Kwatrin Jalan Buntu: Sehimpun Puisi Muhammad Husni


KWATRIN JALAN BUNTU

(I)
Di senja yang berselimut lugu, susah payah kusebut namaMu,
sandar-menyandar daun pintu, jarum jam berdetak amat layu,
kepada Jakarta yang elegi, lampu-lampu jalanmu… mesra menari,
di tempat semua mimpi diakhiri, kau dan aku dipaksa tegak berdiri.

(II)
Aku sudah kepalang mabuk malam itu,
tersingkir kelewat jalang, ditertawakan tiang lampu;
melirik lewat palang, daun pintu kian membiru,
pula dalam sembahyang, hadirkah Tuhan dalam pangkumu?

(III)
Mevrouw sungguh ingin dengar kisah hari itu?
tentang Eros yang berkunjung, bertanya inikah tuan impeesa?
sedang candra berselimut hitam, tak pernah sabar menunggu;
dia pandangi dari jauh, memaksa Mevrouw berdua dengan rindunya.

(IV)
Kalang kabut, jalanku bak benang kusut,
pada sebuah masa, kita berhenti menulis sejarah;
Mevrouw tak perlu lagi berdoa, lihat aku berlutut!
hanya ada kita, tak pernah fana.

ALF LAYLA WA LAYLA

Di malam yang panjang, terdengar suara tangis,
terbangun dari ranjang, dadaku sesak tanpa ada nafas,
hal-hal yang lama hilang, datang mencekik hingga lemas,
yang masih ada tak berpulang, kupaksakan berdiri miris.

Sekarang nyala api tak tergoyangkan,
Zarathustra turun membunuh imaji akan Tuhan,
lalu apa yang terjadi dengan orang beriman?
apakah masih sanggup membunuh para liyan?

Sejak kapan air mata ini membuat sungai?
hal-hal yang tak dapat dilindungi, tak bisa dipeluk,
yang terbakar mengabu, bersama nyala merah mawar.

Aku kembali menyanyikan lagu dengan dawai,
menyalakan api hangat yang kian tak berbentuk,
sekarang Abdullah bersumpah sambil terbakar!

ADAMAS

Musim hujan, angin malam memanggil dari belakang,
air mengalir di antara tebing-tebing tenunan benang,
kenangan dan harapan bermuara pada danau merah,
kesedihan memberi warna hitam pada tiap kain dan kerah.

Dosa yang dicari Hawa dan Adam merangkak ke atas,
bayangan gelap mengkatrol janji-janji di tiap batas,
kata-kata menyelinap keluar dari tiap ruas penjara,
pedang justitia rebah perlahan di muka arda.

Hal itu manifestasi dari tiap janji di tanah rusak ini,
tolong, bukalah matamu,
sebentar saja.

Hal itu menerangi dan kumohon jangan lihat bayang ini,
aku benci menyerah, katamu,
pada siapa?

Atas nama cinta yang hilang,
panjang umur perjuangan,
panjang umur perjuangan!

Dan,

Panjang umur pengorbanan.

UNTUK NYONYA TARIGAN

Sonder ditanya, pula diterka,
seperti salam perpisahan Beauvoir pada Sartre,
pernahkah Jenny bertanya pada Karl tentang rasa?
Pula layaknya Edmond berpisah kasih di Marseille,
gezegd of niet;
let the dead be dead,
lieve of niet;
everything end in one step ahead,

Ishtar bergetar pendar,
sandar-menyandar mistar mimbar,
mati enau ditinggal rimba,
kepada Tuhan bertanya hamba,
bisakah langit dan laut bercengkerama?

KAU

Satu hal yang pasti dari hidup: kefanaan,
hari yang ditunggu, kian hari kian merentan,
orang-orang membicarakan manfaat dan tujuan,
pada “kau” kubicarakan cinta dan keindahan.

Malam itu ketika semua dingin dalam kebisuan,
di antara lembar-lembar alkitab dan keduniaan,
tanpa bisa menawar dan menolak dengan perlawanan,
melampaui batas-batas yang ada, “kau” kuterima Tuhan.

Kita membicarakan kota kita yang beruban,
di Jakarta yang sepi tanpa anak kecil main ayunan,
Kota tua yang kembali terlena dalam keabadian,
“Kau” dan aku bicara tanpa kata dalam kesunyian.

Kita adalah titik dalam satu barisan,
kebetulan “kau” baris di muka dan aku di tepian,
kita adalah alat dari waktu dan kemajuan,
kebetulan saja malam itu kita berpapasan.

Akhir-akhir ini aku bertanya, Tuhan:
apa arti dari perbuatan yang saya lakukan?
makin lama banyak musuh, tiada pula mengerti kawan,
semuanya tidak menggeser atau mengubah keadaan.

Semua orang kian malam melacur, sisa aku belum dikhitan,
semua orang rapi berdandan, sisa aku yang bau pandan,
terasa pendek hidup memandang sejarah dan perapian,
jadi, sebenarnya apa yang aku lakukan?

“Kau” datang kembali dan bicara semua keabadian di ketiadaan,
“Kau” datang kembali dan bicara semua nyanyian di kesunyian,
“Kau” datang kembali dan bicara semua ideologi di kenyataan,
“Kau” datang kembali dan dengar semua harapan di pembicaraan.

Tuhan,
aku terima “kau” dalam ribaan,
namamu adalah misteri keabadian,
Tuhan.

Manisku, nian:
biarlah aku terus berjalan,
membawa kenangan dan harapan,
dalam hidup yang begitu kebiruan.

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *