Kita dan Pilihan Hidup Sehari-hari

Bagi Kierkegaard, yang bisa kita lakukan adalah berpegang dan menggigit keras pilihan yang kita ambil. Benar atau tidak, we’ll never know.

Menikahlah, kau akan menyesal. Jangan menikah, kau akan menyesal. Menikah ataupun tidak, kau akan tetap menyesal.

Begitulah kira-kira kutipan yang masyhur dari seorang filosof Soren Kierkegaard, yang ingin menggambarkan bahwa apa pun keputusan yang kita ambil, toh akan selalu ada penyesalan di dalamnya.

Hidup adalah pilihan, okelah. Tapi kita seringkali lupa, bahwa tidak memilih pun adalah pilihan. Memilih menjomlo tiga purnama pun adalah pilihan—bisa karena nasib juga sih. Tapi persoalannya adalah, seringkali keputusan memilih bukan didasari keterikatan dengan objek yang akan dipilih. Seringkali ngikut kata tetangga, orang pintar, majalah Aneka Yess!, mojok dot co, atau penganut kopi senja indie asolole. Jelas ini problem.

Pasalnya, tidak ada yang berhak menentukan, apakah keputusan—sebut saja—Mas Joko menikah muda, adalah keputusan yang benar, atau keputusan Mas Udin menjomlo sampai tua adalah the right choice. Keputusan keduanya sama-sama menyimpan benih kekecewaan dan kecemasan yang sama. Kedua pilihan memiliki potensi kekeliruan yang sama, di sinilah kemudian lahir apa yang disebut drama eksistensi.

Lalu alat ukur apa yang bisa menentukan suatu pilihan atau keputusan adalah hal yang tepat? Kata-kata netijen? Mario Teguh? Atau diri kita yang hina dina dan suram ini?

Kierkegaard, seorang filosof yang edgy dan cool itu, mengatakan bahwa kita memang tidak akan pernah tahu keputusan mana yang tepat. Bahwa realitas objektif adalah sesuatu yang berada di luar subjektivitas kita. Maka memperdebatkan mana pilihan yang tepat—secara objektif—tentu akan sia-sia.

Bagi Kierkegaard, yang bisa kita lakukan adalah berpegang dan menggigit keras pilihan yang kita ambil. Benar atau tidak, we’ll never know.

Ketika seorang Udin mencintai Sita, maka pertanyaan tentang apakah Sita memiliki perasaan yang sama dengan Udin, atau perilakunya ke Udin hanya didasari rasa kasihan saja, tidak menjadi relevan. Yang relevan adalah bagaimana Udin meyakini dan mengimani bahwa Sita mencintainya, dan itu menjadi alasan penguat, bahwa mencintai Sita adalah keputusan yang tepat.

Memilih dan mengambil keputusan bukan perkara mudah, maka Kierkegaard menyarankan kita untuk hidup secara otentik, mengada secara sungguh, tidak sekadar ikut arus.

Hidup secara otentik; berani menyatakan siapa dirinya lewat keputusan yang diambil dan pergulatan eksistensial. Yang konkret baginya adalah individu, sementara kerumunan atau pendapat orang banyak adalah ilusi yang menjebak.

Mencari kesamaan pendapat dengan publik baginya adalah ‘hiburan kosong’, karena bagaimana pun, kerumunan hanya ada dalam abstraksi, yang kemudian menghilangkan ‘keunikan’ masing-masing individu yang konkret dan eksis.

Keberanian menjadi diri (to become a self) adalah arti dari to exist. Walhasil, tidak ada yang berhak untuk mengatakan pilihan hidupmu salah. Entah itu tetanggamu, gebetanmu, followers, netijen, Gus Nur, Tengku Zul, atau siapa pun, kecuali dirimu sendiri. Berani keluar dari ruang publik, menghindari grup whatsapp yang abstrak, mencoba keluar dari kepalsuan dan identitas semu, adalah cara kita memperjuangkan eksistensi diri.

Maka dari itu, beranilah untuk memilih, hiduplah sehidup-hidupnya.

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *