Melawan Stigma Publik: ‘Berjuang’ Melawan Covid-19

menjadi seorang pasien covid-19 bukanlah aib, bukan pula menjadi pusat perbincangan negatif bahkan sampai dijauhi

Rasanya, seluruh pembicaraan yang santer menggelitik seluruh indera sepanjang tahun 2020 ini terpusat kepada satu tema besar: Covid-19, atau virus corona. Kemudian, dari satu tema tersebut muncul jutaan problematika dengan beragam skala, sebut saja yang berskala dunia seperti isu kesehatan, tentunya. Pandemi ini diklaim telah menjadi penyebab hampir 2 juta penduduk dunia tewas, menurut data resmi WHO per-akhir tahun 2020. Isu yang juga muncul dan ramai diperbincangkan setahun penuh ini adalah bagaimana pemerintah negara dengan pertimbangannya masing-masing memberlakukan lockdown; baik parsial maupun penuh sebagai upaya pencegahan virus.

Pembahasan berkaitan dengan tema besar ini juga merambah ke seluruh penjuru kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Rasanya hampir tidak ada satupun masalah di negara manapun—paling tidak Indonesia dan Maroko—sepanjang tahun ini yang lepas dari peranan virus corona di dalamnya. Kita ambil contoh kejadian-kejadian yang ramai di Indonesia setahun ini: Mulai dari membludaknya jumlah pekerja yang di-PHK, menurunnya omzet penjualan ribuan gerai makanan dan minuman, pemberhentian Liga 1, 2 dan 3 berikut turnamen resmi dari Federasi Sepakbola Indonesia, pelarangan konser terbuka; sampai kontroversi pengesahan UU Cipta Kerja dan korupsi dana bantuan sosial oleh His Excellency Juliari Batubara eks menteri sosial RI yang baru dicopot. Paling tidak pasti ada terselip kata corona, pandemi atau sejenisnya di antara kalimat yang tersusun dalam liputan berita terkait.

Maka tidak salah, jika ada yang menyalahkan media atas kepanikan yang terjadi dari pandemi covid-19 ini. Penganut paham teori konspirasi kelas ringan bahkan menyudutkan mayoritas media mainstream yang terlalu membesar-besarkan Covid-19 ini sebagai masalah besar dunia dan harus dihindari dengan cara ini-itu dengan berbagai versi yang setiap hari selalu dengan rajin diubah-ubah, belum lagi dokter dadakan di Tiktok yang rajin bikin konten kesehatan dengan sumber entah dari mana, ditambah pesan terusan (broadcasting messages) yang dikirimkan berkali-kali ke grup whatsapp keluarga. Hasilnya, masyarakat panik, bingung informasi mana yang harus diserap. Hasilnya, pandemi ini diyakini seakan-akan menjadi ancaman paling mematikan bagi kita semua umat manusia.

Di tengah-tengah stigma tersebut, saya terindikasi terpapar covid-19. Berawal dari pertengahan November 2020. Sepulangnya dari Bab el-Ahad di pusat kota Rabat, Maroko, bersama seorang rekan dari PPI Maroko yang hendak kembali ke tanah air, saya merasakan pusing ringan. “Paling pusing demam biasa, efek pergantian musim,”, begitu pikir saya waktu itu. Namun esoknya gejala berlanjut ke hilangnya kemampuan indera perasa dan penciuman. Tentu, jika saya termasuk ke dalam masyarakat yang patuh protokol dan meyakini jika covid-19 adalah penyakit yang “semenakutkan” itu saya akan panik tidak karuan. Namun berhubung saya adalah bagian dari kaum paduka JRX SID yang tidak begitu peduli dengan klaim WHO sebagai pemegang otoritas tertinggi di bidang kesehatan dunia versi elit global, begitu anggapan kami, maka saya rileks saja. “kayanya kena, nih.” singkat saja ucapan saya ke teman sekamar saya saat itu.

Saya menelepon keluarga saat itu via whatsapp video call. Kebetulan, rumah saya di kampung berikut penghuninya yang tentu adalah keluarga kandung dan ipar saya berpengalaman menjadi pasien covid-19 dan diisolasi selama kurang lebih 2 (dua) pekan. Saya bertanya terkait pengalaman mereka selama mengidap penyakt ini, saat itu dijawab oleh kakak kandung saya “receh banget, ga se-ngeri berita-berita di TV.” Tentu saya senang, ternyata dalam keluarga kami pun bukan hanya saya seorang yang tidak terlalu “parno” dengan virus ini. Namun, sebagai langkah pencegahan, saya tanyakan juga gejala yang dialami berikut apa yang harus dikonsumsi dan dilakukan. Sekedar jaga-jaga, kalau memang elit dunia lewat WHO ternyata tidak menutupi apapun terkait virus corona ini. Iman saya belum sekuat lord kami—semoga bang Jerinx cepat bebas dari tahanan. Kurang lebih, apa yang disarankan keluarga saya sama persis dengan apa yang disarankan dokter-dokter onlen di media sosial. Vitamin, istirahat, berjemur, dan sebagainya.

Gejala yang saya alami berlanjut sampai ke gangguan pernafasan, tepat seperti apa yang diceritakan sebagian besar orang. Setelah bertahan sekitar seminggu meyakini bahwa saya baik-baik saja dan tidak perlu pemeriksaan lanjutan, saya akhirnya mengunjungi dokter umum, itupun karena gratis, kalau bayar mungkin saya pikir-pikir ulang. Singkat cerita, saya divonis terpapar virus corona walaupun tidak dan tidak disarankan untuk melakukan tes PCR. Saya diwajibkan untuk tetap melakukan isolasi mandiri lanjutan selama satu minggu, jika gejala sudah sepenuhnya hilang maka saya boleh kembali beraktivitas.

Setelah satu minggu lebih, alhamdulillah semua gejala sudah dirasa hilang. Saya memaksakan diri untuk yakin bahwa saya sudah bebas dari covid-19. Sejak saat itu, akhir November 2020 sampai pekan awal Desember 2020 saya kembali beraktivitas di luar ruangan seperti biasa, melaksanakan tugas dan tanggung jawab sebagai Ketua PPI Maroko 2020-2021—jangan lupa follow instagram kami @ppimaroko untuk info lebih lengkap. Melakukan serangkaian kunjungan, melaporkan keadaan pelajar ke KBRI Rabat, mengadakan serangkaian rapat terbatas, mengadakan pelatihan kesenian dan olahraga bersama; semuanya saya lakukan seperti sediakala.

Pada pekan kedua Desember 2020, KBRI Rabat melaksanakan tes PCR massal. Seluruh WNI yang berada dan beraktivitas di tempat dan waktu tertentu diambil sampel cairan dalam hidung yang saya tidak tahu apa sebutannya untuk kemudian diuji di laboratorium. Hasilnya saya positif terinfeksi covid-19. Saya kembali diminta untuk melakukan isolasi mandiri selama dua minggu terhitung sejak sampel diambil. Padahal, saat itu sudah 3 (tiga) pekan lebih sejak gejala awal saya rasakan dan kembali beraktivitas normal.

Total kurang-lebih 5 (lima) pekan—jika tidak diperpanjang—terisolasi dari kehidupan normal bukan menjadi masalah terbesar saya selama berstatus sebagai pasien positif covid-19 ini. Saya juga tidak merasakan gangguan apapun sejak demam panjang, kehilangan indera penciuman, serta indera perasa dan gangguan pernafasan yang saya alami pada dua pekan pertama. Yang saya rasakan, penyakit ini tidak semengerikan apa yang diceritakan pasien covid-19 lainnya di media sosial, tepat seperti apa yang diutarakan kakak kandung saya: “receh banget”. Entah memang begitu yang dirasakan atau memang hanya melebih-lebihkan kondisi yang dialami untuk mendapatkan simpati publik. Masalah yang saya rasakan sebagai pasien covid-19 (bukan sebagai saya pribadi) adalah bagaimana anggapan masyarakat terhadap pasien positif covid-19 ini. Dijauhi dan dianggap seperti alien, sendirian di dalam kamar yang tertutup, tidak boleh berinteraksi dengan orang bahkan makhluk hidup lain seperti binatang peliharaan, dipandang “jijik” dan dihindari oleh orang-orang ketika sedang berjemur di luar rumah. Itu yang menurut saya menjadi maslah terbesar: Stigma negatif yang diberikan publik.

Sebagai diri saya pribadi yang bahkan tidak terganggu dengan keberadaan covid-19 ini saja saya sudah sedikit terusik. Saya membayangkan, seperti apa kondisi mental pasien covid-19 yang memang meyakini keberadaan covid-19 itu sendiri. Sudah takut dengan kondisi kesehatannya sendiri, ditambah dengan ketempelan stigma berbahaya yang disematkan publik sekitar terhadap dirinya. Maka wajar, jika memang cerita orang-orang dilebih-lebihkan, supaya ia tidak merasa menderita sendiri. Bukan menderita karena penyakit yang dialami, namun tekanan mental yang diterima.

Apa yang ingin saya yakini dan ingin saya sampaikan melalui tulisan ini adalah menjadi seorang pasien covid-19 bukanlah aib, bukan pula menjadi pusat perbincangan negatif bahkan sampai dijauhi. Jika memang ada dari para pembaca yang tingkat awareness-nya tinggi terhadap virus ini dan tidak mengamini beberapa pendapat pribadi saya, silakan. Namun, sepatutnya kita tetap memanusiakan saudara-saudara yang memang sedang tertimpa musibah. Kita hanya diminta untuk menjauh secara fisikal, mendekati mereka secara mental justru akan menjadi penyembuh bagi mereka. Ciao.

Rabat-Maroko, 24 Desember 2020

Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan bukan merupakan sikap dari redaksi

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *