Panduan Sederhana Menyontek Ala Mahasiswa Ta’lim Atiq

Justru, dari mereka lah kami belajar, bahwa menghadapi ujian di Ta'lim Atiq harus disiasati dengan cara yang cerdik

Awal tahun adalah musim ujian bagi para mahasiswa Ta’lim Atiq, musim yang tak seorang pun mau menanti kedatangannya ini memang terbukti menjadi sumber ketakutan semua mahasiswa, terkhusus Ta’lim Atiq. Wong ujian masuk perkuliahannya saja sulit, bagaimana ujian per mata kuliah di dalamnya.

Oiya, sebelumnya, silabus perkuliahan Maroko terbagi menjadi Ta’lim Aly dan Ta’lim Atiq, Ta’lim Atiq sendiri adalah lembaga perkuliahan di bawah kementrian wakaf dan urusan agama Maroko yang menggunakan sistem pembelajaran tradisional layaknya pesantren, musabab mata kuliah yang dua kali lebih banyak daripada Ta’lim Aly dan sulitnya mendapatkan nilai yang cukup untuk naik tingkat, jamak dari teman saya yang boyong (baca: keluar dan pulang ke Indonesia) karena tidak sanggup, atau memang tidak dinaikkan karena rata-rata nilai ujian yang tidak mencukupi.

Dengan jumlah matkul yang terbilang banyak—saya yakin empat belas makul per semester itu banyak, dan materi ujian yang setebal majalah, saya dan teman-teman yang lain menyadari bahwa kami tidak akan bertahan jika tidak punya kemampuan menghafal yang kuat, atau kemampuan tata bahasa Arab yang cakap, bisa-bisa kami juga berakhir seperti teman yang boyong tadi. Justru, dari mereka lah kami belajar, bahwa menghadapi ujian di Ta’lim Atiq harus disiasati dengan cara yang cerdik, saya tidak ingin mengatakan menyontek itu salah, melainkan hanyalah siasat belaka agar bisa bertahan di perkuliahan ini. Lebih lagi, tulisan ini nantinya bisa menjadi panduan sederhana bagi generasi mendatang yang melanjutkan studinya di Ta’lim Atiq.

Pertama, cobalah berkoordinasi dengan teman sekelas, kemudian menuliskan jawaban di papan tulis. Memang cara ini cukup ekstrem, karena kalau salah langkah sedikit saja bisa fatal akibatnya, caranya ialah dengan meminta persetujuan teman-teman di kelas, termasuk teman Maroko, untuk bisa menuliskan jawaban di papan tulis di depan, bisa dengan menulis poin-poin intinya saja, atau jika makulnya berupa bait, maka tulis baitnya saja. Saya sendiri mengetahui cara ini dari teman Maroko di kelas, dan ini terbukti berhasil.

Oiya, perlu diperhatikan juga siapa pengawas ujiannya, jika pengawasnya dosen pengampu makul, maka jangan coba-coba melakukan cara ini jika masih ingin melihat matahari esok, eh, maksudnya jika masih ingin bertahan, tapiii, jika pengawasnya selain dosen pengampu, maka beli gas di warung Mang Ipoel, GAS POELLL!!!

Kedua, menulis salinan jawaban di buku tulis dengan soft cover plastic yang dijadikan alas ujian, beruntung sekali kita sebagai mahasiswa lebih sering menggunakan binder daripada buku tulis Sinar Dunia atau Paperline, karena dengan binder bersampul plastik tembus pandang, kita kuat! LAH?

Apalagi, tidak banyak pilihan buku tulis di Maroko, kebanyakan berupa binder dengan hard atau soft cover, maka cobalah beli yang bersampul palstik dan tembus pandang, dan sangat elastis jika dilekukkan, karena jika sudah menulis jawaban di halaman terdepan secara ringkas dan padat, kamu bisa melekukkan sampulnya mengarah ke dalam, dengan begitu, tulisan tadi terlihat buram dan tidak terlalu jelas, tapi jika kamu menekannya hingga menempel kertas, tulisannya bisa kelihatan. Cara ini memang sudah cukup klasik di kalangan mahasiswa ta’lim Atiq, tapi masih worth it digunakan.

Ketiga, membuat salinan jawaban di kertas buram, sependek pengetahuan saya sih, di Indonesia hanya akan diberi kertas buram, jika pelajarannya berkaitan dengan perhitungan, jika tidak maka tidak akan dikasih, berbeda halnya dengan kampus Ta’lim Atiq di Maroko, semua makul akan diberi kertas buram buat coret-coretan, dan kertas buram itu biasanya diberikan dengan warna yang variatif, mulai dari merah, kuning, hijau, di langit yang biru … malah nyanyi. Tapi tujuan kertas yang berwarna itu adalah agar mahasiswa tidak bisa saling bertukar kertas buramnya.

Padahal, jika itu pun tujuannya, masih tetap ada celah, ya nggak? Iya, dengan membuat salinan di kertas buram itu jauh sebelum masuk ke ruang ujian dan diberikan kertas buram yang baru, cara ini memang cukup tricky, kita harus bertaruh dengan warna kertas yang akan diberi di kelas, jangan sampai salinan yang kita tulis di kertas buram berbeda warnanya dengan yang diberi di ruangan, biasanya, Ta’lim Atiq memberi dua kertas buram dengan warna yang berbeda, sehingga, mau tidak mau, kita harus tulis dua salinan di kertas buram yang berbeda pula warnanya, jika beruntung, maka berjalanlah dengan tegap saat mengumpulkan jawaban yang pertama, jika tidak, maka tunggulah ilham dari teman di sebelah.

Terakhir, Merekam suara (suara berisi jawaban) di gawai dan menambahkannya ke daftar putar khusus, cara ini adalah cara dengan peralatan terbarukan, dia sudah menyesuaikan dengan era globalisasi dan memasuki era Menyontek 4.0, dan hanya bisa dilakukan khusus di daerah dingin, saya tergagap ketika teman saya menemukan cara ini saat sebelum ujian Tafsir (dengan materi ujian satu surat Al-Quran), ia sudah berpikir keras dalam situasi berat yang menyudutkannya ini, sehingga berbuah hasil demikian.

Caranya sederhana, kita hanya perlu merekam suara kita yang tentunya sudah berisi jawaban, kemudian tambahkan rekaman tadi ke daftar putar musik yang hanya berisi rekaman jawaban, langkah selanjutnya kita hanya perlu mempersiapkan earphone portabel yang tidak mencuat keluar, seperti earphone Mi agar tidak menarik perhatian, saat di ruang ujian pakailah earphone tadi dan lapisi dengan kupluk, karena awal tahun masih termasuk musim dingin, memakai kupluk adalah hal yang wajar. Teman saya yang menemukan cara ini sukses mengelabui pengawas yang terkenal killer ketika mengajar.

Belakangan saya juga mengetahui, cara ini ternyata sudah digunakan mahasiswi Maroko di kota Casablanca saat ujian, dan kebetulan pengawasnya saat itu adalah kakak tingkat dari Indonesia, mahasiswi itu malah malah berkomunikasi dengan temannya yang lain dengan earphone portabel itu. Ia melapisinya dengan jilbab dan cadar. Sayang, usahanya masih gagal disebabkan belum berpengalaman dan jam terbang yang kurang.

Dan itulah pedoman-pedoman sederhana menyontek ala mahasiswa Ta’lim Atiq yang, nyata-nyatanya nggak sederhana sama sekali, tapi ya sudah, namanya juga manusia, tingkat kesederhanaan seseorang kan berbeda-beda. Di luar itu, saya menulis ini hanya sebagai humor saja, tapi, jika ada yang menganggapnya serius dan tercerahkan dari sini, ya silahkan, semoga mereka yang tercerahkan dan yang ingin melanjutkan kuliah di Ta’lim Atiq bisa sukses mengerjakan ujian. Khususnya ujian yang materinya tidak ramah bagi kemampuan mahasiswa yang pas-pasan.

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *