Sastrawan Santri: Memanusiakan Manusia Sejak dari Pesantren

Munculnya novel Hati Suhita, menjadikan sastra pesantren semakin dikenal dan menjadi bahan diskusi di mana-mana. Setelah novel itu muncul, mulailah bermunculan novel-novel serupa tentang pesantren.

Seorang kawan dengan semangat menceritakan pengalamannya membaca Hati Suhita karya Khilma Anis. Ia bercerita detil demi detil bagaimana kehidupan Alina Suhita yang penuh kesabaran membawa prinsip mikul duwur mendem jero. Bersamaan dengan itu, ada banyak cerita yang bikin ia sakit hati. Membaca Hati Suhita, berarti harus siap hatinya terombang-ambing dengan kebahagiaan dan penderitaan. Khilma Anis sukses membawa para pembaca masuk ke dalam cerita yang ditulisnya.

Sastra Pesantren

Munculnya novel Hati Suhita, menjadikan sastra pesantren semakin dikenal dan menjadi bahan diskusi di mana-mana. Setelah novel itu muncul, mulailah bermunculan novel-novel serupa tentang pesantren dan kehidupan di dalamnya. Seperti Dua Barista, Hilda, dan Diary Ungu Rumayah. Entah apakah sastra pesantren mulai berkembang atau ini hanyalah tren musiman belaka. Saya pribadi ingin sastra pesantren terus berkembang dan abadi.

Gus Dur sudah melihat fenomena sastra pesantren dalam esainya yang berjudul “Pesantren dalam Kesustraaan Indonesia”. Gus Dur menyebutkan, sebagai objek sastra, pesantren boleh dikata belum memperoleh perhatian dari para sastrawan kita, padahal banyak di antara mereka yang telah mengenyam kehidupan pesantren.

Lalu ia memaparkan nama-nama yang menjadikan pesantren sebagai objek sastra seperti Muhammad Radjab, Djamil Suherman, HAMKA, dan A.A Navis. Walaupun begitu, mereka belum dikatakan berhasil mengungkapkan hidup kejiwaan di pesantren. Mereka hanya menuliskan hal-hal yang dekat dengan Islam dan pesantren.

Sastra pesantren pun belum menemukan terminologi yang sesuai untuk menggambarkannya. Beberapa orang merasa, mengistilahkan sastra pesantren akan berdampak pada pengotak-kotakan sastra yang seharusnya bebas. Kemudian sastra pesantren dikaitkan dengan tiga hal seperti yang dipaparkan oleh Jamal D. Rahman.

Pertama, sastra yang hidup di Pesantren. Sejak awal, lingkungan pesantren sangat dekat dengan sastra. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya nadzom yang dikaji oleh santri seperti Alfiyah ibn Malik, Imrithi, Jauharul Maknun, dan sebagainya. Tidak lupa dengan manaqib dan maulid nabi yang selalu didendangkan setiap minggu.

Kedua, sastra yang ditulis oleh orang-orang pesantren (kyai atau santri). Tercatat ada beberapa sastrawan yang berlatar belakang santri seperti K.H. Musthofa Bisri, Ahmad Tohari, Emha Ainun Najib, Mahbub Djunaidi, K.H. Zawawi Imron, Khilma Anis, Najhaty Sharma, dan banyak lagi.

Ketiga, sastra yang bertemakan pesantren, seperti yang sering ditulis Ummi Kultsum, A.A. Navis, Buya Hamka, Aguk Irawan, Djamil Suherman, Abidah El-Khalieqy, Gus Mus, dll.

Dalam hal ini, saya lebih condong kepada poin kedua dan ketiga walaupun poin pertama tidak kalah penting dalam pembentukan jiwa sastra di kalangan para santri.

Sastrawan Santri

Jamal D. Rahman menyatukan poin kedua dan ketiga menjadi berkaitan dengan sastra pesantren. Di lain pembahasan, dua poin di atas berseberangan. Ada yang bilang bahwa sastra pesantren adalah sastra yang ditulis oleh seorang berlatar belakang santri. Yang lainnya bilang bahwa sastra pesantren adalah sastra yang menjadikan pesantren sebagai objeknya.

Jika kita menilik esai Gus Dur yang mengatakan bahwa penulis yang disebutkannya belum  berhasil mengungkapkan hidup kejiwaan di pesantren, maka menurutnya sastra pesantren adalah sastra yang menjadikan pesantren sebagai objeknya. Entah siapapun itu yang menulis, jika pesantren dengan segala kehidupannya dijadikan objek, maka disebut sebagai sastra pesantren.

Perdebatan-perdebatan panjang ini masih belum menemukan penyelesaian. Menurut Badrus Shaleh atau lebih dikenal dengan nama pena Raedu Basha dalam bukunya “Sastrawan Santri: Etnografi Sastra Pesantren”, sastra pesantren seolah sedang memburu definisi yang khas dan lebih konkret guna mengidentifikasikan diri sebagai aliran yang berbeda dengan terma-terma serumpun lainnya atas upaya memperkaya khazanah sastra dalam identitas santri pondok pesantren.

Akan lebih tepat jika kita menyebut sastrawan yang berlatar belakang santri dengan sebutan “Sastrawan Santri” seperti yang disebutkan oleh Raedu Basha. Saya merasa bahwa Raedu Basha dengan sengaja memberikan judul pada bukunya itu Sastrawan Santri untuk menyudahi perdebatan mengenai identitas sastra pesantren.

Buku “Sastrawan Santri: Etnografi Sastra Pesantren” sebelumnya merupakan tesis magisternya di Program Studi Antropologi Universitas Gadjah Mada yang kemudian mendapatkan pengharagaan Nusantara Academic Award (NAA) 2019 yang diselenggarakan oleh Nusantara Institute, bekerja sama dengan PT Bank Central Asia Tbk.

Buku itu membahas tentang relevansi sastra dalam dunia pendidikan santri di Pondok Pesantren Annuqayah, Sumenep, Madura. Mengapa sastra digunakan sebagai media formal dan non-formal di pondok pesantren, dan kapan aktivitas sastra digunakan sebagai media formal dan non-formal di pondok pesantren.

Santri yang sedari awal mondok sudah dikenalkan dengan karya-karya sastra berbentuk syair dan manaqib, seharusnya bisa lebih menghayati sastra dan kemanusiaan. Dengan membaca karya sastra, kita bisa melihat berbagai pandangan dan perenungan dari berbagai macam orang dan latar belakang.

Membaca karya sastrawan Arab, kita bisa melihat bagaimana bangsa Arab berdialog, menyusun kata yang indah dalam bunyi dan makna. Metafora-metafora bangsa Arab yang menakjubkan memperlihatkan bagaimana mereka begitu menghayati makna-makna dan tanda-tanda alam.

Tidak berhenti dari membaca sastra Arab, kita juga harus membaca sastra dari latar belakang yang lain. Membaca sastra dari berbagai latar belakang akan mengembangkan rasa toleransi kita. Menjadi manusia yang memanusiakan manusia yang lain.

Penulis berharap banyak, dari pondok pesantren akan muncul sastrawan santri yang lain. Tidak hanya menceritakan bagaimana kehidupan santri yang mengaji, ketakdziman terhadap kyai dan guru, tetapi juga menceritakan bagaimana mereka berinteraksi dengan berbagai macam latar belakang, hidup bersama walau berbeda suku, budaya, dan bahasa. Menceritakan bagaimana santri diajarkan memanusiakan manusia sejak dari pondok pesantren. Menceritakan kemanusiaan.

Tetouan, 21 Juni 2020

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *