Ketulusan dr. Cipto Mangunkusumo dalam Hubungan Kemanusiaan

Sebagaimana yang dikatakan Leibnitz, keutamaan adalah mencapai kebahagiaan diri dengan cara membahagiakan orang lain.

Berbicara tentang Hari Kebangkitan Nasional tak akan bisa dilepaskan dari sosok dr. Cipto Mangunkusumo. Keturunan bangsawan yang lebih mengedepankan kemanusiaan daripada keningratan.

Dr. Cipto lahir di Desa Pecangakan, Jepara pada tanggal 4 Maret 1986. Ayahnya bernama Mangunkusumo yang masih keturunan golongan priyayi dari Yogyakarta yang berpangkat Bupati dengan nama R. Mangundipura. Tak heran jika dr. Cipto sejak kecil ̶ usia enam tahun ̶ sudah mengenyam pendidikan sekolah dan usia tiga belas tahun sudah melanjutkan pendidikan kedokteran di Sekolah Dokter Jawa (STOVIA). Dr. Cipto kerap kali dikenal sebagai tokoh politik dalam organisasi Indische Partij, padahal selain ahli berpolitik, dr. Cipto juga memiliki sisi ketulusan yang jarang dimiliki oleh kebanyakan manusia.

Meskipun keturunan priyayi, dr. Cipto menentang keras sistem pemerintahan feodal dan kolonial. Baginya, feodalisme dan kolonialisme semakin menambah penderitaan rakyat kecil. Oleh sebab itu, sejarah mencatat bahwa hidup dr. Cipto didedikasikan untuk melayani penduduk pribumi yang dianggap sebagai masyarakat kelas bawah.

Di antara dedikasinya adalah pengobatan gratis untuk rakyat miskin, memutus ikatan dinas demi memperjuangkan nasib rakyat kecil, menjadi sukarelawan wabah PES, dan mengadopsi bayi yatim piatu atas dasar kemanusiaan. Sebagaimana yang dikatakan Leibnitz, keutamaan adalah mencapai kebahagiaan diri dengan cara membahagiakan orang lain.

Pengobatan Gratis untuk Rakyat Miskin

Selama menjadi dokter, dr. Cipto sering memberikan biaya pengobatan gratis bagi pasien yang dikategorikan sebagai rakyat kecil (Bumi Putera). Sebab ketulusannya tersebut, dr. Cipto sering dipanggil dengan sebutan ‘dokter Jawa yang berbudi’. Setelah meninggalkan kota Demak ̶ kota terakhir bekerja sebagai ikatan dinas ̶ dr. Cipto berpindah ke Solo dan membuka praktik sebagai seorang dokter partikelir.

Di sanalah jiwa ketulusan dr. Cipto semakin terlihat kala pasien-pasien yang datang kekurangan uang untuk membayar biaya pengobatan dan dr. Cipto akan memberikan pengobatan secara cuma-cuma. Tak hanya itu, dr. Cipto terkadang memberi pasien beberapa gulden untuk membeli obat di apotek. Keadaan ini sering membuat keuangan rumah tangganya defisit.

Memutus Ikatan Dinas demi Memperjuangkan Nasib Rakyat Kecil

Di tahun 1907, dr. Cipto Mangunkusumo aktif menulis di harian De Locomotief. Tulisan-tulisannya berisi tentang penolakan terhadap sistem feodal dan kolonial di Hindia atau Indonesia. Tulisan dr. Cipto membuat pemerintah kolonial merasa terancam, sehingga pihak Belanda memberikan teguran dan ancaman kepadanya.

Dr. Cipto merasa kebebasannya dikekang oleh beban ikatan dinasnya terhadap pemerintah, sehingga akhirnya ia memutuskan untuk mengakhiri ikatan dinasnya dengan pemerintah. Memutus ikatan dinas sama saja dengan mengembalikan sejumlah uang yang diterimanya selama ini dan nominal angka yang harus dikembalikan ‘tidak sedikit’. Dr. Cipto bersikeras untuk melakukannya demi memperjuangkan kesejahteraan penduduk bumi putera.

Menjadi Sukarelawan Wabah PES

Wabah PES sempat menghampiri Indonesia di tahun 1910, tepatnya di kota Malang, Jawa Timur. Pemerintah Kompeni cukup kebingungan mengatasi masalah ini, sebab dokter-dokter pemerintahan ̶ yang didominasi bangsa Eropa ̶ menolak untuk turun tangan dalam mengatasi wabah tersebut. Wabah ini disebabkan oleh tikus-tikus yang membuat sarang di rumah-rumah bambu, lalu menyebarkan virus lewat bakteri Yersinia Pestis yang terdapat pada tikus-tikus tersebut.

Hal ini mengusik jiwa kemanusiaan dr. Cipto, hingga akhirnya ia mengirimkan permintaan ke pemerintah agar dimasukkan ke dalam dinas pemerintah dan ditempatkan di Malang. Tawaran ini tentu saja langsung diterima oleh pemerintah kolonial. Dr. Cipto segera terjun ke Malang, memasuki pelosok-pelosok desa, dan membasmi wabah tersebut tanpa menggunakan masker. Berkat usahanya, wabah PES berhasil dibasmi dengan ketulusan hati.

Mengadopsi Bayi Yatim Piatu

Ketika sedang membasmi wabah PES di Malang, dr. Cipto sempat mendengar suara tangisan bayi di salah satu gubuk yang hampir terbakar. Ia melihat seorang bayi perempuan tergeletak dan menangis tak henti-henti. Mirisnya lagi, bayi tersebut secara resmi menjadi yatim piatu karena ayah dan ibunya dinyatakan meninggal sebab virus PES.

Kemudian bayi perempuan itu diadopsi dan diberi nama ‘Pesjati’ sebagai wujud mengenang tragedi PES tersebut. Bayi perempuan itu lalu dirawat, dididik, dan dibesarkan seperti anak sendiri oleh dr. Cipto bersama istrinya yang bernama Nyonya Marie Vogel (istri keduanya setelah pernikahan pertamanya kandas).

Berkat jasanya membasmi wabah PES, dr. Cipto dianugerahi penghargaan oleh pemerintah Belanda, tetapi hanya dipakai di saku celana bagian belakang sebagai wujud penolakan menerima hadiah dari Kompeni.

Akhir kata, salah satu hal yang akan tetap hidup di tengah kefanaan adalah ketulusan. Selamat Hari Kebangkitan Nasional.

*Tulisan ini didasari atas beberapa sumber, yakni 1) Buku Biografi “Dr. Cipto Mangunkusumo” karya Soegeng Reksodiharjo yang diterbitkan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta tahun 1992, 2) Artikel “Pembentukan Kesadaran Nasionalisme Indonesia: Kilas Balik Ide-Ide Pemikiran dr. Cipto Mangunkusumo” karya Sulandjari yang disampaikan dalam acara diskusi bulanan di Pusat Kajian Bali pada tanggal 11 Mei 2016, dan 3) Buku “Lembar Sejarah” karya Sartono Kartodiarjo yang diterbitkan pada tahun 1967.

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *