Kemana Perginya Tuan Berambut Gondrong?

Maka aku buat tulisan ini, berusaha menyegelmu. Mampus, kau takkan bisa ke mana-mana, kau abadi dalam tulisan ini dan kepalaku juga terus berusaha mengingat-ingatmu tuan.

Kulihat lelaki itu kini sedang sibuk menguncir rambutnya sembari berkaca pada spion motor yang menimbulkan bayangannya. Mengapa harus kau kuncir tuan? Aku lebih suka melihatmu dengan rambut yang begitu bebas mengembang dan berantakan.

Mungkin kau risih ya? Rambutmu kerap kali berantakan ketika ada angin datang. Namun itu kan resiko. Bila tak ingin berantakan gunakan saja hijab seperti diriku ini, mungkin kau akan menyerupai wanita seutuhnya bila kumis tipismu kau kerok habis. Pasti sungguh imut dan lucu, menggemaskan. 

Tuan berambut gondrong aku mengagumimu, sebab kau begitu indah dengan kharisma yang ditimbulkan oleh rambutmu. Aku selalu menyempatkan diri menggunakan kaca mata minusku demi melihat secara jelas keindahan disitu.

Aku cukup dalam taraf mengagumimu saja, kalau dalam taraf mencintai aku belum bisa. Sebab aku mudah sekali luluh oleh lelaki berambut gondrong dan realitanya bukan cuma tuan yang gondrong.

Lagian aku percaya, tuan sudah banyak yang suka. Kemarin aku melihat tuan sibuk mengetik sembari tersenyum-senyum sendiri di gazebo paling teduh di kampus ini. Aku mengeluh, sebab bukan aku yang menjadi penyebab senyuman itu.

Aku tak tahu apakah kau rajin keramas atau memang rambut gondrongmu kau mandikan dengan parfum. Aku selalu mencium aroma yang menggairahkan setiap aku berpapasan denganmu. Pernah juga satu helai rambutmu rontok ketika kau berpapasan denganku dan anehnya aku menyimpan satu helai rambutmu.

Tenang tuan, aku bukanlah penyihir. Aku hanya menyebut diriku penyair dengan angkuhnya. Satu helai rambutmu adalah bukti betapa aku begitu mengagumimu, hingga pada detik ini kusia-siakan waktuku untuk memujamu dalam kata-kata yang tak berarti.

Tuan terlihat begitu lelaki walaupun rambut gondrongmu sudah menyerupai milik Pevita. Ah aku salah berucap, mana mungkin tuan menyerupai wanita, wanita kan senantiasa berhijab menutupi auratnya. Jika tuan berhijab baru tuan layak dianggap menyerupai wanita. Tapi tak apa jika untuk hiburan semata, pasti tuan terlihat lucu dan menggemaskan.

Aku tak tahu, tuan sudah sejak kapan memiliki rasa istiqomah dalam hal kegondrongan itu. Aku salut, lelaki lain hanya besar omong, katanya ingin gondrong tapi setiap bulannya masih pergi ke pangkas rambut. Kebanyakan gluduk kekurangan hujan, dasar lelaki kebanyakan memang begitu. Lain denganmu tuan.

Kau berbeda, walaupun lelaki gondrong di luar sana banyak, aku tetap mengagumi kegondrongan tuan seorang. Sebab mereka gondrong dengan lurus tanpa ada seni yang menyertai atau begitu banyak gelombang di rambut mereka.

Rambut tuan amatlah berbeda. Rambut tuan memiliki gelombang yang tenang, serupa pantai yang pasti banyak pengunjungnya dan bisa dipastikan akulah salah satu pengunjung pantai dengan ombak yang tenang itu.

Tuan kau di mana? Sudah beberapa hari ini aku tak pernah melihatmu berkaca di spion orang. Aku juga tak pernah lagi bersimpangan denganmu ketika berjalan-jalan. Apakah kau sedang mengembara demi menunjukan kepribadianmu yang gondrong, atau jangan-jangan kau kena tangkap pak pol saat ada razia orang keren.

Aku rindu melihat rambutmu yang selalu berkibar di kepalamu, yang banyak menghasilkan pemikiran-pemikiran dari lubuk hati. Rambutmu juga selalu berkibar di mataku, tidak di tiang bendera yang gila hormat saat hari Senin tiba.

Aku mencari-carimu dari satu buku ke buku lainnya, aku mencarimu dari satu puisi ke puisi lainnya. Namun payah, tuan tak terdapat dalam buku-buku dan puisi-puisi yang beredar di peradaban. Maka aku buat tulisan ini, berusaha menyegelmu. Mampus, kau takkan bisa ke mana-mana, kau abadi dalam tulisan ini dan kepalaku juga terus berusaha mengingat-ingatmu tuan.

Sempat aku mencarimu di ujung pelangi saat hujan gerimis dan tiba-tiba sinar matahari datang. Aku curiga, apakah kau ikut keramas bersama bidadari-bidadari yang sudah lama tak mandi itu. Iya mereka sudah lama tak mandi, sebab akhir-akhir ini pelangi jarang sekali muncul di bumi.

Setelah aku sampai di ujung pelangi aku baru sadar, bahwa kau bidadara bukan bidadari. Aku makin pusing, di mana tempat pemandian para bidadara? Apakah di bawah aurora? Atau di atas awan putih kelabu?

Saking kagumnya aku pada dirimu, aku sampai lupa bahwa kau hanyalah manusia biasa. Percuma aku mencarimu, sampai kefanaan dunia ini habis aku takan pernah menemukanmu di bawah aurora, di ujung pelangi, dan di atas awan.

Manusia tinggal di bumi, tapi bumi terlalu luas jangkauannya. Mungkin aku butuh batu keabadian untuk bisa mencarimu. Tapi untuk apa aku abadi? Jika tuan esok hari pasti meninggal dan tak ada lagi perihal keindahan di muka bumi ini.

Aku menyerah tuan. Aku tunggu sampai seminggu, jika kau tidak juga menampakkan dirimu aku akan mencari lelaki gondrong lainnya untuk kukagumi. Lagian kita kan tidak sedang bermain petak umpet, untuk apa kau repot-repot bersembunyi pada limitasi penglihatanku.

Esok adalah hari terakhir penantianku tuan, kau harus menampakkan dirimu walau hanya sekejap. Kalau tidak, kau pasti akan tahu akibatnya. Ternyata mencarimu ke ujung pelangi, di bawah aurora, di atas awan memerlukan banyak tenaga dan akhirnya aku lapar.

Aku pun memutuskan pergi ke kantin, memesan mie ayam yang mengingatkanku pada rambut gondrongmu tuan. “Bu kantin, apakah ibu melihat lelaki yang berambut seperti mie ini?” Aku berusaha menginvestigasi. “Aku tidak pernah melihatnya puan, kalaupun lelaki yang berambut seperti mie itu ada di depan sini, aku tetap berusaha tak melihatnya. Aku phobia dengan lelaki berambut gondrong,” ucap bu kantin dengan merinding dan detik itu juga ia memutuskan tidak berjualan mie ayam lagi, ia lebih memilih berjualan bakso. Sebab katanya ia lebih menyukai pria botak ketimbang pria gondrong. Sungguh selera memang tak pernah masuk logika.

Aku pun duduk sendirian menyantap mie ayam produksi bu kantin untuk yang terakhir kalinya. Aku begitu menikmati mie ini, begitu lezat, nikmat, segala rasa soal kekulineran ada di dalam mulutku.

Saat yang bersamaan, aku tak sengaja memandang ke arah jam satu. Tepat di mana para lelaki asik dengan kopi dan obrolannya. Mereka semua nampak asing, terkecuali seorang yang berkumis tipis dan berambut rapi.

Aku pun berusaha menganalisa wajahnya dengan penglihatanku. Sembari mengunyah, aku mendapatkan hasil analisa yang baru saja dikirimkan oleh otak. Kemungkinan benar sebanyak 80%, aku jadi tak sabar untuk mengetahuinya.

Aku tersedak, mie yang belum terkunyah langsung masuk ke dalam kerongkonganku. Aku batuk-batuk, menjadi pusat perhatian sesaat. Tuan mengapa kau cukur rambut, apakah itu sebuah tuntutan atau memang sebuah niatan yang timbul di hatimu?

Aku tak peduli apapun alasan tuan. Aku kecewa pada tuan, padahal aku selalu berdoa kepada Tuhan untuk selalu menumbuh suburkan rambut gondrongmu. Namun kini lihat, Tuhan ucap sia-sia.

Lihat dirimu tuan, kau begitu rapih nampak seperti koruptor kebanyakan. Detik ini juga kau harus menerima konsekuensinya, aku tak mau menjadi pengagummu lagi, aku berpindah mengagumi lelaki gondrong lainnya.

Selamat tinggal tuan. Aku pun mencari lelaki gondrong lainnya untuk kukagumi sembari tetap konsisten menikmati mie ayam produksi terakhir dari bu kantin.

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *