Pusara: Sehimpun Puisi Ardhi Ridwansyah

Di tubuhmu, aroma bangkai, / Parfum kesucian! / Dan bau kembang adalah, / Ungkapan kesedihan!

Momen Tragis

Sayap kupu-kupu terbakar,
Lalat hijau terlelap di atas bangkai,
Yang dijilatnya sendiri, dan tatap nanar,
Tanah gersang, mentari mendengus geram,
Sinar terik mencabik jalan,
Pantulkan kesakitan dan naif,
Yang menginap di sela hati.

Kerontang sudah mawar,
Melati membuat puisi,
Mendekap diri yang mati.
Sedang daun-daun lelah,
Dan memilih bercumbu,
Pada rindu yang limbung.

Hanya derai air mata,
Dan tawa, membelai jiwa,
Di satu titik ia saling menerkam,
Pada waktu lain, ia meranggas.
Jatuh di antara untaian masa,
Membangkai kala ajal tiba.

Jakarta, 2021

Pusara

Sayang, pada ujungnya,
Harapan akan bercumbu,
Dengan tanah dan belatung,

Di tubuhmu, aroma bangkai,
Parfum kesucian!
Dan bau kembang adalah,
Ungkapan kesedihan!

Jakarta, 2021

Keraguan

Bersama kopi, kau tegas,
Menatapku lalu memagas,
Segala keraguanku.

“Cium aku seperti kau,
Menghirup semerbak mawar,
Yang tumbuh dengan tegar.”

Serasa waktu terhenti,
Namun jantung terpacu,
Berdetak memekis rindu,
Yang sembunyi dengan wajah sendu.

“Keraguanmu adalah neraka,
Yang tersimpan dalam bola mata,
Terdapat cinta yang tersiksa,
Kau terus menginjak-injak rasa,
Yang harusnya bebas berlari,
Ke sana, kemari, kegirangan.”

Butir keringat menetes,
Ibarat waktu yang mendesak,
Daku untuk bicara tentang kata,
Yang sukar tertata.

“Kau menusuk sepasang mata,
Dengan jarum jam yang geram,
Pada diri seorang peragu.
Dan kehilangan segala rindu,
Yang mestinya dapat digenggam,
Mungkin hingga kau jatuh,
Di pangkuan semesta.”

Kuteguk kopi yang sekarat,
Sedang hatiku sarat bimbang,
Berlayar dengan rapuh dan hancur,
Dihajar gelombang.

“Kau tunduk dengan ragu,
Mengizinkan kepalamu,
Ditendang sang waktu.”

Dia pergi…

Jakarta, 2021

Monumental

Gagak bertengger di jemala,
Jeritan duka mengundang kelam,
Para jiwa remuk, dan lebur,
Di perut yang rintih,
Berbiak kasih yang tersisih,
Dari hati yang kini tak suci.

Bulan berkabut, langit mencekam,
Di sudut kamar, buku-buku telah kaku,
Kata hanya aksara tak bermakna,
Dan janji berakhir dengan luka menanah.

Secercah cahaya, dari mata,
Yang malu-malu mengungkap cinta,
Akhirnya akan sayu dan layu.
Tiada rindu yang bertemu,
Di pangkal rasa begitu syahdu.

Hanya puisi dan doa,
Bertahan dalam kubangan lumpur,
Dan melumuri tubuh dengan harapan,
Dengan ratapan, kehidupan dan kematian,
Berjabat tangan di satu waktu,
Yang tepat; keabadian!

Jakarta, 2021

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *