Kamis Pertama untuk Saya dan ke-623 untuk Mereka

Dari belakang, saya bisa membaca tulisan di kaos hitamnya, “Aku merindukan reformasi dan demokrasi.” Itu dari puisi Wawan, anaknya yang mati saat peristiwa Semanggi I.

Sudah hampir jam empat, pas sekali saya tiba di Parkiran Stasiun Gambir. Pesanan gojek saya di-cancel dua kali, lalu saya pindah ke Grab dan menunggu sekitar tujuh menit sebelum dijemput. Saya lupa siapa yang mengantar, yang saya ingat, saya diberi tumpangan cuma-cuma sebab tak ada uang kembalian, dan betapa saya tak enak hati setelahnya.

“Ini gerbang depan Istana Merdeka?” baru pertama kali itu saya ke sana. Mas-mas Grab bilang sepertinya iya.

Saya menunggu di trotoar seberang istana, menyenderkan punggung ke pancang-pancang besi yang memagari kawasan Monas, sambil menyulut Djarum Black di mulut, dan memperhatikan beberapa orang yang sepertinya wartawan dari Kumparan hilir-mudik. Dua orang pemuda mendekati saya, belakangan saya tahu nama mereka John dan Arbi—kalau saya tidak salah dengar. Mereka meminjam korek api.

“Baru pulang kerja, Bang?”

“Enggak, baru pulang ke Indonesia, sih.” Bahkan belum sebulan saya di Jakarta.

“Emang dari mana Bang?”

“Kuliah di Maroko.”

“Murah di sana?”

“Murah sih, dibanding yang lain. Tapi begitu di Indonesia, di sana kelihatan mahal.”

“Di sini harga udah mulai pada naik Bang, rokok aja dua keteng lima ribu.” Kami diam menyesap rokok masing-masing.

Ibu-ibu pedagang asongan menawarkan botol air. “Esnya, esnya, yang dingin.” Saya beli dua sekalian memecah uang. Selembar lima puluh ribuan yang saya beri dikembalikan dengan dua lembar sepuluh ribuan, dan empat lembar lima ribuan.

“Ikut aksi Mas? Tiap minggu kumpul-kumpul begini gak didengar juga, percuma,” ujar ibu tadi berbisik-bisik.

“Kalau gak ramai begini tiap minggu, dagangan ibu gak laku nanti,” saya menyahut sekadarnya dan ia langsung nyelonong pergi.

Jam empat lewat seperempat, puluhan orang berpakaian dominan hitam sudah berkumpul di depan istana (tepatnya bukan pas di depan, agak menyamping kanan ke arah gedung Kemenko, sebelah pos jaga polisi sebelum masuk ke kawasan Monas). Beberapa datang sendiri-sendiri, yang lain datang berkelompok, ada yang diantar dengan mobil isi delapan orang, ada yang membawa motor, atau menumpang ojol.

Walaupun tampak ada yang datang sendiri-sendiri, mereka nyatanya tak betul-betul sendirian. Begitu sampai di sana, masing-masing berbaur, bertegur sapa, saling menyalami, dan bergurau. Saya datang sendiri, dan benar-benar merasa sendirian. Agak kikuk untuk bersosial karena ini kali pertama, dan rasanya, alasan mengapa saya datang ke sana, atau apa yang sedang saya perjuangkan, maupun penderitaan saya, tak lebih besar dari masing-masing orang yang saya lihat, tak ada sebiji zarah pun. Hari itu saya hanya bisa menyaksikan dan merekam baik-baik.

Satu tas besar berisi payung-payung hitam digeletakkan seadanya, banyak yang sudah rongsok, kerangkanya copot, atau enggan terbuka, menandakan seberapa sering mereka dibuka-tutup. Saya memilih satu yang masih bisa terbuka, dengan tambalan plester di sana-sini, lalu berdiri di belakang seorang perempuan tua berambut pendek yang sempurna putih, dengan celana pendek selutut. Saya mengenalnya hanya dari surat-surat kabar, dan cerita orang-orang. Mereka memanggilnya, Bu Sumarsih.

Dari belakang, saya bisa membaca tulisan di kaos hitamnya, “Aku merindukan reformasi dan demokrasi.” Itu dari puisi Wawan, anaknya yang mati saat peristiwa Semanggi I. Banyak orang menyalami Bu Sumarsih, saya entah mengapa malu-malu, selain karena ia terlihat sibuk menanggapi perbincangan banyak orang yang menghampiri. Saya hanya menyaksikannya dari belakang, sambil membaca selembaran surat terbuka yang bertepatan dengan Hari Keadilan Sosial Sedunia 20 Februari.

Ini Kamisan pertama untuk saya, dan di surat terbuka itu, tertulis: Aksi Diam di Depan Istana Presiden, tanggal 20 Februari 2020, Kamis ke-623. Jika dihitung mundur ke belakang, itu sudah 13 tahun. Dan sebagaimana yang ditulis dalam surat, Kamisan memang aksi diam. Orang-orang berpayung hitam dengan pakaian dominan hitam diam di seberang istana, di pinggir jalan, dengan iring-iringan asap hitam dari knalpot kendaraan.

Bus Kementerian Luar Negeri lewat, selang beberapa waktu mobil jenazah menyusul, berturut-turut setelah itu ada truk Pertamina, Gojek dan Grab, taksi Blue Bird, delman, dan segala hiruk-pikuk pusat kota. Beberapa penumpang menoleh ke peserta aksi, sesekali memperhatikan, mungkin melihat raut-raut wajah lelah yang terpahat di sana, atau membaca tulisan di spanduk-spanduk yang terbentang, atau bertanya-tanya mengapa polisi-polisi berbaris di depan mereka.

Perhatian yang diberikan para pengendara hanya sementara dan sekelebat saja, dan sudah sewajarnya. Mereka harus bekerja dan terus hidup, berhenti tiba-tiba hanya akan menambah parah kemacetan di jalan. Tak terasa sudah pukul lima, payung-payung ditutup dan dikembalikan ke tempat semula. Kendaraan terus bergerak, orang-orang lalu-lalang, wajar mereka luput, batin saya.

Namun istana tak beranjak, diam di sana, sedari dulu, sebelum 13 tahun lalu, entah apa yang membuat aksi sedemikian panjang dan melelahkannya, hingga tak kunjung sampai di meja makan istana. Karena halamannya yang terlalu luas, mungkin?

Kamisan ditutup dengan refleksi dari peserta aksi. Seorang siswi SMA berambut pendek—sejenak mengingatkan saya dengan Bu Sumarsih—menjadi moderator, pertama-tama ia berteriak lantang: Hidup korban! Disusul dengan jawaban dari peserta: Jangan diam! Lalu siswi tadi mengulangi: Jangan diam! Disusul kembali dengan jawaban: Lawan! Dua kali diulangi, saya segera hafal jargon itu. Setelahnya, ia memanggil satu per satu nama yang ingin memberikan refleksi.

Seorang karyawati sebuah bank swasta di Grogol ambil cuti, dan curi-curi waktu untuk ikut Kamisan. “Ini yang pertama buat saya, semoga besok-besok bisa ikut lagi.” Ada juga seorang petani dari Mojokerto yang berjalan kaki ke Jakarta, ia menenteng tas punggung yang tampak penuh dan kepayahan menampung isinya. “Saya mencari kemerdekaan yang sesungguhnya, di Mojokerto, sawah kami diambil para penambang!”

Refleksi digenapi oleh seorang mahasiswa perguruan tinggi, tubuhnya jangkung dan tegap, walau suaranya lirih dan pelan, namun jelas terdengar ia bilang, “Keadilan masih jauh!” Saya hanya menyaksikan dari lingkaran, dan diam-diam meyakininya. Iya, betul, keadilan masih jauh, yang dekat hanya istana.

3 Februari lalu, setelah hasil penyelidikan selama lima tahun sejak 2015, Komnas HAM memutuskan bahwa Peristiwa Paniai Berdarah sebagai kasus pelanggaran HAM berat. Adalah Moeldoko, yang melakukan penolakan paling keras terhadap laporan Komnas HAM. Ketika peristiwa Paniai terjadi pada 2014, Moeldoko belum menjadi Kepala Staf Kepresidenan seperti sekarang, ia masih menjadi Panglima TNI. Entah bagaimana kelanjutan kasus ini nanti, mari kita hitung saja, akan selesai (atau terkubur?) pada Kamis yang ke berapa.

Jakarta, 21 Februari 2020

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *