Proses Pengarsipan Ingatan: Sehimpun Puisi Fahruddin Al Mustofa

Dua puluh empat tahun ia berkerja tak kenal lelah. Menanti pensiun panjang; di peti mati, semua ingatan menguar, entah berupa bau busuk atau peluang konyol untuk dikenang.

Proses Pengarsipan Ingatan

Dalam kepalaku terdapat tumpukan kardus, kotak-kotak tersusun dan bertumpuk, berisi kenangan dan ingatan. Sementara kaca yang mengelilingi setiap sudutnya, memantulkan bayangan menjadi layar tancep dua puluh empat jam. Bahkan ketika tidur, ia tetap bekerja, merekam ibu memasak sayur asem, sambal, dan ikan tongkol, menengok ayah yang tidur sambil ngorok, atau menyaksikan dua adikku berebut remote tivi.

Tengah malam Freud mendatangi mimpiku. Ia tampil kurang sehat, di sela jambangnya terlihat sisa kokain. Tiba-tiba aku dihipnotis, dalam mantranya, ia menyuruhku jadi cicak. Lantas tubuhku mengecil dan lentur, tulang belakangku lenyap. Ada ekor bergeol-geol di sekitar pantat. Mataku menjadi sedikit lebih tajam, yang sebelumnya mines 3. Aku bertemu kumbang hitam yang bersembunyi di lipatan bantal. Kami terlibat obrolan kebingungan. Ia bisa bicara dan aku paham apa yang ia katakan. Sejak itu kami berteman. Ia menyebut dirinya Gregor Samsa.

Kepingan hitam terus berputar. Pita kaset masih saja menggulung. Tak ada yang boleh terlewat dari proses pengarsipan ingatan. Dua puluh empat tahun ia berkerja tak kenal lelah. Menanti pensiun panjang; di peti mati, semua ingatan menguar, entah berupa bau busuk atau peluang konyol untuk dikenang.

2020

Mengapa Aku Membaca Buku Dengan Kayang

The Doors tidak cukup menghiburku. Ia terlalu banyak selebrasi rhitym. Kucari-cari Pink Floyd dalam tumpukan baju kotor. Sempak bolong lima belas ribu dapat tiga, sarung batik bekas mengelap tumpahan kopi, kaos dengan kepala Rendra yang lebih mirip bapaknya Nobita. Belum juga kutemukan apa itu ketenangan.

Alhasil ide itu muncul. Ariel pernah menyanyikannya, “kaki di kepala, kepala di kaki.” Dunia memang sedang terbalik. Dikocok sedemikian rupa oleh teori-teori post truth yang memuakkan. Dibumbui merica dan sedikit konspirasi, tentu semakin voila. Di sudut kamar, paling pojok, setumpukan buku memanggil-manggil. Ia ingin disetubuhi. Meraung-raung, menawarkanku sebuah kepuasan. Bukan, aku hanya ingin ketenanangan. Posisi sekarang sudah terbalik. Buku-buku itu mulai berada di atasku. Ia mengambil kendali. Dipaksa aku menungging. Aku menjerit, bukan ini yang kumau. Ia terus saja menjejaliku dengan setumpuk kebohongan. Semakin kencang aku berteriak. Ia mengangkat tubuhku, kepala menggantung ke bawah, sementara kaki bergerak dengan leluasa. Diam-diam aku menikmati setiap rangsangan, kepalaku mendadak damai, otot-ototku mengendor. Kulihat diriku melalui kaca spion, bak domba kecil kurus digantung  dikuliti jagal, tapi senyum itu, tanda kenikmatan.

Kertas-kertas itu membungkus tubuhku yang telanjang. Ia melumuri ujung rambut hingga kuku-kuku kaki dengan minyak zaitun. Kepasrahan adalah bentuk perlawanan paling akhir. Sebelum kematian menunjukkan batang hidungnya, ijinkan persetubuhan ini selesai. Hanya itu yang aku ingin.

2020

Gara-gara Dickens

Dua orang dalam satu badan bertengkar hebat. Satunya kesal mendengar Charles Dickens berbisik tepat di daun telinganya, “Seharusnya kita malu, dengan air mata kita sendiri.” satunya lagi bersorak, ia sudah bosan dengan tangisan, air mata hanya untuk pesakitan. manusia sudah sakit jiwanya, lantas untuk apa lagi air mata.

“Kau terlalu naif. Bahkan untuk dirimu sendiri.” Sangkal saudaranya. Dickens bukan tidak pernah menangis, ia malu pada dirinya sendiri. Ia bahkan tidak menyayangi dirinya.

“Jaga itu lisan. Kau bahkan seperti yang kau ucap barusan.” Keduanya masih berdebat. Duel mulut satu lawan satu. Padahal mulut mereka satu, tubuh mereka satu, perasaan mereka beragam, begitu banyak aku dalam satu tubuh.

2020

Konspirasi Kosong Dua Lima Tujuh

Pukul dua empat dua. Hening mengeja huruf-huruf tepat di telingaku. Sepi membaca malam dengan lantang dan sinar telepon genggam menerangi kedua bola matakudengan lacurnya. Belum sempat tertidur, kudengar tetangga bunuh diri, meloncat dari loteng. Mobil sayur menabrak tubuhnya dan kepalanya terekstrak menjadi jus semangka.

Kegaduhan mendadak lenyap. Semua itu berpusat di kepalaku. Lidah yang terbakar, mata terkena minyak panas saat goreng ikan kaboela, tetangga atas rumah yang selalu sigap membuka pintu. Buku-buku di rak membaca dirinya sendiri, merapal dengan sumbang pembantaian berdarah negara, hantu enam lima, pembakaran arsip sejarah, betapa mautnya korek api hasil nguntit di tongkrongan bagi perkembangan sejarah nasional Republik Indonesia yang terus menerus dikarang dan ditutup-tutupi.

Sudah ada yang bilang, biang keladi dari semua ini hanyalah elit global tak kasat mata. Hanya indigo, Kang Ujang dan Ponari yang mampu melihatnya dengan mata sapi. Katanya menguasai dunia hanya butuh menggerakkan jari telunjuk untuk ngupil. Kiranya cukup untuk konspirasi hari ini: 02:57, kuakhiri dengan baca doa tidur. Tak lupa cuci kaki, pesan ibu yang menjadi dongeng abadi sebelum tidur.

2020

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *