeda-beda ini, menunjukkan bahwa 24.24% dari 38 responden beragama Islam pernah mencoba ganja, sedangkan 7 responden beragama Agnostik sebanyak 71.43% telah mencoba ganja, dan dua orang yang tidak berkenan memberi tahu agamanya juga pernah mencoba ganja.

Sehingga, sudah seharusnya penduduk Maroko mendukung langkah nyata Raja Muhammad VI ini dalam melegalisasi ganja. Sudah saatnya pula Maroko tampil paling depan setidaknya dari barisan negara MENA, sebagai ujung tombak modernisasi bagi negaranya serta inklusif bagi seluruh warganya, baik yang beragama Islam, Kristen, Agnostik, dan Yahudi.

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *