Etika Lingkungan Dalam Islam

Namun layaknya kaum yang lebih superior, manusia seakan lupa bahwa meskipun derajat mereka lebih tinggi dari alam, mereka tidak bisa merusak alam seenaknya saja.

Manusia dan alam adalah dua unsur yang tidak bisa dipisahkan begitu saja, tanpa disadari dua elemen ini saling membutuhkan satu dengan yang lain. Manusia sejatinya diciptakan untuk menjadi khalifah (wakil/pemimpin), dimana manusia diciptakan paling sempurna melebihi semua ciptaan lain di muka bumi ini.

Menurut Nurcholis Madjid dalam Islam Doktrin Peradaban, manusia adalah puncak ciptaan, sehingga seluruh alam berada dalam martabat yang lebih rendah dari manusia tersebut. Namun layaknya kaum yang lebih superior, manusia seakan lupa bahwa meskipun derajat mereka lebih tinggi dari alam, mereka tidak bisa merusak alam seenaknya saja.

Yang terbaru, publik dihebohkan dengan masalah tentang pembakaran hutan Papua yang dilakukan oleh perusahaan asal Korea Selatan, Korindo. Dalam akun twitter milik BBC Indonesia, terdapat video yang membuktikan bahwa hutan yang ada di Papua tersebut memang sengaja dibakar untuk membuka lahan kelapa sawit. Meski begitu, Pihak Korindo sendiri membantah hal tersebut.

Dilansir dari Kompas.com, Public Relations Manager Korindo Group, Yulian Mohammad Riza, mengatakan bahwa pihak Korindo telah melakukan pembayaran pelepasan hak atas tanah ulayat kepada 10 marga seluas 16.000 hektar yang berada di areal PT Tunas Sawa Erma Blok E. Namun hasil dari investigasi yang dilakukan oleh Green Peace dan Forensic Architecture menyatakan bahwa Korindo Group memang telah melakukan pembakaran tersebut dengan sengaja.

Dilansir dari BBC Indonesia, Jumat (13/11/2020), Samanah Moafy selaku peneliti senior dari Forensic Architecture mengatakan jika hutan memang terbakar secara alami, maka api akan tersebar ke arah yang berbeda dan tersebar. Namun kenyataannya, pola, arah dan kecepatan pergerakan api sesuai dengan ciri-ciri dari kebakaran yang disengaja. Tetapi pihak Korindo tetap bersikukuh mengatakan pada pihak BBC Indonesia bahwa kebakaran tersebut terjadi karena cuaca dan menggunakan alat berat.

Hal tersebut tentunya sangat disayangkan karena hutan Papua yang mulanya menjadi hutan terluas di Asia, kini mulai menyusut akibat aktivitas industri maupun pertambangan.  

Hal di atas adalah contoh kecil bahwa manusia saat ini telah menyalahi etika lingkungan yang seharusnya mereka tunjukkan kepada alam. Etika lingkungan sendiri adalah disiplin filsafat yang berbicara mengenai hubungan antara manusia dengan lingkungan atau alam semesta, dan bagaimana perilaku manusia yang seharusnya terhadap lingkungan.

Dalam jurnalnya, “Islamic-Ecoreligious: Prinsip-Prinsip Teologis Islam tentang Etika Lingkungan”, Fahrudin Faiz menyebut bahwa ada empat prinsip-prinsip etika lingkungan, diantaranya:

  • Hormat Terhadap Alam (Respect for Nature)

Hormat terhadap alam merupakan prinsip dasar manusia sebagai bagian dari alam, sehingga kita harus bisa menghormati setiap kehidupan dan spesies yang ada di lingkungan sekitar kita. Karena pada dasarnya manusia bukan hanya makhluk sosial, melainkan juga makhluk ekologis.

  • Tanggung Jawab Terhadap Alam (Moral Responsibility for Nature)

Manusia tidak bisa lepas begitu saja dari alam, karena pada dasarnya kehidupan manusia sangat bergantung dengan alam. Hal ini secara tidak langsung membuat manusia memiliki tanggung jawab kepada alam.

Meski begitu, tanggung jawab terhadap alam tidak dapat dilakukan secara individual. Jika dilakukan secara individual, maka kerusakan alam masih memiliki peluang besar untuk terjadi. Seperti halnya kasus kebakaran hutan di atas, dimana masyarakat Papua memang sudah menjaga hutan tersebut dengan baik, namun masih ada pihak lain yang bersikap sebaliknya yaitu membakar hutan.

  • Solidaritas Kosmik (Cosmic Solidarity)

Sikap  tanggung jawab di atas, akhirnya menciptakan perasaan senasib sepenanggungan dengan alam dan dengan sesama makhluk hidup sehingga mendorong adanya rasa solidaritas yang berfungsi sebagai kontrol diri untuk tidak melakukan perbuatan tidak terpuji.

  • Kasih Sayang dan Kepedulian Terhadap Alam (Caring for Nature)

Kasih sayang secara singkat dapat diartikan sebagai belas kasih, yakni rasa keterlibatan manusia dalam derita yang lain sebagai ungkapan kesetiakawanan. Dengan berbelas kasih dan bersifat peduli, maka dapat mencegah manusia untuk berbuat kerusakan terhadap alam dan sekitarnya.

Fahrudin Faiz juga menyebut, bahwa prinsip Etika Lingkungan ini erat kaitannya juga dengan kehidupan Islam. Hal ini dibuktikan dalam firman Allah:

Telah Nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar) (Q.S. Ar Ruum ayat 41).

Ayat di atas menjelaskan bahwa kerusakan hingga bencana yang terjadi di alam sejatinya adalah akibat dari perbuatan manusia yang tidak bisa menghargai alam sepenuhnya. Sekalipun manusia adalah makhluk yang diciptakan oleh Allah Swt. sebagai makhluk paling sempurna di muka bumi, hal itu tidak bisa dijadikan alasan bagi manusia untuk merusak alam sesuka hati mereka.

Perilaku merusak alam adalah akibat dari sifat sombong dari manusia, di mana mereka merasa adalah makhluk paling sempurna, sehingga alam dianggap sebagai sebuah objek yang bisa mereka eksploitasi semaksimal mungkin, tanpa peduli apa akibat yang ditimbulkan.

Lingkungan alam sekitar merupakan bagian dari kehidupan manusia, sehingga harus dipandang sebagai salah satu ekosistem yang wajib untuk dihormati, dihargai, dan dirawat. Karena sejatinya, apa yang terjadi di alam, adalah cerminan dari masyarakat sekitarnya.

Alam memang diciptakan lebih rendah (taskhir) agar dapat dimanfaatkan, dipelajari, dan digunakan manusia dengan sebaik-baiknya. Namun kita juga harus melihat alam sebagai sumber ajaran dan pelajaran yang telah Allah ciptakan dengan cara memelihara ciptaan Allah tersebut, serta memeliharanya agar menjadi lebih baik (ashlah), bukan malah dengan mengeksploitasi alam secara berlebihan sehingga menimbulkan kerusakan di muka bumi.

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *