Prodeo: Sebuah Ambisi Pribadi

Saya menyerah untuk menulis, saya pernah sampai di fase jumud, tak ingin membaca atau menulis apa-apa lagi.

Pada suatu sore di tahun lalu, sehabis asar saya keluar rumah, dan seperti yang sudah-sudah, saya entah hendak menuju ke mana (belakangan saya membaca bahwa keluyuran tanpa tujuan ada istilahnya dalam budaya Perancis: flâner). Rumah rasanya sepi, ada delapan penghuni yang seharusnya tinggal di sana, tapi dua orang sedang urusan bisnis mengantar tamu, dua orang lain belum pulang kuliah, dua lagi sibuk bertempur habis-habisan di medan perang virtual, seorang sisanya keluar entah ke mana, dan tinggallah saya.

Saya memutuskan pergi, menyusuri jalur yang biasanya saya lewati kuliah, melipir ke arah swalayan depan kampus, dari sana lalu tembus ke Café Ara. Kalau sudah kepalang bingung hendak ke mana lagi, saya selalu berlabuh ke kafe. Saya masuk dan keluar dari Café Ara tanpa memesan apa-apa, setelah sekilas mengecek keberadaan teman saya yang sejak tadi hengkang dari kamarnya. Kalau tak menemukannya di Café Ara, pastilah ia sedang memaku bokongnya di Café Charam Cheikh, saya segera menyusul ke sana.

Benar saja, Udin anteng di dalam, kakinya diangkat ke kursi, disenderkan ke meja. Dan biar saya ceritakan, apabila ia pergi, selain mengantongi Iphone 5s yang baterainya sudah haram jadah hingga harus diakali dengan mengurangi kecerahan layarnya, Udin selalu membawa buku. “Daripada tiap ngopi ditinggal main hp, mending baca buku,” begitu kira-kira ia berdalih. Saya lupa ia membaca buku apa sore itu, tapi melihat saya datang dan duduk di sebelahnya, segera saja buku itu digeletakkan di atas meja.

Pesanan café au lait saya datang, setelah menyisihkan buih putihnya ke asbak, saya memotek sebongkah gula kotak, dan mencampur setengahnya ke kopi susu saya. Udin pesan café noir, hitam pekat, dan seperti sudah-sudah, selalu tanpa gula. Saya curiga ia diam-diam mengidap diabetes dan mengurangi takaran konsumsi gula. Saya bisa bercerita satu bab penuh tentang Udin, banyak ingatan bersikut-sikutan saat mengenangnya sebagai teman, tapi sekarang saya takkan berlarut-larut menceritakannya.

Sore itu, sudah berjalan hampir setengah tahun sejak Udin dan Sajid mengajak saya bergabung kembali dalam sebuah konspirasi kecut. Sejujurnya saya heran, gejolak mereka masih bergeliat, untuk sesuatu yang saya rasa takkan banyak menguntungkan mereka. Saya membayangkan mungkin gejolak ini akan menghasilkan, tapi penghasilan yang saya bayangkan, adalah sebagaimana yang diterangkan Felix K. Nesi dalam novelnya Orang-orang Oetimu, cukup untuk bertahan hidup, tapi tak cukup untuk hidup sebenarnya.

Mereka mengajak untuk, lagi-lagi, mendirikan sebuah gerakan literasi. Saya mendengarkan presentasi mereka di kafe yang harga segelas kopinya mencapai 27 dirham, demi untuk melihat garis muka mereka yang seperti aktivis ’98 sedang beragitasi. Baiklah, saya pikir mungkin ini tidak akan sama seperti yang terakhir kali (di mana rencana kami bubar jalan). Udin bahkan sudah menamai wadah baru ini dengan nama yang ia yakini ilham surgawi, Prodeo, amboi. Saya teringat hotel prodeo, istilah yang orang-orang pakai untuk menyebut penjara. Sepertinya kedengaran suram.

Udin bilang, Prodeo bisa berarti cuma-cuma, arti yang bagus untuk langkah awal kami yang tentunya takkan mendapat honor. Prodeo juga bisa berarti “karena Allah”, sungguh menggugah sisi-sisi spiritual bukan? Saya mengangguk-angguk seperti kerbau habis dicucuk hidungnya. Dan sudah lewat beberapa bulan sejak saat itu, kami berdua, saya dan Udin, duduk meratap di sudut-sudut Café Charam Cheikh yang agak lengang karena tak ada jadwal tanding bola.

Setelah diam beberapa saat dan mengatur bahan obrolan masing-masing, Udin mulai menanyakan perihal website Prodeo yang saya janjikan akan rampung dalam tempo sesingkatnya, sesempatnya. Orang yang ngurusin website sedang banyak kerjaan, dan pesan-pesan saya belum sempat dibalas lagi, begitulah saya beralasan. Kami menyesap kopi masing-masing.

“Dijadiin loh Mbut, harus jadi yang ini, Sajid juga udah ngarep-ngarep,” lanjut Udin lagi, dengan penuh pengharapan di tiap kata. Saya tak bisa menyebut tanggal, saya tak pandai berbual janji, tapi saya meyakinkan Udin bahwa saya juga sama resah dan berharapnya kepada Prodeo ini. Kami semua menaruh harap yang sama, begitulah yang terjadi.

Sejujurnya malah Prodeo ini sudah menjelma jadi ambisi saya pribadi, semacam sebuah upaya untuk membalaskan dendam kesumat dengan cara yang tak harus berurusan dengan jaksa dan hakim. Begini kisahnya, dan ini serupa yang saya ceritakan kepada Udin sore itu, saya punya dua buku puisi lewat jalur penerbit indie, dan yang seperti itu saya selalu bilang bahwa saya hanya mencetak buku dengan tambahan ISBN. Tapi orang-orang batu di sekitar saya selalu menyanjung saya dengan pujian-pujian, dan memanggil saya sebagai seorang penulis. Yang demikian itu bikin kepala saya mendidih, dan membuat saya harus tersenyum palsu menanggapi kehebohan mereka.

Ada seratusan buku puisi yang teronggok jadi bangkai di gudang rumah, dan saya rasa tak juga akan habis, itulah buku saya. Suatu hari saya diundang mengisi acara untuk komunitas jurnalistik di salah satu kampus Surabaya, yang mengundang adalah seorang teman, saya tak bisa menolak. Karena nantinya akan berbicara seputar sastra, saya membawa sekalian lima buku puisi saya, dengan harapan para peserta yang hadir akan antusias membeli buku karya narasumbernya, hitung-hitung untungnya nanti bisa sedikit menutupi ongkos transportasi dari Jakarta-Surabaya.

Saya memulai materi sekitar jam 4 sore di salah satu halaman kampus, dan mengakhirinya setelah azan magrib bertalu-talu. Di akhir itu saya tunjukkan buku puisi saya, beberapa puisi sempat kami interpretasi sebelumnya, kemudian sambil mengangkat lima buah buku kaku itu ke atas, saya memberi kode, “Saya gak bisa bawa banyak-banyak, cuma ada lima. Karena ini hari baik, akan ada potongan harga buat yang berminat.” Hening. Oh, saya rasa mereka ingin tahu harganya dahulu. “Hari ini jadi 35 ribu,” seloroh saya, hening. Teman yang mengundang saya diam. Dua puluhan peserta hanya memandangi saya dan buku puisi saya. Karena sudah kadung nyebur, saya tidak bisa mundur lagi. “Baik, kalau begitu buku ini saya tinggal buat perpustakaan kalian aja ya.” Sungguh magrib itu saya seperti seorang Santo yang berderma kepada pengungsi dari luar kota. Saya bukannya merasa rugi, bukan sama sekali. Saya merasa malu, duh malunya.

Tiap saya pulang ke rumah, dan melihat kardus berisi tumpukan buku puisi itu, saya merasa getir sendiri. Saya berhenti menjualnya kecuali ada teman yang tiba-tiba memesan. Dan yang model begini ini orang-orang asal menyematkan panggilan sebagai seorang penulis, sialan. Tapi saya bukan hanya menulis puisi, saya juga mengarang cerpen dan esai, meski keluaran paling banyak saya ya puisi tadi. Sebagai orang yang menulis esai dan cerpen, saya pun merasa gagal, hina.

Beberapa tulisan saya memang naik di beberapa media daring, dan lagi-lagi, orang-orang batu itu selalu berpikir saya ini penulis, yang dari hasil tulisannya di media-media itu meraup honorarium cukup untuk makan sebulan, bah! Nyatanya, saya mengakui ke Udin, esai-esai saya hanya dimuat di media yang tak memberi upah, alias siapa saja bisa menulis di sana asal mau, sama seperti menulis status facebook. Saya tak pernah berhasil menembus media-media dengan kurasi yang memadai. Puas? Jadi tak ada serupiah pun yang saya hasilkan dari esai-esai itu, juga cerpen yang bolak-balik ditolak media.

Saking seringnya ditolak, saya tak menghitungnya lagi, dan mulai menghafal segala template penolakan dari tiap media, Mas Agus yang baik, terima kasih sudah mengirim tulisan, kami sudah membacanya blablabla, lalu ditutup begini: tapi sayang sekali tulisan Anda belum bisa kami muat. Saya jadi risih dibilang baik, dan tiap ada yang mengucapkan terima kasih, saya selalu berpikir yang tidak-tidak.

Seperti api yang menemukan tungkunya, Udin selama ini rupa-rupanya juga menjalani hal laknat yang serupa, dan menyimpannya seorang diri. Ia lantas menceritakan hal-hal yang sama, penolakan-penolakan oleh media, gaya bahasa yang mereka pakai untuk menolak halus, diselingi umpatan-umpatan cuk, asu, sebagai spasinya. Seiring itu kami menyadari sedang melaju di atas kapal yang sama, menerjang badai yang sama pula, dan betapa nasib ini pula yang mengumpulkan kami berdua di Café Charam Cheikh sore itu.

Saya menyerah untuk menulis, saya pernah sampai di fase jumud, tak ingin membaca atau menulis apa-apa lagi. Karena membaca membuat saya kecil hati, malu, dan iri, sementara menulis semakin membuat saya bersaksi atas kemandulan tulisan saya dibandingkan orang lain. Mengapa mereka bisa menulis seperti itu, mengapa saya menulis seperti ini, mengapa mereka diterima media, mengapa saya tidak. Pada akhirnya saya melihat orang-orang lalu-lalang melewati saya, dan pengetahuan saya ikut mati bersamaan dengan saya berhenti membaca dan menulis.

Butuh waktu lama sebelum akhirnya saya memutuskan untuk membaca lagi. Dan tulisan yang membuat gundah hati saya karena berdebar saat membacanya adalah Jakarta, Kenapa Kita Tidak Berdansa? oleh Dea Anugrah. Saya hampir saja menangis, bukan karena isinya yang sentimentil, tapi betapa saya membayangkan butuh waktu berapa lama dan pengalaman berapa banyak lagi, sebelum saya bisa menulis seelok demikian itu?

Menunggu sampai saat itu tiba, mungkin butuh waktu selamanya, dan saya tak bisa hidup selamanya. Saya akan keburu mati, dan jika terus menunggu, hilanglah segala yang ingin saya tulis. Mungkin saya agak berlebihan, tapi Prodeo datang seperti juru selamat. Saat ditawari untuk bergabung ke Prodeo itu, saya sejenak berpikir, kalau tak ada media yang mau memuat tulisan saya, mengapa tidak saya buat media sendiri? Dari sanalah Prodeo jadi ambisi pribadi saya, dan upaya membalas dendam kesumat yang bercokol di ubun-ubun. Udin bahkan lebih edan lagi, dia bilang,

“Nanti kita buat penerbit sendiri, kita bebas terbitin buku apa pun yang kita tulis.”

Lalu begitulah, meski terseok-seok dan babak belur sampai saya menulis ini, Prodeo akhirnya siap dilahirkan, meski mungkin masih prematur. Saya bisa melihat ini akan jadi perjalanan yang panjang dan melelahkan, atau sebenarnya saya hanya sedang meyakinkan diri saya sendiri, bahwa ini takkan menjadi perjalanan singkat yang lantas kukut di tengah jalan. Saya ajak Anda sekalian untuk menjadi saksi, skenario mana nantinya yang akan jadi kenyataan.

Hajib, Januari 2020

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *