Sebilangan Rindu yang Tak Kunjung Rabu: Sehimpun Puisi Kunoizzm


Sebilangan Rindu yang Tak Kunjung Rabu

Pemuda umur dua puluh satu
Sedang menunggu
Sebilangan rindu yang tak kunjung rabu
Karena liburnya kamis jumat tak sampai sabtu

Pemuda umur dua puluh satu
Memandangi layar ponselnya yang kata satu

Sepi

Ia tersenyum tertawa
Mematikan ponselnya
Lalu tetap menunggu
Sebilangan rindu yang tak kunjung rabu

“Maaf, hujan tak mengizinkanku
Melaksanakan kata: temu”

Kalimat ia baca tanpa mengangkat ponselnya
Memandang kaca jendela dan mendapati hujan di sana
“Espresso satu,” ucapnya
Kepada semakna barista

Adakah hari libur untuk rindu?
Kasihan ia lembur melulu
Tanpa gaji tanpa apresiasi
Bekerja di bawah tekanan hati

Tetouan, 2019

Helai Embun

Kacamata wanita yang duduk terdiam
di sampingku berembun akibat dingin
Ia masih lekat menyumpah serapahi
dunia lewat jendela kereta
melalui matanya
dan kacamata berembunnya

Aku bertanya pada hati
Ada berapa potret kehidupan dalam setiap helai embun di kacamatanya?
Ada berapa tangis?
Ada berapa dusta?
Ada berapa ketulusan?

Apakah masih ada cinta di kacamatanya?

Wanita itu masih lekat menyumpah serapahi dunia
Sumpah sampah!
Sedang aku masih lekat menatapnya
Menerobos kacamata berembunnya

Ada tangis meraung di malam sunyi kala patah hati
Ada tawa terbahak di malam sepi kala jatuh hati

Wanita itu bangun
mengambil ransel bersiap untuk turun
Berhenti di samping
tanpa menatapku

“Ada berapa tangis wanita yang kau buat
melalui mata itu?”
Dia pergi

Dia menatap bayanganku lewat jendela kereta yang basah karena hujan
Lewat kacamatanya yang berembun karena dingin
Lewat matanya yang merah karena patah

Rabat, 2019

Perih Bahasaku

banyak jalan menuju roma
banyak hujan dari mata
hemat pangkal kaya
rindu pangkal derita
sepandai-pandai tupai melompat, akan jatuh juga
sepandai-pandai aku menggoda, kau masih tak acuh jua
air susu dibalas air tuba
kasih sayang tak pernah berbalas cinta
tong kosong nyaring bunyinya
pikiran kosong bising kamunya
air beriak tanda tak dalam
air mata tanda cinta

peribahasaku adalah perih bahasaku
air matamu adalah akhir kutatap matamu

Tetouan, 2020

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *