Malika Al-Fassi: Sang Aktivis

Kedua orang tuanya berpendapat bahwa baik laki-laki maupun perempuan haruslah mendapat kesempatan pendidikan yang sama.

Perempuan selalu bisa menjadi bahan perbincangan yang hangat. Dihadapkan dengan segala macam akar masalah yang kompleks, perempuan dituntut untuk terus bertahan dan berani menghadapi berbagai rintangan yang mempersempit ruang gerak mereka, serta mematikan eksistensinya sebagai seorang manusia.

Musee de La Femme ‘Museum Perempuan’, merupakan salah satu museum yang sempat saya singgahi dari sekian banyak museum yang tersebar di kota Marrakech, Maroko. Sedikitnya, dari sana saya membuka mata untuk melihat betapa bernilainya para perempuan dalam menorehkan tinta emas untuk negaranya, demi lahirnya suatu peradaban di negeri seribu benteng ini.

Setelah memasuki museum tersebut, ada tiga tokoh yang menjadi tanda bahwa perempuan Maroko juga memainkan peran penting dalam kehidupan bermasyarakat dan politik negara. Pada kesempatan kali ini, saya akan membahas salah satu nama yang tertera di sana, seorang perempuan Maghrib yang dipanggil Malika Al-Fassi.

Malika merupakan seorang jurnalis perempuan pertama di Maroko. Ia juga menjadi seorang politisi feminis serta penggerak kegiatan sosial dan keperempuanan, juga terhitung sebagai perempuan pertama yang masuk dalam keanggotaan Gerakan Nasional Kemerdekaan Maroko. Besarnya kontribusi serta tingginya semangat juang Malika, menjadikan namanya tersemat indah pada museum ini.

Perjalanan Hidup Sang Aktivis Perempuan

Dilahirkan pada tahun 1919 di kota Fes (dari sanalah nama Al-Fassi disematkan), Malika dibesarkan di tengah keluarga yang terpandang. Ayahnya, Al-Mahdi, adalah seorang hakim. Kedua orang tuanya berpendapat bahwa baik laki-laki maupun perempuan haruslah mendapat kesempatan pendidikan yang sama. Agar mendapatkan pendidikan yang optimal, Malika sekolah private dalam rumah. Atas privilege ini, Malika bisa memulai di garis start yang lebih depan dibanding orang lain.

Tahun 1935, Malika telah mencapai karir awalnya, menjadi seorang jurnalis perempuan pertama di Maroko, pada umurnya yang masih 16 tahun. Malika telah menuliskan beberapa buku terkait perempuan dan kritik tajamnya dalam rangka pemberdayaan kaum perempuan.

Beberapa rubrik telah menampung tulisan Malika terkait perempuan, seperti Ta’lim al-Fatah ‘Pendidikan Pemudi’ dan Sawt Al-Fatat ‘Suara Perempuan’ yang dipublikasikan oleh Majalah Maroko. Serta dua esai yang dimuat di majalah Risalat Al-Maghrib: Al-Fatah al-Maghribiya Bayn Marahil al-Ta’lim ‘Pemudi Maroko antara Tingkat-tingkat Pendidikan’, dan Ta’lim al-Mar’a ‘Pendidikan Perempuan’ pada tahun 1952.

Setahun setelah itu, di usianya yang masih belia, Malika menikah dengan seorang lelaki yang merupakan guru dari Pangeran Maolay Hassan, putra mahkota dari Raja Maroko Mohammed 5. Pernikahan Malika menjadi sorotan bagi warga Maroko serta keluarga kerajaan, melihat kiprahnya sebagai perempuan yang tangguh dan berani menyuarakan hak-hak perempuan. Pernikahan itu tidak menghentikan Malika dalam karirnya, justru ia manfaatkan sebagai langkah lanjutan untuk tetap mengadvokasi perempuan Maroko.

Pada tahun 1944, Malika turut andil dalam penandatanganan dokumen atau manifesto kemerdekaan sebagai bukti awal kemerdekaan Maroko. Dokumen tersebut yang kemudian dijadikan monumen dan diabadikan di kota Fes, bertuliskan nama-nama orang yang turut andil dan merumuskan kemerdekaan Maroko. Malika salah satu wanita yang tertulis di dalamnya.

Tahun 1947, Malika menginisiasi berdirinya organisasi perempuan Maroko yang beranggotakan perempuan-perempuan muda dalam rangka membahas isu-isu terkait perempuan, dan mengangkatnya untuk kemudian dibahas melalui parlemen. Hingga pada 1967, atas perjuangannya dalam menggaungkan makna literasi dan menumpas tingginya buta huruf di negaranya, Malika memperoleh penghargaan dari UNESCO.

Salah satu peran Malika bisa ditilik melalui undang-undang negara terkait hukum-hukum pernikahan dan keluarga di Maroko, yang disebut sebagai Mudawwanah al-Usrah. Setiap tahunnya, undang-undang ini terus direkonstruksi untuk menyelaraskannya dengan kondisi masyarakat Maroko. Malika turut andil dalam revisi undang-undang pernikahan serta merumuskannya untuk dimatangkan pada tahun 2001.

Malika merupakan bukti nyata bagi para perempuan, bahwa mereka dapat berperan aktif dan optimal, baik dalam politik, literasi, sosial, dan masih banyak lagi. Apresiasi terhadap perjuangan Malika Al-Fassi diberikan oleh Raja Mohammed 6 dalam bentuk Anugerah Bintang Kehormatan pada 2005, dua tahun sebelum ia tutup usia.

Hingga di umurnya yang ke-80, pada pertengahan Mei 2007, Malika wafat dan dimakamkan di dalam istana raja sebagai bentuk penghormatan terakhir kepadanya. Malika Al-Fassi boleh mati, tapi perjuangannya akan terus hidup dan diwariskan.

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *