Mencatat Waktu di Tubuh Sunyi: Sehimpun Puisi Anugrah Gio P.

“Dalam kesendirian semacam ini, adakah yang mau peduli?” tanyaku.

Mencatat Waktu di Tubuh Sunyi

Mencatat waktu di tubuh sunyi
adalah upaya memahat puisi.
Betapa resah.

Waktu adalah waktu:
merapal sejarah dengan saksama,
menerjemahkan hiruk-pikuk semesta,
memungut jejak-jejak usia.

Tak Ada Suara

Kegelapan
semakin mencekik.
Sementara malam
semakin kuat
menabuh mimpi.

“Dalam kesendirian semacam ini,
adakah yang mau peduli?” tanyaku.

Tapi sunyi
semakin lebat.
Ketok jam
terus menua:
tak ada suara.

“Dalam kekosongan semacam ini,
adakah yang mau peduli?” tanyaku.

Tapi suara masih tak ada.
Tak ada suara.
Lalu malam kian gelap:
gelisah dan senyap.

Ruang yang Tak Besar

Di ruang
yang tak besar ini.

Ada kesepian yang lebat.
Ada kesendirian yang berat.
Ada keputusasaan yang kuat
serupa beton-beton.

Di ruang
yang tak besar ini.

Seorang lelaki mengumpulkan kata-kata:
mengumpulkan kesedihannya
yang bagai api-api cuaca.

Dalam Keadaan Sunyi

Malam resah.
Cahaya lampu
membanjiri jalanan yang lengang.
Kota telah menanam
biji kesunyian.

Keheningan
begitu lelap
menyentuh jantung
ketenangan yang gelap.
Daun-daun terperanjat.
Dukaku meningkat.

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *