Reduksi Penutur Arab di Maroko

Bukankah bahasa diciptakan salah satunya untuk menimbulkan diskursus? Jika diskursus tidak ada, untuk apa manusia menjadi makhluk komunikatif?

Dalam sebuah keperluan untuk pergi ke klinik, teman serumah saya, terkesiap musabab tidak satu orang pun, dalam berdialog, memahami—juga menanggapi—ucapan teman saya yang dilontarkan dengan bahasa Arab Fushah, bahasa nasional pertama Maroko.

Hal ini membuatnya heran, adalah anomali jika penduduk suatu negeri tidak memahami bahasa ibunya sendiri. Sesaat kemudian, teman saya akhirnya mendapati salah satu orang yang “cukup mahir” menggunakan bahasa Arab Fushah, meskipun masih terselip bahasa Darijah (bahasa daerah).

“Kenapa kalian lebih sering menggunakan bahasa Perancis, negara penjajah kalian, dibanding bahasa Arab? Kami masih tetap menggunakan bahasa Indonesia, meskipun sudah dijajah Belanda ratusan tahun,” tanya teman saya.

“Syarat untuk bisa bekerja secara resmi di sini adalah mahir berbahasa Perancis, dengannya kami bisa memahami materi kedokteran, lalu bekerja di sini.”

Lebih lanjut, di bidang pendidikan juga mengalami hal yang serupa. Silabus perkuliahan Maroko, khususnya ta’lim atiq, masih jamak yang tidak menggunakan Arab Fushah dalam proses belajar mengajar, baik pengajar maupun murid tetap getol berkomunikasi dengan bahasa daerah, Darijah.

Walaupun, pernah suatu kali, teman saya meminta syeikh yang mengajar dengan bahasa Darijah itu untuk mengajarkan dengan Arab resmi selama pelajaran, alih-alih mengindahkannya, beliau malah menyuruh teman saya untuk membaca kitab kuning yang dipelajari saat itu.

“Jika ingin Arab Fushah, coba baca kitabmu, bukankah isinya Arab Fushah semua?” Begitu kira-kira jawaban dari syeikh.

Jika demikian, buat apa saya belajar bahasa Arab, kalau nantinya hanya dipakai untuk memahami isi teks kitab? Padahal kita tahu, untuk memahami substansi dari teks kitab kuning, tak cukup bermodal dengan dua disiplin ilmu; Nahwu dan Shorof. Perlu lintas disiplin ilmu dan penjelasan dari guru yang memahami konteks dari kitab itu.

Buat apa belajar bahasa Arab, kalau nantinya kekuatan manusia dalam menciptakan tatanan khayali (imaginary order) tidak dapat bekerja dengan optimal karena kecacatan kita mendayagunakan bahasa? Bukankah bahasa diciptakan salah satunya untuk menimbulkan diskursus? Jika diskursus tidak ada, untuk apa manusia menjadi makhluk komunikatif?

Satu hal yang saya tidak setuju ialah masyarakat Maroko menggunakan bahasa Perancis atau daerah seperti bahasa utamanya, dan memarginalkan bahasa Arab, seperti bahasa kedua, atau ketiganya. Meskipun bahasa Darijah terbentuk dari dialek orang-orang Amazigh (orang Berber yang menjadi pribumi di Maroko), Arab, dan Eropa (Perancis, Spanyol, Latin) yang dulu menjajahnya, tapi itu semua hanyalah bahasa daerah dan bukan resmi, tidak mungkin menggunakan bahasa daerah sebagai pengantar di pendidikan, atau bahkan pemerintahan, sebagaimana kita tidak bisa menggunakan bahasa Minang, Jawa, atau Bugis di perhelatan resmi.

Hanya kalangan tertentu, seperti akademisi, yang mampu menuturkan bahasa Arab dengan baik dan benar, selainnya, hanya segelintir orang yang kompeten berbahasa Arab.

Namun, melihat fenomena silabus perkuliahan tadi, bukan tidak mungkin kalangan akademisi pelan-pelan juga tidak mampu bertutur Arab dengan baik, dan hanya mampu sejauh memahaminya saja.

Di Indonesia, kita juga acap kali mendengar orang yang keinggris-inggrisan dalam bertutur, meskipun hanya sebatas komunikasi sehari-hari, hal tersebut sangat memprihatinkan jika intensi penuturnya hanya untuk bergaya dan merasa bahasa Inggris lebih berpamor dibanding bahasa Indonesia dan daerah. Padahal, karena kejahilan mereka sendirilah yang membuat bahasa Indonesia kalah pamor dan tidak keren, bahwa Indonesia juga punya padanan dan kosa kata yang variatif dan aktual.

Beda halnya jika intensi penuturnya untuk belajar, karena dimana pun orang-orang yang belajar bahasa baru pasti akan mencampur-campurkan bahasanya. Begitu pula yang bertujuan untuk menginterpretasikan maksud, atau memang tidak tahu padanan katanya, karena bukan hanya perbandingan jumlah kosa kata bahasa Inggris dan Indonesia yang terpaut jauh, tapi juga fungsi bahasa secara besar kan untuk komunikasi, ekspresi, dan juga sosial.

Tak heran, jika Ivan Lanin, seorang wikipediawan sering mengetengahkan—juga mengajak—masyarakat medsos untuk berbahasa Indonesia secara menyeluruh. Salah satunya dengan cara mencari padanan suatu kata dari bahasa asing yang tak banyak orang-orang tahu.

Termasuk dari usahanya, ia merilis buku Xenoglosofilia sebagai bentuk perhatiannya pada bahasa Indonesia yang mulai terjangkiti perangai keinggris-inggrisan, terutama komunikasi sehari-hari kaum urban.

Setelah saya observasi lebih lanjut, xenoglosofilia berasal dari kata Yunani ξένος (xenos) “aneh” dan γλῶσσα (glōssa) “bahasa”, yang berarti bahasa aneh.

Kendati demikian, psikiater dan para psikolog terkenal seperti Ian Stevenson mengungkapkan Xenoglossy bukan hanya untuk “ceracauan” yang sepenuhnya menggunakan bahasa yang tak dipahami oleh pengucap atau penulis—karena di bawah pengaruh gangguan kejiwaan yang kompleks, tapi juga untuk ceracauan yang menyisip dalam bahasa sehari-hari.

Indonesia dan Maroko sama-sama mengalami reduksi penutur dalam berbahasa, hanya beda penyebabnya, Indonesia karena ingin tampak keinggris-inggrisan, Maroko karena jarang yang menggunakan.

Wahai dua negara yang berdaulat, kalian seharusnya tidak hanya waspada pada pandemi yang menguji kita, tapi waspada juga pada bahasa ibu yang mulai mendekati kepunahan penuturnya.

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *