Masih Adakah Ilmu Sosial Profetik Saat Ini?

Ilmu sosial ini tidak hanya berfokus pada realitas saja, tapi ilmu sosial itu juga harus melakukan perubahan atau transformasi untuk menuju cita-cita

“Kuntowijoyo? Siapa sih dia?”

“Ilmu sosial profetik? Apa sih itu?”

Jika kalian merupakan penggemar sastra, pasti kalian tidak asing dengan sosok inspiratif di atas. Prof. Dr. Kuntowijoyo atau yang biasa dikenal dengan Kuntowijoyo adalah seorang sastrawan sekaligus budayawan terkenal kelahiran Bantul. Beliau terkenal akan karya dan gagasannya yang sangat penting dalam perkembangan ilmu sosial di Indonesia. Beliau mengembangkan teori ilmu sosial yang disebut dengan ilmu sosial profetik atau yang biasa disebut dengan ISP.

Apa itu ilmu sosial profetik?

Mungkin dari kalian ada yang belum mengerti atau bahkan baru mendengar tentang ilmu sosial profetik. Jadi, apasih ilmu sosial profetik itu? Ilmu sosial profetik ini merupakan teori ilmu sosial yang dikembangkan oleh Kuntowijoyo dimana beliau didorong keinginan untuk menjadikan ilmu sosial profetik sebagai paradigma baru karena teori ini akan banyak berpengaruh dalam kehidupan masyarakat di Indonesia. Ilmu sosial profetik ini merupakan teori yang transformatif. Mengapa demikian?

Gagasannya ini bermaksud untuk menguraikan ajaran agama ke dalam suatu teori sosial dengan tujuan untuk transformasi sosial. Jadi, ilmu sosial ini tidak hanya berfokus pada realitas saja, tapi ilmu sosial itu juga harus melakukan perubahan atau transformasi untuk menuju cita-cita masyarakat yang lebih ideal. Teori ilmu sosial profetik sendiri didasarkan pada QS. Al-Imran ayat 10 yang memiliki arti sebagai berikut.

”Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf (humanisasi), dan mencegah dari yang munkar (liberasi), dan beriman kepada Allah (transendensi). Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik” (Subagja, 2010).

Berdasarkan ayat tersebut, dapat disimpulkan bahwa Kuntowijoyo berpandangan bahwa tujuan perubahan sosial yaitu melibatkan unsur humanisme, liberasi dan trensendensi. Humanisme disini bermaksud teori sosial yang digunakan ini mampu menempatkan posisi manusia dengan selayaknya. Sementara liberasi, bermaksud untuk membebaskan kehidupan manusia dari tekanan apapun. Nilai yang ketiga ialah transendensi yang menerapkan ilmu sosial sesuai dengan nilai-nilai yang ada di dalam Al-Quran. Transendensi inilah yang menjadi dasar agar tujuan dari kedua nilai sebelumnya tercapai.

Apa hubungannya dengan masa kini?

Perubahan sosial itu pasti akan terjadi di kehidupan manusia. Kita bisa melihat bagaimana keadaan sosial masyarakat berubah dari masa ke masa. Contohnya saja, saat ini di masa pandemi. Apakah kondisi sosial masyarakat berubah? Pastinya. Keadaan sebelum dan sesudah pandemi pun tidak akan sama. Hal ini diikuti dengan perilaku masyarakat yang akan berubah dengan seiring waktu.

Saat ini pun interaksi sosial masyarakat sudah berubah karena aturan pemerintah yang mengharuskan kita untuk melakukan social distancing. Kehidupan di era new normal saat ini akan mengubah kebiasaan-kebiasan masyarakat dan mungkin ini akan menjadi budaya baru bagi kita. Di sinilah perubahan sosial akan terjadi. Meskipun demikian, perubahan ini tetap bisa disesuaikan dengan teori ilmu sosial profetik dari Kuntowijoyo karena teori ilmu sosial ini merupakan teori yang transformatif yang mampu untuk menyesuaikan dengan keadaan sosial yang ada.

Jadi, bagaimana eksistensinya saat ini?

Pembatasan sosial saat ini tidak menutup kemungkinan masyarakat untuk tetap berinteraksi dan bersosialisasi meskipun sangat terbatas. Di sinilah eksistensi dari nilai dasar ilmu sosial profetik masih tetap ada. Kita bisa melihat nilai-nilai humanisasi yang masih memungkinkan masyarakat untuk tetap bersosialisasi dan melakukan kegiatan kemanusiaan. Nilai yang kedua adalah liberasi. Aturan yang dibuat oleh pemerintah tidak akan membuat masyarakat merasa bahwa peraturan ini mengekang mereka. Ketiga, nilai transendesi masih bisa kita lihat bahwa perubahan sosial saat ini tidak menghilangkan rasa transenden atau nilai ketuhanan masyarakat karena sejatinya hubungan manusia dengan Tuhannya tidak akan berubah meskipun keadaan sosial berubah. Hal ini juga bisa kita lihat pada sila pertama Pancasila yang menjadi bukti bahwa nilai transendensi tidak akan pernah hilang dari kehidupan manusia. Kesesuaian antara ketiga nilai dasar inilah yang membuat eksistensi ilmu sosial profetik masih bisa dirasakan sampai saat ini dan masa yang akan datang tentunya.

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *