Upaya dalam Menjaga Kesehatan Mental Selama Pandemi melalui Puisi

Melihat hal tersebut, puisi karya W.S. Rendra menjadi salah satu contoh penulisan untuk merefleksikan bahwa puisi merupakan jalan untuk mengekspresikan perasaan di dalam diri manusia

“Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan? Apakah artinya berpikir, bila terpisal dari masalah kehidupan?” –W.S. Rendra

Semenjak Covid-19 menyebar hampir di seluruh dunia, tidak terlepas Indonesia, hal ini menyebabkan kegelisahan dan kekhawatiran yang besar muncul di masyarakat luas terlebih dengan banyaknya korban yang diakibatkan oleh virus ini. Beberapa kebijakan untuk memutus rantai penyebaran dilakukan, seperti karantina mandiri di rumah. Akan tetapi, keadaan baru ini menyebabkan krisis baru, yaitu kesehatan mental. Dengan adanya pembatasan dalam bersosialisasi ini menyebabkan beberapa orang merasakan kesendirian, kemurungan, bahkan depresi .

Tidak banyak orang tahu bahwa puisi bisa mengambil bagian dalam upaya menjaga kesehatan mental selama pandemi Covid-19 berlangsung. Bahkan Makin (1998) dan Telerico (1986) mengatakan bahwa, pengembangan kekuatan dan ketahanan dapat didorong dengan menulis puisi dan penulisan kreatif lainnya. Selain itu, terlibat dalam proses penulisan kreatif dapat membantu memaksimalkan potensi individu.

Melihat hal tersebut, puisi karya W.S. Rendra menjadi salah satu contoh penulisan untuk merefleksikan bahwa puisi merupakan jalan untuk mengekspresikan perasaan di dalam diri manusia. Siapa yang tidak kenal dengan W.S. Rendra, seorang penyair dengan nama Willibrordus Surendra Broto Rendra yang dijuluki “Burung Merak” ini lahir pada 7 November 1935 di Solo, Jawa Tengah. Meskipun beliau telah wafat pada 6 Agustus 2009, karya-karya W.S. tetap hidup dan menjadi inspiratif dalam menulis puisi.

Puisi dengan judul “Pemandangan Senjakala” dan “Rick dari Corona” dalam antologi puisi “Blues Untuk Bonnie” karya W.S. Rendra menjadi ciri khas Rendra dalam menarasikan seorang Rendra yang optimisme dan romantik. Penyair yang menurut Sapardi (1999), kata dalam puisi yang dibuat Rendra adalah semangat mengembalikannya kepada bait atau kalimat utuh. Dengan ini, puisi-puisi Rendra mudah dideklamasikan.

Kegelisahan batin yang terdapat di dalam diri Rendra diungkapkan menggunakan pendekatan kontekstual dengan melihat keadaan yang terjadi di sekitarnya. Melalui puisi, W.S. Rendra menghubungkan hasil tulisannya dengan dunia luar (Luisya Kamagi, 2015).

Beralih ke upaya puisi dalam menjaga kesehatan mental selama pandemi, mengutip kata W.S. Rendra, “Kesadaran adalah matahari, kesabaran adalah bumi, keberanian menjadi cakrawala, dan perjuangan adalahh pelaksanaan kata-kata.” Di kota San Diego, California, Amerika Serikat, pemerintah setempat telah merencanakan sebuah program bernama “San Diego Poetry Together Challenge”. Tantangan ini berupa puisi sebagai cara untuk membantu masyarakat dalam mengungkapkan perasaan yang mereka alami selama pandemi. Demikian dilansir dari oleh NBC 7, San Diego.

Melihat contoh pelaksanaan program tersebut, tidak hanya para penggemar puisi, akan tetapi masyarakat luas dapat memulai untuk mengaplikasikan puisi ke dalam kehidupan sehari-hari. Berikut beberapa petunjuk yang dapat menjadi pertimbangan dalam  merencanakan program secara pribadi.

  1. Mencari. Apabila para pembaca sangat tertarik, akan tetapi masih awam dengan puisi, dapat memulai langkah dengan mencari informasi mengenai penyair-penyair dalam negeri maupun luar negeri. Hal ini dapat dilakukan melalui studi pustaka maupun internet.
  2. Membaca. Setelah melakukan pencarian dan mendapatkan penyair favorit, para pembaca dapat membaca puisi penyair tersebut.
  3. Mendengarkan. Apabila ingin mengetahui bagaimana suara yang dihasilkan dari tulisan penyair, pembaca dapat menelusuri kembali melalui internet. Akan ditemukan beberapa orang yang membaca puisi dengan versi masing-masing.
  4. Mencoba. Setelah itu, pembaca dapat mencoba menginterpretasi arti dari puisi-puisi tersebut. Apabila masih ragu, pendapat dapat dibagi dengan orang lain dan melakukan diskusi secara langsung maupun daring.
  5. Menulis. Para pembaca dapat melakukan latihan menulis dengan mendengarkan perasaan dan menuliskannya melalui kata-kata. Jangan takut untuk menulis, seperti kata W.S Rendra, “Kenapa ketakutan menjadi tabir pikiran? Kekhawatiran telah mencemarkan kehidupan. Ketegangan telah mengganti pergaulan pikiran yang merdeka.”
  6. Mengulang. Lakukan pengulangan untuk kegiatan sebelumnya agar terbiasa dalam menulis. Perlu diingat bahwa jangan berusaha untuk menjadi seperti penyair, jadilah diri sendiri dan tunjukkan bahwa hasil tulisan puisi tersebut merupakan cerminan dari pemikiran dan perasaan pembaca.

Adanya batasan dalam bersosialisasi di masa pandemi tentunya memberikan dampak bagi kesehatan mental. Untuk itu, sangat penting dalam menemukan sebuah cara dalam mengatasi rasa kesendirian agar terlepas dari keadaan. Dalam hal ini, mungkin puisi datang untuk menyembuhkan dengan kekuatannya melalui pendekatan di atas.

“Bukan maut yang menggetarkan hatiku, tetapi hidup yang tidak hidup karena kehilangan daya dan kehilangan fitrahnya” –W.S. Rendra

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *