Halwa

Malam ini, Halwa bukan Halwa. Kata-kata yang keluar darinya tak lagi semanis ia punya nama, kusut bukan main.

Bangsat! Manusia-manusia biadab! Malam ini, Halwa bukan Halwa. Kata-kata yang keluar darinya tak lagi semanis ia punya nama, kusut bukan main. Rambut yang keruntang-pungkang, tak punya arah. Mata sembab, merah menyalakan amarah. Rokok dan kepulan asap, anggur yang tetes terakhirnya mengering, buku catatan kelabu. Kamar indekos murah di pinggiran kota besar yang ia sewa dengan murah itu betul-betul sesak, kehilangan jiwa.

Halwa tak sanggup lagi berpikir, bukan malam ini saja, begitu terus sejak beberapa minggu belakangan. Ia sudah kehabisan air mata, segenap kekuatannya sudah luruh. Ia merasakan jantungnya kehilangan ritme sejak minggu-minggu terakhir, dan hari itulah puncaknya.

Dengan matanya yang masih mendung seperti sisa hujan yang tak kunjung menampakkan cahaya. Di atas sebuah kursi di dalam kamarnya, ia menatapi lampu neon yang redup karena kehabisan stamina. Dingin. Menatap dengan kekosongan yang sudah begitu saja.

***

Dengan keceriaan seadanya, semampu yang ia bisa, Halwa datang ke kantor pagi itu. Seperti biasa, tiap hari pengarahan diberikan tim direksi dan manajer divisi. Jam 8, semua kawan-kawan sales berkumpul dengan tampang pura-pura siap. Halwa menandai beragam warna dengan inderanya; aroma kopi murah, mulut-mulut bau rokok, satu-dua mata kantuk yang masih membawa mimpi-mimpi indah semalam, juga dada yang berdegup khawatir terkena marah atasan karena belum memenuhi target.

Baru 10 menit, selepas salam pembuka dari direksi yang sebetulnya isinya hanya basa-basi dan seocehan doa kosong, persis karena cuma jadi semacam formalitas, dada Halwa nyeri seakan tersentak, bosnya menegur, “Halwa, bagaimana ini target kamu, kok jauh sekali?”

Mati aku! Batinnya. Ia mulai merasa buruk. Kenapa lagi ini?

“Martin, bagaimana menurutmu? Kamu kan pemimpin tim, Laporan yang masuk menandai menurunnya kinerja timmu, Martin.”

Halwa cemas, ia berharap Martin melindunginya dari serangan Pak Billy. Semua tim penjualan tahu betul, Billy meskipun masih muda, berwajah bersih dan tampan, ia punya otak dan hati yang keras soal target penjualan. Entah karena ia serius memikirkan perkembangan perusahaan atau perkembangannya sendiri, tak ada yang mau memastikan. Yang jelas semua orang tahu, seringkali karena urusan perut dan segala sesuatu di bawahnya, siapapun rela kehilangan hati dan otak. Halwa juga menyimpan pikiran, bahkan sebetulnya Billy hanya sok kuasa saja, tentu karena jabatannya memang mendukung untuk itu.

Oh ayolah Martin, selama 9 bulan bekerja, kita sudah sangat dekat, bukan? Halwa hanya bisa merintih.

“Saya akui, Pak Billy, saya sudah sering cerita soal Halwa juga ke Mas Romy selaku manajer, bahwa dia memang sudah sangat jauh dari target penjualan kita. Dan hal ini dipersulit dengan ketidakterbukaannya pada tim. Kinerja Halwa memang buruk.”

Anjing! Sialan kau Martin! Kukira kau akan membelaku, anak buahmu, temanmu sendiri, di hadapan orang banyak seperti ini! Aku tak butuh kau tinggikan, cukup jangan jatuhkan aku di hadapan orang banyak, anak setan!

Billy mengatupkan rahang. Halwa hanya menunduk lesu. Romy dan Martin hanya bisa memasang muka menyesal. Sedang yang lain, entahlah, mungkin menertawakan Halwa dalam hati.

***

Sejak kejadian pagi tadi, Halwa semakin ditekan untuk memenuhi target. Ia sendiri sadar, tak ada gunanya protes pada Martin, walau kepalang kecewa. Bagaimana tidak, pemimpin timnya itu sudah ia anggap seperti abangnya sendiri. Di kota besar ini, ia merantau ribuan mil dari kampung halamannya, hidup seorang diri. Awalnya Halwa kuliah di bidang manajemen bisnis karena ingin tahu ilmu mengelola perusahaan. Ia memang berniat menjadi pengusaha selepas kuliah agar bisa mengubah nasib keluarga. Sayangnya, ia harus dikeluarkan dari kampus karena beasiswanya dicopot sebab akumulasi IPK-nya di tahun ketiga tak memadai.

Ceritanya berakhir menjadi seorang pejuang nasib di ibu kota. Ia bertemu Martin di sebuah event kampus dulu, ia hubungi Martin untuk minta pekerjaan agar bisa menghasilkan uang. Ia ceritakan segala keluh kesah perjalanannya pada Martin, tetapi sesaat saja kinerjanya menurun dalam 2 bulan ke belakang, Martin sekonyong-konyong menjatuhkannya di hadapan orang banyak.

Pengkhianat! Halwa tak berhenti memaki. Kesal tak terperi.

Hari itu sudah persis tengah malam, Halwa masih harus terus berkeliling menjual rokok dari merek perusahaan tempat ia bekerja. Sendirian, kawan-kawan sudah boleh pulang, sedangkan malam ini ia masih harus menjebol target hariannya.

Halwa menatap sebuah kafe. Lampu temaram, musik yang lembut, pengunjung yang tak terlalu ramai. Di meja bagian luar, ia melihat tiga orang pria, masih muda, mungkin tak jauh dari umurnya. Mereka asyik tertawa di tengah obrolan yang tak ia dengar. Halwa menghampiri.

“Malam, Mas. Rokoknya sudah mau habis, kan? Ini aku bawain rokok banyak nih, keluaran terbaru. Review dari pelanggan kami rasanya lembut dan enak loh. Mau? Sedang promo, beli dua gratis satu.”

“Wah, kalau saya punyanya yang keras nih, Mbak. Tapi sama enak juga kok, iya gak?” seloroh pria dengan tubuh paling besar di antara mereka. “Mau?” katanya lagi, yang lalu disambut geger tawa dua kawannya.

“Iya, Mbak. Malahan rokok kita awet loh, dihisap gak habis-habis,” pria di sebelah kanannya menyahut, mengundang tawa berikutnya.

Halwa ingin sekali menyumpal mulut kotor mereka dengan tinjunya. Namun sepemikirannya, ia tahu tak akan menang. Adu tinju, apalagi lawan tiga lelaki hidung belang, sangat merugikannya. Apalagi setelah semua lelah yang harus ia lewati seharian ini, ia sadar bahwa sebetulnya ia telah kehabisan tenaga. Begitulah ia memilih pergi.

***

Jumat, hari yang ditunggu-tunggu Halwa di tiap minggunya. Dari awal sebelum ia masuk bekerja di perusahaan rokok, ia sudah meminta untuk tidak masuk di event hari sabtu dan minggu. Ia beralasan karena dari awal berencana untuk bisa bekerja sambil kuliah di akhir pekan, meskipun rencananya tak terpenuhi karena pekerjaannya ternyata sudah cukup membuat kepalanya hangus, hancur dengan target-target perusahaan. Mana bisa lanjut belajar aku kalau begini, pikirnya waktu itu. Ia beruntung, permintaannya dikabulkan dan ia tak perlu masuk di akhir pekan.

Jumat itu Halwa bekerja habis-habisan, total. Ia mencoba melupakan semua sampah yang terlanjur membebani pikiran, juga mengotori kepekaannya. Ia berikan yang terbaik, hasilnya mengejutkan, hari itu ia melampaui target hariannya. Bahkan sangat jauh dari yang biasa ia hasilkan. Senang bukan kepalang. Halwa betul-betul merasa enteng. Ia pulang ke kamar indekosnya dengan rasa lega.

Minggu ini minggu yang sulit bagi Halwa, untuk merayakan sedikit rasa bahagia itu, ia berpikir untuk bersenang-senang. Ia ingin sedikit rileks, berkeliling, tertawa, mengobrol hingga lupa waktu, minum sampai mabuk. Tak perlu malam ini, besok saja sekalian malam minggu. Baik, semoga Reza sedang tak sibuk, pikirnya. Ia langsung mencari kontak Reza, kekasihnya.

“Halo. Reza?”

“Hai. Akhirnya, kamu bisa telepon aku duluan juga. Suaramu juga ringan,” jawab Reza di ujung telepon.

“Ya, aku sedang lega. Target penjualanku naik, dan, aku ingin mabuk.” Halwa menghela napas sejenak. “Besok malam ya, sekalian malam mingguan. Biar seperti merpati-merpati lain, Za.”

“Aku minta maaf, Hal. Kebetulan aku besok manggung. Lumayan loh uangnya. Bisa buat kamu pindah ke tempat indekos yang lebih enak, biar kamu jangan bertelur di tempat itu terus, seperti janjiku.”

Ah, janji itu lagi. Reza, seorang musisi yang karirnya mulai menanjak. Reza teman sekampusnya dulu, kakak tingkat. Awalnya ia mengamen di jalanan, perlahan-lahan mulai masuk ke panggung-panggung yang cukup besar. Ia pernah berjanji akan membantu keuangan Halwa. Karir Reza terus menanjak. Namun janjinya masih menggantung di awan-awan.

Halwa membalas tak apa, menutup telepon, menghubungi dua orang sahabat dekatnya, Cika dan Salma. Mereka menerima ajakan Halwa untuk pergi. Janjian di sebuah kafe baru yang sedang hit, idola baru tongkrongan muda-mudi ibu kota.

***

Cika dan Salma adalah sahabat yang juga dikenal Halwa di bangku kuliah dulu. Anak-anak orang berada. Mereka berdua dekat begitu saja dengan Halwa, bahkan setelah mereka tahu bahwa ia hanya anak rantau yang terlampau miskin untuk main dengan mereka. Mungkin karena Halwa lebih cerdas dari mereka, juga lebih cantik meskipun tanpa perawatan kulit yang serba mahal. Tentu saja, mereka juga berpikir Halwa menyenangkan menjadi seorang teman. Meskipun di saat-saat kejatuhan Halwa mereka tak mampu membantu banyak, atau mungkin tepatnya tak mau, entahlah. Nyatanya, hingga kini mereka berteman dan sesekali pergi bersama, seperti malam ini.

“Nanti sepulang dari sini, kita ke apartemenku saja, ya. Di sana lebih nyaman untuk minum. Tak banyak mata dan mulut orang Indonesia seperti di tempat kamu, Hal,” ujar Cika.

Dengan antusias, Salma menyahut, “Kita sudah beli banyak anggur, yey!” Mereka tertawa bersama.

Lewat satu jam mereka mengobrol di kafe tersebut, samar-samar Halwa melihat Reza, begitu rapi dan gagah. Ia pun menggandeng seorang perempuan yang tak kalah gagah di sampingnya. Mereka berdua saling melempar tatapan hangat, dan mesra. Sesuai ajakan Halwa kemarin malam, Reza malam itu betul-betul mabuk, meskipun bukan bersamanya. Ia bahkan tak sadar Halwa ada di kafe yang sama. Halwa merasakan amarah yang begitu memuncak. Wajahnya panas. Hatinya meletupkan luka. Darahnya mengalir deras, berusaha menjebol kepalanya. Sepersekian detik, ia sigap mengambil sikap. Ia tundukkan keinginan menghajar muka lelaki bajingan di depannya. Ia hanya berteriak dalam hati, “Bangsat!”

Satu jam kemudian, lagi. Selama itu pula Halwa mengawasi Reza bersama setan cantik di sampingnya. Menunggu kapan mereka keluar. Tak lama, mereka berdua beranjak. Halwa sigap memesan taksi online, berniat membuntuti mereka.

“Cik, Sal. Maaf aku harus pulang.”

“Loh, kenapa Hal? Kok tiba-tiba?” Cika bertanya-tanya. Ia kecewa karena sudah menyiapkan apartemennya untuk pesta malam minggu mereka bertiga.

“Mendadak aku gak enak badan. Rasanya kelelahan. Aku pulang ya. Selamat bersenang-senang,” Halwa pamit dengan cepat.

Dari dalam taksi, cukup jauh dari sepeda motor Reza, ia terus mengikuti kedua pasangan tersebut. Halwa betul-betul hancur. Sepanjang jalan, ia terus mengutuk waktu dan dirinya sendiri. Memutar memori peristiwa yang tejadi beberapa minggu belakangan. Kelelahan karena tekanan target kerja. Tim di kantor yang tak saling mendukung satu sama lain. Persaingan di tempat kerja yang harum di permukaan namun busuk sampai ke akar. Hubungan asmara yang membosankan. Pertengkaran terus-menerus dengan Reza karena ia semakin sibuk dengan urusannya. Merasa dikhianati tim kerja sendiri dengan dibunuh karakternya di depan khalayak. Pemberian jam kerja yang tak wajar karena kejar target. Pelecehan seksual oleh bajingan-bajingan tak ada otak. Akhirnya, perselingkuhan Reza.

Akhir yang brilian.

Kedua orang itu berhenti di sebuah kamar indekos mewah. Sangat jauh kelasnya dari tempat tinggal Halwa. Ini bukan tempat tinggal Reza, tempat siapa? Perempuan itukah? Siapa nama perempuan brengsek itu? Halwa diliputi banyak tanda tanya. Di sana, Reza memarkir sepeda motornya, terlihat masih baru, bagus sekali. Sejak kapan ia beli sepeda motor sebagus itu? Ah, terlalu banyak pertanyaan. Halwa langsung membayar taksi dan turun, mengamati mereka berdua dari ujung jalan.

Ketika mereka mulai masuk, Halwa mengikuti hingga ke kamar yang mereka tuju. Begitu mereka masuk, saat Reza hendak menutup pintu kamar, Halwa melesak masuk.

“Jadi ini, yang kamu bilang manggung? Yang uangnya lumayan untuk bantu aku bisa pindah. Ternyata kamu pindah duluan dengan manggung di atas perempuan lain.”

Reza tak siap. Tak sempat ia mencerna apa yang terjadi. Ia hanya membatu sambil berusaha terbata-bata menjawab, “Halwa… kenapa kamu bisa di sini?”

Perempuan yang masih kebingungan di atas kasur itu juga sibuk mencerna kejadian di depan matanya, “Perempuan ini siapa, Za? Dia mau ap…”

Kata-kata dari mulut perempuan entah siapa itu tak pernah usai. Secepat tarikan napas, dunia Halwa getir, gelap, sempit. Tak perlu tahu apa gunanya gunting besar itu ada, benda tajam yang terletak di atas meja itu disambar Halwa. Melenyapkan semua kata. Meninggalkan bau anyir darah.

***

Bangsat! Manusia-manusia biadab!

Sepulang ke kamar indekosnya di pinggiran kota, Halwa tertatih merekam semua peristiwa. Benar-benar tak menyisakan jeda. Semuanya terjadi begitu saja.

Anggur yang ia curi dari kamar indekos mewah itu telah kering, tandas. Imbalan dari dua nyawa mencekang yang berakhir menjadi mayat busuk tak berharga. Mati di atas derita karena perselingkuhan tolol. “Mampus!” sumpah serapah tak terbendung oleh lidahnya. Rokok dan kepulan asap juga makin membuat kamar itu sesak.

Dengan matanya yang masih mendung seperti sisa hujan yang tak kunjung menyingkap cahaya. Di atas sebuah kursi dalam kamarnya, ia menatap lampu neon yang redup karena kehabisan stamina. Malam ini, Halwa bukan Halwa. Ia telah jadi tak semanis namanya.

Dingin. Menatap kosong apa saja yang ada di depannya.

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *