Kepada Redaktur: Sehimpun Puisi Aris Setiyanto

puisiku memang jelek / tapi, aku tak ingin jejakkan kaki / di jalan yang engkau imani

Kepada Redaktur

—yang menolak naskah

saya sakit hati
Anda, jahat!

Temanggung, 15 Januari 2021

Kepada Redaktur 2

ku tak tahu
seperti apa hidup engkau
mungkin kau pemarah

tetapi, pada tiap larik yang mengetuk
selalu kuhormati engkau
dan mengucap salam

kau pun tak tahu
mengapa kata busuk ini
kusebut puisi

puisi?

Temanggung, 15 Januari 2021

Kepada Redaktur 3

wajahku mungkin jelek
memang, tapi aku
aku bersyukur
Allah titipkan ruh

wajahku memang jelek
jelek sekali
tetapi cukup kaubaca puisi
nanti juga aku dapat jodoh.

Temanggung, 15 Januari 2021

Kepada Redaktur 4

awal tahun
Tuhan turunkan cawan emas berkaki
ia penuhi lemari usang
duniaku nan maya, penuh pepujian

kini,

tidakkah kau seharusnya mulai
melirik aku?
lirik aku!

Temanggung, 15 Januari 2021

Kepada Redaktur 5

puisiku memang jelek
tapi, aku tak ingin jejakkan kaki
di jalan yang engkau imani
kan kubangun jalan sendiri
berpijak pada kata-kata

Temanggung, 15 Januari 2021

Redaktur yang Tersakiti

umpama menjahit luka
puisi yang terhidang adalah jarum-jarumnya
sebab itu ia jadi pemilih
tak sedikit jarum yang tanggal
jarum yang tanpa bius, jarum
yang tumpul, jarum yang bercabang,
jarum yang tanpa benang, sungguh
aneka.

menolak seperti menombak hati pengirim
tak dibirkan hati-hati itu lebur seketika
sementara hatinya sendiri
makin sakit
diselipkannya harapan
pada kata-kata yang tanggal

dalam hatinya,
kumenangis!

Temanggung, 15 Januari 2021

Redaktur dan Pemuisi

sementara pemuisi
datang
menjadi orang yang sangat mulas
puisi lahir dari kata-kata
yang di ujung dunia

puisi kemudian lahir,
berbentuk, dan cukup bau

redaktur adalah
kapten pemutus
akan ia buat puisi terlihat
atau ia siram puisi
hingga sampai
kakus kata yang tercabik,
aku menanti.

Temanggung, 15 Januari 2021

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *