Seperti Pasangan, Virus Corona Juga Butuh Dipahami

Sudah saatnya kita memahami virus corona seperti halnya mengerti dan memahami kekurangan-kekurangan yang ada di pasangan kita.

Entah dari mana datangnya, dunia yang saat ini kita tempati diserang partikel kecil tak kasat mata yang disebut dengan Novel Coronavirus (2019-nCoV). Virus ini berhasil meluluhlantakkan kondisi kesehatan dan ekonomi di seluruh dunia. Banyak nyawa hilang, baik masyarakat umum ataupun tenaga kesehatan.

Sementara di bidang ekonomi, kita lihat PHK massal beberapa bulan terakhir. Di Indonesia sendiri, dilansir dari CNBC Indonesia, Sekretaris Kemenko Perekonomian Susiwijono Moegiarso mengatakan, sudah sebanyak 3,05 juta orang pekerja di Indonesia yang terdampak (PHK dan dirumahkan) virus corona. Hal ini terjadi semenjak pandemi corona di Indonesia sejak 3 Maret 2020 lalu.

Kini, hampir seluruh negara di dunia (termasuk Indonesia) menerapkan kebijakan new normal, yang bisa dimaknai sebagai melakukan kegiatan-kegaiatan seperti sebelum pandemi, tetapi ditambah dengan protokol kesehatan (memakai masker, menjaga jarak, dan segala pembatasan lain). Ini dilakukan karena satu tujuan, yakni bagaimana tetap menjalankan roda perekonomian sekaligus menyelamatkan nyawa akibat pandemi Covid-19 ini.

Kebiasaan Kalangan Elit

Pemerintah Indonesia sendiri menekankan untuk masyarakat Indonesia harusnya tetap di rumah saja jika tidak ada kegiatan-kegiatan yang memaksakan masyarakat untuk meninggalkan rumahnya. Tentu saja himbauan pemerintah Indonesia ini tidak relevan dengan orang-orang yang harus meninggalkan rumahnya untuk bekerja agar tetap bisa mempertahankan hidupnya.

Kondisi ini sangat berbanding terbalik dengan orang-orang kaya, saya sebut saja dengan kalangan elit. Sekumpulan elit ini sebenarnya tidak harus keluar rumah untuk bertahan hidup, karena diam di rumah saja bagi mereka bisa jadi tetap akan mendapatkan keuntungan setiap harinya.

Namun beberapa kali ketika saya keluar rumah untuk membeli kebutuhan pokok, saya melihat cafe dan rumah makan mewah dipadati oleh masyarakat. Pastinya orang-orang di dalam berasal dari kalangan elit tadi, dengan mobil mewah berjejeran tepat di parkiran cafe dan rumah makan yang saya lewati itu.

Saya teringat dengan satu tulisan yang diterbitkan di Warstek, dalam tulisan itu ada satu penelitian yang diterbitkan oleh Association for Psychological Science pada jurnal Perspectives on Physchological Science edisi September 2012. Dalam penelitian itu didapatkan suatu fakta bahwa kebosanan adalah kombinasi dari kurangnya hormon kegembiraan dan juga adanya kondisi ketidakpuasan, frustrasi, atau tidak tertarik akan suatu hal, yang semuanya disebabkan oleh kurangnya sesuatu yang dapat menghibur diri.

Dari alasan itu saya meyakini bahwa mereka semua kalangan elit yang berada di sana bukan karena keterpaksaan, tetapi lebih karena bosan. Tidak mengherankan jika orang bosan dengan hanya berbulan-bulan tinggal di rumah.

Tapi apakah mereka tidak mengetahui, jika kondisi saat ini adalah pandemi, di mana virus ini tidak seperti mereka yang punya rasa bosan. Seperti kata Zizek dalam bukunya “Pandemik! Covid-19 Mengguncang Dunia”, ia mengatakan karena virus tidak berada dalam domain pengetahuan, partikel kecil itu adalah musuh yang menyerang dengan mereproduksi diri seperti otomatisme buta.

Untuk alasan itu, perlu juga menjadi catatan bahwa karena partikel kecil ini tidak punya pengetahuan sama sekali, maka ia akan menyerang siapa saja yang bisa diserang oleh meraka, tentu mereka tidak mengenal identitas apapun dari musuhnya. Entah musuhnya berasal dari Amerika, Inggris, ataupun Indonesia. Dan pastinya virus ini tidak memilih berdasarkan seberapa banyak kekayaan yang dimiliki manusia.

Sudah Saatnya Memahami Virus Corona

Perilaku abai dengan keluar rumah meski bisa di rumah saja menjadi salah satu penyebab masifnya penyebaran virus corona. Tidak hanya itu, kelakuan mereka juga jelas mempertontonkan ketiadaan penghargaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan.

Bagaimana bisa ketika di satu sisi banyak orang yang sebenarnya ingin tinggal di rumah, tetapi karena keterpaksaan mereka harus pergi keluar rumah untuk menyambung hidupnya, sementara di sisi lain ada segerombolan orang yang hanya karena bosan lantas pergi berkumpul dalam keramaian, ketawa-ketiwi, haha-hihi.

Saran saya, dibanding mengeluarkan uang hanya untuk meminum segelas kopi yang mahal di dalam cafe yang mewah, sebaiknya uang itu diberikan ke orang-orang, yang untuk kebutuhan hidupnya saja sudah sulit untuk dipenuhi. Atau seduhlah kopi di rumah!

Sudah saatnya kita memahami virus corona seperti halnya mengerti dan memahami kekurangan-kekurangan yang ada di pasangan kita. Kita tahu bahwa virus corona tidak punya pengetahuan apalagi persoalan moral dalam proses bekerjanya. Karena hal itulah tidak ada alasan lagi untuk tidak mempedulikan bahkan menganggap remeh hal ini. Kita wajib mengerti dan memahami tabiat virus ini, berikut akibat yang ditimbulkan.

Alih-alih membencinya, kita bisa memahaminya dengan sebenar-benarnya, bahwa ini adalah virus yang nyata, dan berbahaya. Dengan pemahaman itu, semoga kita akan bisa segera meninggalkannya, dalam tempo waktu sesingkatnya.

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *