Hujan yang Turun di Sebuah Kisah

Ibu Malin Kundang juga jahat, kenapa dia tega mengutuk anaknya sendiri menjadi batu?

Hujan baru saja turun di penghujung tahun ini, Minggu pagi menjadi lembab, beraroma daun dan tanah basah. Herman pamit pada neneknya untuk bermain. Teman-temannya sudah menunggu di depan. Herman mengajak mereka untuk menjemput teman barunya, tetangga yang baru saja pindah dari luar kota. Pukul 8 pagi mereka mandi hujan dan berjalan-jalan menyusuri kampung di sekitar komplek tempat tinggal mereka.

Dulu mereka sering pergi sambil membawa jaring, benang, dan kail pancing. Herman dan temannya yang lain suka mencari ikan dan belut, di lubang-lubang kecil atau kubangan-kubangan air di sawah. Jika hari tidak berhujan, mereka bersepeda menyusuri jalanan di sekitar persawahan itu, melihat padi menguning dan punggung ibu-bapak petani yang kuat, juga melihat matahari terbenam kala sore.

Sekarang mereka sudah tidak bisa melihat semuanya, sawahnya sudah jadi ruko dan beberapa rumah untuk komplek baru. Hari ini mereka tidak bisa mencari ikan dan belut lagi, tempat mencarinya sudah tidak ada, dan kalaulah ada itu jauh dari rumah mereka.

Hujan deras perlahan berubah menjadi rerintik kecil. Menjelang siang hujan reda, dan saat reda mereka pulang ke rumah masing-masing. Herman dan Merah berjalan bersama. Sepanjang perjalanan Herman bercerita bahwa esok lusa adalah hari ulang tahunnya, dan ia tidak sabar melihat hadiah yang akan diberikan oleh ayah. Ayah Herman adalah seorang dosen di perguruan tinggi negeri, dan ibunya guru di SMP swasta.

“Lusa hari ulang tahunku, Rah, besok kamu datang main ke rumahku, ya?”

“Serius?”

“Ya betul, besok aku jemput jam 3 sore di rumahmu, aku akan minta izin ke bundaku.”

“Kalau begitu aku juga minta izin ibuku.”

“Tapi kamu harus tahan nanti jika di rumahku ada perempuan cerewet, yang pasti akan ngajak ngobrol kamu.”

“Ibumu?”

“Bukan, kakakku, dia cerewet dan suka mencubit pipiku.”

“Hahaha, secerewet apa kakakmu?”

“Kamu pernah melihat keledai betina yang merintih ketika sedang sakit perut belum?”

“Hahaha, keledai betina pun belum. Di mana kamu melihatnya?”

“Kapan-kapan kamu harus melihatnya di National Geographic, aku dan ayah suka melihatnya di TV.”

Merah baru saja pindah ke kota ini, sudah 3 bulan. Ia bercerita tentang keluarganya, ayah-ibunya, dan seorang kakak laki-laki yang sedang kuliah di luar kota. Sebulan sekali, kakaknya selalu mengiriminya kartu pos bergambar dan buku-buku dongeng. Ayah Merah adalah seorang pengacara, ia sering membantu orang-orang yang terkena kasus hukum, tapi tidak punya cukup uang untuk menyewa pengacara mahal. Ibu Merah menjaga toko sembako di rumah.

“Boleh aku kapan-kapan main ke rumahmu, Rah? Aku ingin melihat koleksi buku-buku dongengmu.”

“Tentu, dengan senang hati, bahkan kau boleh membacanya di ruang keluargaku kapan pun kalau aku sedang di rumah. Semua buku itu diberi kakakku.”

“Terima kasih.” Herman tersenyum.

“Karena lusa hari ulang tahunmu, aku akan memberi salah satu buku dongengku, itu hadiah dariku untukmu besok.”

“Wah, sungguh? Terima kasih lagi. Aku baru kali ini dapat buku dongeng, aku pastikan akan membacanya.”

Senin pagi yang manis, Herman menjemput Merah di rumahnya. Herman ingin berangkat sekolah bersama Merah dengan berjalan kaki. Mereka berdua sekelas, kelas 4B.

“Pagi Herman.”

“Pagi Rah. Senang betul wajahmu, ada kabar baik apa?”

“Kakakku libur, besok dia mau pulang ke rumah.”

“Wah senangnya.”

“Ini roti isi, ambil satu buatmu.” Merah menjulurkan roti pada Herman.

“Terima kasih, bundamu baik sekali.”

“Sama-sama, enak?”

Herman tersenyum sambil mengunyah. “Enak.”

“Minum?”

“Boleh.” Herman mengambil botol minuman dari Merah.

“Saat kakakku di rumah aku pasti tidur dengannya, aku senang mendengar cerita-cerita kakakku.”

“Kakakmu biasa membacakan buku dongeng?”

“Ya, beberapa kali.”

“Buku apa yang paling kamu ingat?”

“Hmm…” Merah menghitung dengan jemari kecilnya. “Buku Pangeran Bahagia karya Oscar Wilde, kisah tentang dua anak yang mencari bintang karya Charles Dicken. Apa lagi ya? Aku juga sering diceritakan tentang sejarah perjuangan, seperti seorang bapak Republik Indonesia yang bernama Tan Malaka, ia seorang pahlawan yang anti-kediktatoran, begitu kata kakakku.”

“Anti-kediktatoran? Mengapa Anti? Kediktatoran itu apa, Rah?” Tanya Herman kebingungan.

“Aku juga belum tahu benar sih, semacam kejahatan mungkin?”

“Mungkin,” jawab Herman sekenanya, “Apa kakakmu juga anti-kediktatoran?”

“Sepertinya sih begitu. Oh iya, kakakku juga sering memainkan musik-musik keren, dan yang membuatku senang lagi, dia juga sering membacakan puisi-puisi, misalnya yang ini.” Merah berlagak seperti kakaknya dan membaca beberapa bait puisi Sia-Sia oleh Chairil Anwar:

Ah! Hatiku yang tak mau memberi
Mampus kau dikoyak-koyak sepi.

Sesampainya di sekolah, mereka langsung menuju kelas, lima menit lagi pelajaran akan dimulai. Pelajaran pertama hari ini Bahasa Indonesia, bu guru baru saja masuk kelas.

“Selamat pagi anak-anak,” sapa bu guru.

“Pagi Bu guru,” satu kelas menyahut.

Bu guru membagikan fotokopi cerita Malin Kundang di kelas.

“Anak-anak, itu adalah cerita Malin Kundang, sekarang tugas pertama kalian adalah membaca cerita, setelah membaca, kalian harus memberi tanggapan masing-masing di buku tulis, lalu kalian bacakan untuk ibu, ibu beri waktu 40 menit.”

Setelah hampir habis tenggat waktu yang diberikan, bu guru kembali bertanya, “Ada yang sudah selesai menulis tanggapan?”

Herman, Merah, dan beberapa teman di kelasnya mengangkat tangan.

“Sekarang yang sudah selesai menulis tanggapan, ibu minta kalian bacakan tanggapan kalian, dimulai dari Herman, silakan berdiri Nak.”

“Baik Bu guru.” Herman berdiri dan mulai membaca catatannya. “Sejak kecil Malin Kundang adalah anak yang manja, dia juga anak yang beruntung karena punya ibu yang sangat mencintainya. Ia selalu digendong oleh ibunya. Mungkin ia juga seorang penakut ketika kecil, ia selalu ingin ikut ibunya pergi ke mana-mana. Ia juga sombong dan suka berbohong, sampai ia mendurhakai ibunya dengan tidak mengakuinya di depan calon istri, hanya karena ia tidak mau dianggap miskin. Akhirnya ibunya pun murka dan mengutuknya menjadi batu. Ibu Malin Kundang juga jahat, kenapa dia tega mengutuk anaknya sendiri menjadi batu?”

Bu guru tertawa kecil dan tak berlama-lama. “Terima kasih atas tanggapannya Herman, tanggapan yang bagus sekali. Mari tepuk tangan buat Herman.” Seisi kelas riuh menepukinya. “Jadi terakhir Herman bilang, kalau ibu Malin Kundang juga jahat karena mengutuk anaknya sendiri menjadi batu?”

“Iya Bu, beda sekali dengan bundaku, aku juga nakal, kadang jahat, tapi bunda sabar, tidak pernah memukul bahkan membentakku, bunda hanya menasehatiku dengan cerita-cerita. Beda dengan kakek, kakekku jahat, suka membentak, dan memukul dengan rotan kalau aku sulit bangun subuh dan tidak salat.”

Kisah Malin Kundang sangat seru di mata Herman dan Merah, mereka terus membicarakannya di jalan pulang.

“Malin Kundang itu jahat sekali, semoga aku dijauhkan dari pengalaman yang seperti itu,” Merah memohon.

“Malin Kundang dan ibunya sama-sama berubah menjadi orang yang menakutkan,” sahut Herman.

“Betul sekali!”

“Suatu saat nanti aku tidak mau punya istri, karena itu bisa mengubahku dan bunda jadi orang yang menakutkan.”

“Kalau calon istrinya baik seperti ibumu? Apa kamu masih tidak mau beristri?”

“Aku tidak tahu, tapi selama ini orang yang paling baik menurutku hanya ibu, ayah, kakak, nenek, dan kamu.”

“Teman-temanmu yang lain bagaimana?”

“Mereka juga baik, tapi tidak sebaik ibuku, ayah, nenek, kakak, dan kamu.”

Sesampainya di rumah, Herman masuk ke kamarnya, mengganti pakaian, makan, lalu tidur. Pukul 18:30 sepulangnya dari mengaji, Herman menonton berita di televisi bersama ibunya dan ayah. Ratusan mahasiswa memadati Senayan, poster-poster bertuliskan #ReformasiDikorupsi terpotret di mana-mana, beberapa peserta aksi yang dituduh provokator dipukuli dan ditangkapi, dan seorang mahasiswa UHI Yogyakarta tewas di tempat akibat luka tembakan di kepalanya.

“Yah, kediktatoran itu apa?” Herman tiba-tiba bertanya kepada ayahnya.

“Kamu tahu dari mana istilah itu?”

“Dari Merah Yah, dia sering diceritakan tentang Tan Malaka.”

“Pintar sekali Merah, Merah tahu dari mana?”

“Dari kakaknya, kakaknya bercerita bahwa Tan Malaka sosok yang membenci ketidakadilan. Apa ketidakadilan itu sama dengan kediktatoran, Yah?”

“Kediktatoran itu kekuasaan suatu negara yang hanya dipegang seseorang saja, mereka mengelola dan mengatur negara semau-mau mereka, tanpa menghiraukan pendapat yang lain atau rakyatnya. Karena kebebasan berpendapat dilarang, orang-orang tidak boleh menyalahkan pemerintah atau presiden, walaupun presiden dan pemerintahnya tidak adil dan salah, orang-orang tidak boleh menyalahkannya, karena jika ada yang menyalahkan, mereka yang menyalahkan bisa ditangkap tentara, dan tidak bisa kembali lagi ke rumahnya.”

“Mereka yang ditangkap ada di mana?”

“Ayah juga tidak tahu, yang jelas mereka ditangkap dan ditahan di suatu tempat, kadang ada yang dikembalikan, dan banyak juga yang tidak dikembalikan ke rumahnya.”

“Apa ayah dan bunda juga anti-kediktatoran?”

“Iya dong, semua orang yang menginginkan kesetaraan, kesejahteraan, kebebasan, dan kedamaian, pasti anti-kediktatoran.”

“Apa ayah dan bunda juga akan ditangkap?”

“Sepertinya tidak,” bunda menyela.

“Kenapa bisa begitu?”

“Karena anak bunda dan ayah yang bernama Herman Suryadinata, adalah seorang anak yang membawa keberuntungan.”

Herman tersenyum malu-malu.

“Tunggu sebentar,” sela ayahnya. “Kalian dengar suara orang menangis?”

Mereka seketika diam, mencari sumber suara tangisan tersebut.

“Iya Yah, sepertinya dari luar, dari rumah Bu Dewi,” sahut bunda.

Mereka keluar mencari sumber suara tangisan itu, ayah Herman melihat ke toko Bu Dewi, ibu Merah. Banyak orang berkerumun di sana, beberapa mengenakan jas almamater. Mereka menghampiri dengan was-was.

“Ada apa Pak RT, kenapa ramai-ramai begini?” tanya ayah Herman.

“Anu Pak Surya, itu anak Bu Dewi yang pertama, yang kuliah di luar kota itu… meninggal dunia ketika demo tadi sore, kena tembakan polisi di bagian kepala pas bentrokan.”

Innalillahi.” Ayah Herman mendekat ke anaknya memeluknya erat-erat.

“Kenapa Yah? Ada apa?” Herman bertanya mendesak.

“Kakaknya Merah, Kak Sandi, dia meninggal dunia ketika ikut demo sore tadi.”

Herman melepas pelukan ayahnya, ia berlari mencari Merah. Ia melesak masuk ke dalam rumah Merah, memanggil-manggil namanya.

“Merah?” ia melihat Merah bersandar di sudut tembok antara kulkas dan rak laci hiasan di ruang tamu. Ia menghampiri dan menepuk-nepuk pundaknya.

“Aku sudah tahu arti anti-kediktatoran yang dimaksud kakakmu itu, mau kuceritakan?”

“Tidak usah, Herman. Sekarang aku mengerti apa itu kediktatoran.”

“Boleh aku memelukmu?”

Mereka berdua berpelukan, baju Herman penuh dengan ingus dan air mata.

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *