Hari Senin Akan Terus Datang Sementara Kita Masih Saja Mengeluh

Kehidupan memberi jeda pada hari Minggu, dan menghajar dengan garang di esok paginya.

Bangun masih saja kesiangan. Setelah saya hitung, kurang lebih hari ini tepat Senin yang ke seribu dua ratus empat puluh delapan. Cukup fantastis bukan?

Dari rumah Arriha di sekitaran distrik Doudiat, saya dan Amin memutuskan untuk bersepeda ke tempat jaga stand. Alasannya sederhana, agar tidak mengurangi gaji kami jaga stand di acara pameran handcraft 2020 yang disponsori oleh Kementerian Pariwisata dan Kerajinan Tradisional Kerajaan Maroko.

Karena kami berdua tidak tinggal di kota Marrakesh, terpaksa menggunakan Google Map untuk mencapai tempat yang dituju. Udara musim dingin cukup menelanjangi tubuh kami hingga ke tulang. Tadi malam hujan, bahkan di beberapa titik turun salju. Tapi kami tetap mengayuh dan mengayuh, ban sepeda kami adalah wasilah pundi-pundi rejeki kami.

Menurut penuturan kawan-kawan yang sudah pulang ke tanah air, “Cari uang di Maroko lebih mudah daripada di Indonesia.” Sebenarnya saya sepakat, tapi setelah berpikir ulang, tidak juga. Semua tetap kembali pada nasib dan kemauan tiap pribadi. Jadi bagaimanapun, saya tetap mengimani pepatah Jawa itu, ora obah ora mamah ‘tidak gerak tidak makan’.

Beberapa menit lalu, saya mengobrol panjang dengan satpam yang menjaga tepat di depan stand, Hisyam namanya. Orangnya kalem dan supel. Di obrolan sebelumnya, dia merekomendasikan beberapa musisi tradisional Maroko. Ada tiga nama yang ia sebut, Abdel Hadi Belkhoyyath, Abdel Wahab Ad-Doukali, dan Mohammed Al-Hayani.

Beruntungnya, di sela-sela kami ngobrol, ternyata salah satu lagu dari Abdel Hadi Belkhoyyath diputar oleh operator. Mendadak ia menggoyangkan pinggulnya dan matanya terpejam menikmati. Secara spontan ia mulai menerangkan isi lagu tersebut, bagaikan Socrates mengajar murid-muridnya tentang kebenaran, dengan penuh penghayatan ia menceritakan bahwa lagu itu berkisah tentang lelaki yang ditinggal kekasihnya hanya karena kemiskinan.

Orang tua Si Perempuan telah menjodohkan putrinya dengan lelaki terpandang dan lebih kaya tentunya. Tapi tetap cinta si perempuan hanya milik lelakinya yang miskin. Hingga ia seringkali menangis dan sakit-sakitan. Orang-orang sering mengunjungi dan melihat dari jendela keadaannya yang semakin memburuk.

Bagaimana kelanjutan kisah cinta dua sejoli tadi, saya tak mau ambil pusing. Saya lebih tertarik dengan cerita-cerita Hisyam setelahnya. Setelah mendapat pertanyaan lancang dari saya, Hisyam berkisah, atau lebih tepatnya sambat, bahwa ia pernah menikah, dan sekarang sedang pisah (pisah di sini cerai).

“Banyak hal yang akan kauhadapi setelah menikah. Jika kau belum siap untuk sakit hati, berjuang sekuat tenaga untuk hidup dan menghidupi orang lain, mendapat omongan-omongan tak enak untuk keluarga kecilmu, maka jangan berpikir dulu untuk menikah. Tapi jangan khawatir, seusiamu ini, sudah waktunya, haha.” Ia tersenyum penuh kemenangan setelah raut muka yang tadinya keruh lewat begitu saja. Ajaib memang manusia ini.

Ia belum punya pekerjaan tetap, serabutan sana-sini. Apapun pekerjaan yang datang kepadanya, akan langsung ia ambil. Yang penting halal dan tidak makan hak orang lain. Keberkahan akan bermuara di situ, begitu keyakinan yang ia pegang.

Petikan-petikan Oud yang mendayu-dayu mengiringi obrolan kami yang semakin mendung. Ia melanjutkan, kali ini ia digaji menjadi sekuriti sebesar 1120 Dirham untuk 14 hari. Dan raut mukanya mendadak berubah, setelah ia bilang, bahwa belum tahu lagi adakah kerjaan untuk selanjutnya.

Dua hari yang lalu, saat jaga stand di hari pertama, saya melihat petugas kebersihan, seorang lelaki paruh baya membersihkan tempat kencing berdiri yang mampet. Air kencing kuning kecokelatan menggenang. Dengan cekatan, ia membuka penampung air yang mampet, dan air kencing tadi tumpah ruah mengenai tangan dan sebagian cipratannya mengenai mukanya. Sementara ia tetap santai, sesantai tukang sedot WC yang mengubek tai di WC-WC mampet milik tetangga rumah di kampung halaman.

Mari sejenak beralih ke sambatan kawan Maroko saya, lulusan S2 Ushuluddin, Tetouan, Moukammad namanya. Ia pernah jadi pelayan kafe di dekat rumahnya saat liburan musim panas dua tahun lalu. Jam kerjanya mulai 8 pagi, dari bersih-bersih, menata meja, dan melayani pengunjung, hingga berakhir pukul 12 malam.

Seminggu penuh ia harus kerja, tanpa pengganti, karena saat itu ia hanya pelayan satu-satunya. Dalam satu bulan ia cuti dua kali, karena sakit. Mungkin kelelahan, 16 jam kerja nonstop melayani pelanggan, mengantar pesanan dan mengelap meja-meja yang kotor. Belum lagi kalau ada salah pesan, ia akan dimarahi bosnya.

Bayangkan, dengan sistem kerja yang demikian beratnya dan seorang diri, ia hanya digaji 1500 Dirham sebulan. Sementara ia sebagai anak tertua, harus jadi tulang punggung yang menopang keluarganya. Ada yang salah tentunya. Ia memutuskan berhenti dari kafe tempatnya bekerja setelah menjalani dua bulan penuh kepayahan. Saya percaya, suatu saat benih-benih perlawanan terhadap sistem yang memiskinkan ini akan tumbuh subur di negeri kerajaan penuh damai ini.

Sambil tetap jaga stand, yang pengunjungnya kabur sekali melihat harga songket yang terpajang, saya menulis catatan kecil ini dengan penuh kesadaran bahwa hidup akan terus berjalan. Hari Senin akan selalu datang. Hingga ajal tiba dan kita tak lagi ingat hari-hari, bahkan waktu sekalipun.

Kehidupan memberi jeda pada hari Minggu, dan menghajar dengan garang di esok paginya. Lalu, masih adakah kesempatan untuk mengeluh, di kehidupan yang tak kenal waktu menghabisi kita hingga hampir mampus setiap harinya?

Tidak berlebihan seorang Wiji Thukul dalam Nyanyian Akar Rumput menghayati hari Senin dengan penuh rasa syukur kepada kehidupan yang telah memberinya anugerah yang tiada habis. Akan saya kutipkan di sini, sekaligus penanda bahwa mengeluh boleh, sambat boleh, tapi harus tetap bergerak dan melanjutkan hidup dengan rasa syukur paripurna.

Pada hari Senin pagi ketika matahari yang panas menyengat
Aku bagai suling mengusik telingaku sendiri
Bung! Ayo bikin nyanyian sebelum mampus

Ayo bikin nyanyian tanda syukur kepada hidup

Pada hari Senin pagi pintu rohaniku digedor sang tatah
Ayo! Tatah hari Selasamu, pahat minggu-minggumu
bulan-bulanmu, umur, tahun-tahunmu
biar yang belenggu jadi kekasih hati

Marrakesh, 20 Januari 2020

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *