Jakarta Sehabis Magrib

Sebelum magrib nadi-nadi kehidupan di Jakarta masih berdegup, dan semangat hidup itu memberi harapan.

Pertama kali saya masuk kantor, jadwal masuk kerja masih fleksibel mulai pukul tujuh pagi, hingga maksimal pukul sebelas menjelang zuhur. Pulangnya tinggal menghitung saja delapan jam kerja. Yang rajin datang jam tujuh bisa segera cabut jam tiga. Di Jakarta pulang jam segitu belum masuk waktu asar. Maka selambat-lambatnya jam pulang adalah menjelang isya, jam tujuh.

Saya selalu menargetkan masuk lebih cepat agar bisa pulang lebih awal. Patokan saya, maksimal jam lima harus segera cabut dari kantor di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat. Maka jika ada kesempatan berangkat lebih pagi, saya selalu memilih opsi itu, karena Jakarta sehabis magrib tidak menyenangkan untuk perjalanan pulang.

Jakarta sehabis magrib adalah kota yang muram. Sehabis magrib sampai masuk waktu isya jeda antar kendaraan bakal makin sempit dan menumpuk, dan tak ada yang lebih memuakkan dari Jakarta yang berjeda. Jika pulang sehabis jam delapan, jalan raya akan mulai kosong, tetapi yang berjalan pulang di trotoar akan makin sering kita jumpai.

Sehabis isya adalah jam pulang untuk para manusia silver yang biasa mangkal di lampu merah, juga badut boneka aneka rupa yang biasa berjoget di pinggir jalan. Saya berpapasan dengan mereka itu saat berangkat kerja, dengan keteguhan hidup sekeras batu karang. Manusia silver diam sediam-diamnya, dan badut boneka seperti halnya yang saya jumpai di taman hiburan atau acara ulang tahun anak-anak; tampak berusaha menghibur siapa saja.

Jika saya masih di kantor sehabis magrib, dan harus pulang menunggu jalan raya agak lengang, saya bisa sampai rumah dalam waktu kurang dari sejam (yang biasanya butuh setengah hingga satu jam lebih lama). Namun saya akan menjumpai manusia silver pulang entah ke mana, juga badut boneka pulang, dan hanya melihat punggung mereka. Pemandangan dari belakang itu terlihat memilukan.

Pulang sehabis magrib tidak menyenangkan sama sekali, baik jalanan macet atau lancar, semua terasa panjang dan melelahkan. Melihat pria-pria berkostum boneka menenteng kepala bonekanya di ketiak sambil menunduk, mengukur langkah kaki mereka sendiri, sama dengan melihat suporter klub bola klasemen bawah yang habis kalah di kandang. Saya lalu merasa sepertinya hidup di Jakarta adalah delapan jam bekerja, delapan jam di rumah, dan delapan jam di jalan.

Ziggy pernah menulis novel Jakarta Sebelum Pagi. Di sana Jakarta terlihat lebih arif dan bijaksana, seperti orang tua yang tinggal menunggu mati tanpa ada penyesalan. Dalam film Lovely Man yang dibintangi Donny Damara, seorang banci mengajak putrinya jalan-jalan lewat tengah malam, dan bilang bahwa di saat seperti itu Jakarta terasa paling menyenangkan. Kenyataannya yang saya rasakan hanya was-was dan takut dibegal kalau masih di jalan lewat dari jam dua belas malam.

Jakarta sehabis magrib hingga subuh adalah kota yang sendu. Lebih baik segera bersembunyi di rumah dan menghabiskan makan malam bersama keluarga, selagi masih ada keluarga. Kalaupun tidak ada yang menunggu di rumah, segera pulang tetap lebih baik, karena tidak ada yang menunggu juga di jalan.

Jakarta sebelum magrib—meski terik dan bikin kulit belang bagi pengendara motor—masih lebih baik dari Jakarta sehabis magrib. Sebelum magrib nadi-nadi kehidupan di Jakarta masih berdegup, dan semangat hidup itu memberi harapan. Melihat siapapun bekerja seputus asa apapun kondisinya; berjualan kerupuk bawang, menjajakan tisu, mengamen, sampai membersihkan kaca mobil, terasa lebih bergairah.

Gairah hidup Jakarta seakan berhenti sehabis magrib, maka saya ingin berangkat kerja sepagi mungkin, dan pulang sedini mungkin. Namun apalah daya, tampaknya angan merupakan satu anugerah lain yang jadi kutukan orang Jakarta.

Saya hanya bisa berangan sampai di rumah sebelum magrib, sementara bos-bos di tempat kerja sering memberi tugas terlampau banyak, susah memberi uang lembur, dan menyampaikan bahwa kantor adalah rumah kedua. Sambil berangan-angan bisa pulang cepat, saya harus bersyukur bahwa hidup bisa terus berjalan selama saya masih bekerja, selama orang-orang masih bekerja.

Jakarta, 29 Januari 2021

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *