Obituari Sapardi: Kesederhanaan yang Intens

Sejak saya tak sempat berjumpa dengan sosoknya, tak pernah bercakap-cakap pula, saya ingin memanggilnya cukup dengan namanya itu: Sapardi. Lelaki yang mengilhami banyak orang awam dengan ekstasi puisi, kenikmatan membaca puisi.

Pagi tadi Sapardi pulang. Ia tak harus lagi dirawat inap, atau sejenak kembali ke rumahnya untuk mengabari para pembacanya: hari ini saya sudah di rumah lagi, terima kasih untuk doa-doanya. Bersamaan juga Sapardi pulang, hilang satu lagi pengharapan saya untuk bertemu daftar nama yang ingin saya temui sebelum mati. Setelah sebelumnya lebih dulu mendahului, Ari Malibu dan Arswendo.

Saya jarang menulis obituari, baik itu inisiatif pribadi atau diminta seseorang. Saya khawatir akan jadi sok tahu, atau alih-alih menulis tentang mendiang, justru lebih banyak menulis diri sendiri. Namun mendengar berita Sapardi pulang, pagi tadi, dengan egois saya meminggirkan dulu kekhawatiran saya, dan mulai menulis. Meski saya yakin, akan banyak lagi yang menulis Sapardi lebih khidmat dan bersahaja, lebih dalam dan akrab, lebih dekat dan jauh.

Sejak saya tak sempat berjumpa dengan sosoknya, tak pernah bercakap-cakap pula, saya ingin memanggilnya cukup dengan namanya itu: Sapardi. Lelaki yang mengilhami banyak orang awam dengan ekstasi puisi, kenikmatan membaca puisi. Dulu fotonya yang memakai topi kep pernah saya gunakan sebagai latar belakang laptop dan hp. Konon, kalau ingin tahu siapa idola seseorang, tengoklah wallpaper hpnya. Begitulah Sapardi menjadi semacam pahlawan bagi saya yang masih SMA.

Lahir sejak bulan Sapar 1940, saya baru menemukan-(puisi)nya saat Sapardi sudah hampir hidup 70 tahun lamanya, saat seorang mahasiswa magang mengutipnya di kelas. Siapa yang tak mengenal puisi keramatnya, Aku Ingin, yang mungkin jadi salah satu puisi paling banyak dihafal di Indonesia.

Kalau saya bertanya kepada Sapardi, bagaimana puisinya bisa sepopuler itu? Saya yakin daripada menyandarkan segala pujian kepada puisinya, ia hanya akan mengulangi kembali jawabannya ini: “Seandainya sajak itu tetap disitu (koran), dan tidak dijadikan lagu, dan tidak dinyanyikan Reda, Anda tidak akan mengenal(nya). Siapa yang akan baca puisi kecil begitu, di sudut sebuah koran, yang juga koran sore, pada waktu itu tidak begitu terkenal, siapa yang baca?”

Mungkin itulah kebersahajaan. Hal yang sering dikutip penulis lain untuk menggambarkan Sapardi, dan puisinya. Sebagai penyair yang menyemarakkan sastra Indonesia sejak 1960-an, masih terus nyaring hingga lewat 2000-an adalah daya hidup dan mencipta yang luar biasa. Sementara itu di ruang-ruang kelas yang tak ia ketahui, tidak berlebihan jika banyak pelajar mengaguminya, seperti juga saya.

Adik kelas saya yang kuliah di Jogja, yang menghemat-hemat uang untuk disisihkan makan burjo (bubur kacang ijo) dengan gebetannya, dan mencari kontrakan semurah mungkin di sana, menghabiskan 300 ribu untuk membeli Manuskrip Sajak Sapardi (yang seharusnya bisa ia gunakan untuk jatah makan sebulan). Betapa pengaruh Sapardi begitu kental menyusupi sedikit pilihan hidup teman saya.

Di antara penyair lain seangkatannya, boleh jadi Sapardi yang paling jamak didengar orang (di samping Rendra). Selain karena Tuhan memberkatinya dengan waktu yang cukup panjang, Sapardi menulis puisi yang dapat dinikmati lintas pembaca, kelas medioker ke atas sampai rata-rata awam sekalipun. Beberapa mencirikannya dengan profound simplicity, kesederhanaan yang intens.

Maka dari itu Sapardi mampu hadir bukan hanya pada pembaca sajak-sajak T.S. Elliot, pun di antara obrolan anak-anak yang menggemari novel teenlit, pekerja-pekerja kantoran, hingga gelombang baru indie kopi-senja. Jauh sebelum mereka meromantisir hujan, Sapardi—meski bukan yang pertama— sudah lebih dulu main hujan-hujanan. Hujan dalam puisi Sapardi amat bervariasi: hujan yang mengenakan mantel, sepatu panjang, dan payung; hujan yang mengenal baik pohon, jalan, dan selokan; hujan yang menjadikan awan tiada; hingga hujan bulan Juni yang lebih tabah, bijak, dan arif dari siapapun.

Sapardi memilih berdiri di tengah, setidaknya dalam pembacaan saya, antara gelap dan terang. Ia tak menulis sesuatu yang terlampau gelap untuk ditafsirkan, atau terlalu terang untuk segera diterawang maksudnya. Daripada menyuling, memadatkan, dan menyublimkan kalimat ke dalam kata-kata ringkas, Sapardi lebih banyak bercerita, atau menggunakan citraan-citraan alam yang jamak kita lewati, tapi seringkali luput.

pandangmu adalah seru butir air tergelincir dari duri mawar (begitu nyaring!)

Lirik Untuk Lagu Pop (1975)

Siapa lagi kiranya yang memperhatikan tetes air dari duri mawar (di hutan yang gerimis), atau kertap bulu burung yang gugur, atau goyangan anggrek hutan, selain penyair? Dan Sapardi adalah penyair itu. Orang-orang mungkin bisa putus asa berusaha memahaminya, tapi sekaligus bisa dengan nyatanya membayangkan gambaran yang ia sampaikan, hingga bisa ikut ‘memecah pelahan dan bertebaran dalam hutan‘.

Waktu memang sial, idola orang banyak itu sudah keburu pulang. Saya belum sempat berterima kasih untuk puisi-puisinya, dan buku-buku teori sastranya yang terasa cocok sebagai pengantar untuk pemula macam saya. Sapardi yang dulu menua, menua, kini bumi telah menerimanya dengan pelukan yang dingin.

Dengan begitu, pada akhirnya, tulisan saya ini, juga duka-duka pembaca, hanya menjadi isyarat yang tak sempat disampaikan, dan kata-kata yang tak sempat diucapkan. Saya ingin meminjam sebait puisinya lagi, sekaligus menanyakannya untuk terakhir kali:

setelah mencapai seberang,
masihkah bermakna,
bagimu, segala yang ingin
kusampaikan?

Sajak-sajak Empat Seuntai (1989)

Pondok Cabe, Juli 2020

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *